Artikel

AL-QUR’AN DAN HARI BUKU

Ada momen yang cukup spesial pada bulan april kemarin. Tanggal 23 hari kemarin merupakan peringatan hari buku sedunia, jatuh pada bulan puasa, bulan suci nan agung. Tepat pada bulan ini pula umat Islam memperingati turunnya Al-Qur’an sebagai sebagai pedoman hidup dan sebagai sumber inspirasi dalam segala hal.

Kalau peringatan buku setidaknya menyadarkan kita tentang pentingnya membaca, maka peringatan umat Islam pada turunnya Al-Qur’an juga kurang lebih sama, bahkan lebih. Sebab, surah yang turun dari Al-Qur’an pertama kali sudah mengingatkan manusia secara langsung tentang pentingnya membaca (iqro’). Hal ini setidaknya memantapkan gerak kita untuk membaca, membaca dan terus menerus membaca.

Jadi pada bulan April ini, disamping merupakan bulan suci Ramadhan, kita perlu mengingat hal yang cukup esensial saat ini yaitu membaca. Kita perlu benar-benar menghayati makna dibalik momen sakral ini, bahwa membaca bukan sekedar kebutuhan sekunder di era millenial yang serba genting dan penuh hura-hura. Membaca saat ini sudah seharusnya dijadikan kebutuhan pokok dalam membangun kualitas keilmuan diri serta untuk mewaspadai munculnya pengaruh informasi yang datang silih berganti dari arah yang kadang berlawanan dengan realitas kehidupan kita.

Disamping kita perlu membaca buku sebagai sebuah sumber ilmu, Al-Qur’an juga tidak boleh diabaikan untuk dibaca dan dihayati, sebab rutinitas yang paling relevan dengan keadaan kita dibulan Ramadhan ini memang harus membaca dan hanya membaca, terutama membaca Al-Qur’an.

Kita bisa bebas mengakses segala sumber bacaan ilmu yang bermutu, tapi kita juga harus lebih banyak merenungkan makna dari ayat Al-Qur’an yang kandungan ilmunya lebih bermutu dan mengagungkan. Sebabnya, karena Al-Qur’an lebih dari sekedar sumber ilmu pengetahuan, tapi Al-Qur’an juga bisa menjadi sumber inspirasi dalam menggali kehidupan yang lebih bermakna. Kalau buku barangkali hanya bisa memberikan sumber ilmu secara tematik sesuai topik yang dibahas, maka Al-Qur’an justru tidak terikat oleh diskursus ilmu yang terbatas.

Al-Qur’an sumber segala ilmu yang segalanya bisa digali dan dikembangkan. Ilmu pengetahuan secara umum semuanya tercover dalam Al-Qur’an. Hanya saja untuk menggalinya butuh konsentrasi dan pemahaman yang matang, agar bisa melahirkan konsep ilmu yang mapan, maka membaca Al-Qur’an bukan hanya untuk khatam lalu memulainya dari awal, membaca Al-Qur’an yang bisa menghasilkan kekayaan inspirasi dan spiritual adalah membaca dengan penghayatan yang mendalam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *