Sejarah

AKHLAK KH. ACH ZAINI SHOLEH TERHADAP TOKOH-TOKOH BLATER-TOJING

KH. Ach Zaini Sholeh memiliki koneksi sosial yang luas. Hampir semua komponen masyarakat menjadi mitra strategis beliau. Beliau juga menempatkan posisi bajingan sesuai dengan martabatnya sebagai fenomena sosial.

Ketika menjelang hari besar Islam seperti hari raya, KH. Ach Zaini Sholeh tidak pernah lupa memberikan bingkisan dan THR pada masing-masing tokoh-tokoh bajingan. Kadang beliau mengutus khadam untuk membagi-bagikan pada mereka. Tapi tak jarang memberikan secara langsung.

Menurut sebuah informasi yang digali redaksi, beliau kadang memberikan THR berupa sarung BHS, Kopiah, dan sejenisnya. Tradisi ini terus berlanjut hingga generasi detik ini.

Makanya tidak heran jika sejumlah tojing merasa kehilangan setelah beliau wafat. Beliau menempatkan martabat tojing secara terhormat dan benar-benar merangkul mereka dengan penuh keikhlasan. Maka, berkat lobi dan sentuhan beliau, sejumlah tojing akhirnya bertaubat dan kembali menjadi pribadi yang agamis.

Ada suatu cerita, ada satu tojing yang gemar hiburan berupa alat-alat musik tradisional seperti gamelan Jawa. Dia biasa melakukan pertunjukan-pertunjukan musik disertai tarian-tarian seorang wanita.

Kehidupan dia sudah berlangsung cukup lama dan sudah berkali-kali diberikan pengertian agar segera bertaubat. Namun, cahaya hidayah belum jatuh ke relung hatinya. Maka, KH. Ach Zaini Sholeh hadir dengan pola pendekatan yang santun, humanis serta tidak melukai harga dirinya. Salah satu strategi yang ditunjukkan beliau adalah dengan mengutusnya untuk kebutuhan beliau. Hal itu beliau lakukan berkali-kali.

Dengan taktik yang elegan tersebut, KH. Ach Zaini Sholeh mampu mengetuk pintu hatinya dan dia segera bertaubat. Setelah itu, seluruh alat-alat musik tradisionalnya dijual dan dia benar-benar bertaubat. Berkat partisipasi humanisme itu, dia kelak sadar dan bertaubat.

Itulah salah satu metode dakwah yang disampaikan beliau. Dalam berdakwah beliau tidak bersikap sporadis dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan etika. Siapapun dia dan dari garis kehidupan manapun, tidak pernah beliau lukai harga dirinya. Itulah sebabnya, mereka senang pada metode dakwah beliau.

Dan mereka pun tidak merasa dihakimi dengan segudang ceramah-ceramah. Sikap yang ditunjukkan beliau adalah akhlak dan norma-norma sosial serta pendekatan humanistik. Dan itulah yang benar-benar mampu mengubah cara pandang dan kehidupan tojing itu.


Selain itu, untuk mempererat tali silaturahmi, beliau juga tidak lupa untuk melibatkan tokoh-tokoh bajing tersebut dalam mengelola masalah dan fenomena sosial. Mereka merasa takjub pada beliau karena masih menunjukkan kepedulian dan menghargai kedudukan para tokoh-tokoh blater itu.

Ketika ada acara-acara keluarga, seperti haul masyayikh, rutinitas HIMAKA dan lain-lain, beliau juga tidak lupa mengundang mereka bersama-sama dengan jajaran VIP. Mereka bangga karena telah dihargai oleh beliau.


Untuk menjaga stabilitas dan keamanan sosial, beliau biasa turun rembuk dengan tokoh-tokoh bajingan. Masing-masing pendapat tokoh-tokoh blater tersebut disimaknya dengan teliti dan diberikan kesempatan yang sama untuk menyampaikan pendapat.

Setelah menyimak pendapat disana sini serta mempertimbangkan prospek dan efektivitasnya, maka beliau mohon restu pada peserta sidang untuk mengambil keputusan final.

Dengan sistem demokratis itu, maka masing-masing tokoh-tokoh blater itu merasa rileks ketika bermusyawarah dengan beliau. KH. Ach Zaini Sholeh tidak menempatkan dirinya sebagai pemeran tunggal dalam mengambil keputusan. Beliau benar-benar terbuka dan fair sehingga keputusan yang beliau tetapkan diterima oleh semua komponen.


Ketika terjadi krisis sosial, keamanan terganggu dilingkungan sekitar, tidak jarang pada dini hari, KH. Ach Zaini Sholeh tiba-tiba harus memanggil tokoh-tokoh blater, untuk mengambil keputusan dan menyerap aspirasi mereka.

Narasi-narasi dalam episode ini, memang sama sekali tidak mengupas kiprah beliau perihal kepesantrenan karena topik analisisnya seputar lobi dan pendekatan beliau terhadap tokoh-tokoh blater.

Begitulah sosok Al-Maghfurlah KH. Ach Zaini Sholeh. Beliau memainkan peran ganda dalam sejarah hidupnya. Disisi lain, beliau adalah sebagai pemangku pesantren, kiai NU, mubaligh dan guru agama. Pada posisi ini, KH Ach Zaini Sholeh berperan sebagai kiai.

Namun, disisi lain, beliau berperan sebagai juru damai, sebagai mediator, serta sebagai pemimpin sosial. Jelaslah dalam diri beliau, tersimpanlah dua mutiara penting yakni mutiara sebagai kiai dan mutiara sebagai pemimpin masyarakat. Dari dua peran strategis itulah, KH. Ach Zaini Sholeh mampu mengombinasikannya dengan baik.

Untuk mengakomodir posisi tokoh-tokoh blater tersebut, KH. Ach Zaini Sholeh juga melibatkan mereka ketika tiba pada musim pemilu. Untuk menggoalkan misi beliau, tokoh-tokoh blater tersebut dilibatkan agar sama-sama bergerak sesuai dengan garis kebijakan beliau. Beliau juga memberikan kepercayaan penuh pada tokoh blater untuk berperan besar dalam pesta demokrasi.

Ketika ada masukan dan saran dari tokoh-tokoh blater untuk meraih kesuksesan dalam kontestasi, maka beliau memperhatikan betul masukan mereka walaupun tentu saja tidak semua mereka harus direspons karena beliau memiliki kalkulasi sendiri.

Salah satu perhatian beliau pada toko-toko blater, ada sebuah cerita menarik. Ceritanya adalah sebut saja tojing itu bernama fulan. Ia mengutus salah seorang tokoh sekitar untuk mengundang KH. Ach Zaini Sholeh dalam sebuah acara di kediamannya. Setelah tiba pada acara yang ditunggu-tunggu ternyata beliau tidak kunjung hadir.

Blater itu sempat emosional karena utusan itu lupa tidak mengundang beliau. Makanya wajar jika KH. Ach Zaini Sholeh tidak hadir pada acara blater itu karena memang tidak diundang. Sempat terjadi perdebatan antara tokoh blater dan utusan itu.

Tuan rumah merasa shok karena KH. Ach Zaini Sholeh sosok yang paling dikaguminya tidak hadir. Mengamati hal yang kurang menguntungkan, KH. Ach Zaini Sholeh mengambil keputusan penting. Beliau mendatangi tuan rumah tersebut dua hari kemudian. Dengan kearifan beliau tersebut, potensi konflik antara tuan rumah dan utusan yang disuruh mengundang beliau dapat teratasi.


Menurut penuturan salah seorang alumni, pernah ada orang yang gemar berjudi dan jarang sholat. Kehidupannya diwarnai dengan perbuatan maksiat. Akhirnya, orang tersebut diajak oleh salah seorang keluarganya untuk sowan pada KH. Ach Zaini Sholeh. Dia merasa panik dan menolak.

Namun, berkat dorongan dari beberapa keluarga dekatnya akhirnya iapun bersedia. Dihadapan KH. Ach Zaini Sholeh, dia diberikan wejangan-wejangan dan nasehat lembut. Ia memperhatikan betul nasehat beliau. Akhirnya, walaupun sebelumnya ia merasa gemetar, pelan-pelan mulai tenang dan mampu mengendalikan diri.

Berkat sentuhan beliau dan bimbingan halus, orang itu akhirnya bertaubat dan sempat naik haji. Dia juga memondokkan seluruh anaknya ke Karangdurin karena merasa takjub dengan kelembutan sikap beliau.

Begitulah KH. Ach Zaini Sholeh, beliau mampu mengatasi keadaan dan lihai mengambil keputusan strategis sehingga keadaan kembali normal. Kenapa KH. Ach Zaini Sholeh bersedia datang dilain waktu terhadap orang itu? Ternyata orang tersebut adalah tokoh penting bagi masyarakat sekitar dan disegani. Kedudukan itulah yang dijadikan dasar bagi beliau menghormati posisinya.

KH. Ach Zaini Sholeh juga menghormati kehormatan para tokoh-tokoh blater tersebut. Ketika ada keluarganya yang wafat, maka beliau buru-buru untuk segera mendatanginya. Beliau dengan ikhlas menghormati posisi blater itu. Beliau juga tidak pernah menggurui mereka.

Metode itulah yang membuat keadaan para tokoh-tokoh blater merasa rileks ketika berhadapan dengan KH. Ach Zaini Sholeh. Ketika tokoh-tokoh blater itu sowan pada beliau, kadang beliau memberikan uang transport. Hal itu membuat mereka merasa sangat rikuh dihadapan beliau. Namun, beliau juga merasa mendapatkan kehormatan dari beliau.

Pendekatan demi pendekatan humanistik yang dilakukan oleh KH. Ach Zaini Sholeh telah memberikan corak mendasar dalam berdakwah. Tipikal itulah yang digerakkan oleh beliau dalam berdakwah terhadap tokoh-tokoh blater dan ternyata dampaknya cukup menarik.

Sejumlah tokoh-tokoh blater menjadi bagian dari kehidupan beliau dan membentengi pondok pesantren dari potensi-potensi konfliks.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *