Artikel

ALUMNI DAN AMANAH NASYR AL-ILMI

عن انس بن مالك رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: طلب العلم فريضة على كل مسلم.. الحديث رواه ابن ماجه

Artinya: “Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Mencari ilmu itu diwajibkan bagi setiap orang Islam.”


Sebagaimana ma’lum bahwa segenap pemeluk agama ini baik laki-laki maupun perempuan diwajibkan mencari ilmu. Tentang ini dapat kita jumpai dalilnya dalam banyak literatur, dan yang sangat tegas terdapat dalam hadits dari sahabat Anas bin Malik dengan kualitas sanad yang masih diperselisihkan namun maknanya disepakati shahih oleh para ulama’.

Mengenai hadits tersebut para ulama’ memberikan penjelasan bahwa ilmu yang wajib dipelajari adalah ilmu yang menjadi tegaknya agama Islam; tentang bagaimana cara menghambakan diri kepada Allah, bertauhid, shalat, zakat, haji bagi yang memiliki kemampuan untuk melaksanakannya dan yang lain. Artinya, dalam Islam tidak semua ilmu Allah wajib dipelajari. Allah sebagai pemilik syariat tidak men-taklif hamba-Nya dengan sesuatu di luar batas kemampuannya. Allah yang menciptakan manusia dengan berbagai kelemahan termasuk kelemahan dalam aspek akal Maha Mengetahui bahwa mereka tidak akan mampu menampung semua ilmu Allah yang begitu luas ini.

Analisis makna hadits tersebut selain memuat pesan tersurat bahwa mencari ilmu diwajibkan atas umat Islam tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, hadits tersebut juga memuat pesan lain yang tersirat, yaitu bahwa mengamalkan dan menyebarkan ilmu juga merupakan kewajiban. Dua kewajiban ini menjadi mungkin dilaksanakan manakala kewajiban pertama (mencari/mempelajari ilmu) telah dilaksanakan.

Prihal kewajiban mengamalkan, kita mengacu pada penjelasan para ulama’ bahwa konteks hadits tentang kewajiban mencari ilmu yang bersumber dari sahabat Anas bin Malik di atas adalah tentang ilmu agama atau ilmu yang menjadi tegaknya agama. Dalam hal ini, tentu pemenuhan kewajiban pertama (mencari/mempelajari ilmu) menjadi percuma dilakukan dan tegaknya agama tidak akan mungkin dapat direalisasikan jika ilmu yang telah diperoleh oleh orang-orang yang telah diberi ilmu dan kepahaman tentangnya tidak diamalkan. Itu sebabnya para ulama’ seperti Syekh Ibnu Ruslan dalam Nadzm al-Zubad nya menyebutkan bahwa orang-orang yang sudah mengantongi ilmu (Al-‘Alim) namun tidak mengamalkannya akan disiksa disiksa di neraka lebih awal sebelum para penyembah berhala. Mengenai apa yang dikemukakan syekh Ibnu Ruslan, hal itu bukan semata karena ilmunya tapi tidak lain akibat meninggalkan kewajiban berupa mengamalkan ilmu oleh orang yang telah diberi anugerah ilmu oleh Allah.

Adapun mengenai kewajiban menyebarkan atau mengajarkan, kita mengacu pada esensi hadits itu sendiri. Pada saat dimana orang Islam diperintahkan untuk mempelajari ilmu, maka untuk bisa memperoleh ilmu tentu saja membutuhkan adanya guru yang mau mengajarkan dan menyebarkan ilmunya sehingga antar keduanya terjadi aktivitas transfer keilmuan yang berimplikasi pada terwujudnya transmisi keilmuan dari satu orang ke orang kain, dari satu generasi ke generasi yang lain.

Dalam salah satu hadits dijelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada segenap umatnya atau yang menerima warisan ilmu darinya agar menyampaikan ilmu itu walau hanya berupa satu ayat tentang agama Allah. Artinya, pada saat dimana para pemilik ilmu diberi anugerah besar berupa ilmu yang telah diperolehnya meski sesedikit apapun, mereka mendapatkan amanah dan tanggungjawab besar untuk mentransfernya dan menyebarkannya kepada orang lain.

Para ulama’ seperti syekh Al-Zarnuji menyebutkan bahwa menyebarkan ilmu merupakan buah dari ilmu yang telah didapatkan. Artinya, ibarat ilmu sebagai pohon, maka mengajar dan menyebarkannya merupakan buahnya yang dapat dipetik dan dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Dari buah itu juga akan memunculkan benih-benih ilmu lain sehingga akan melahirkan pohon-pohon ilmu yang tak terhingga dan tersebar luas dimana-mana. Sebagaimana pohon yang tidak berbuah, ilmu dinilai kurang memiliki manfaat dan kegunaan jika tidak dapat diambil manfaatnya oleh orang lain dengan cara diajarkan dan disebarkan.

Di sini, orang-orang yang aktif dalam aktivitas keilmuan di lingkungan pesantren atau yang disebut dengan santri, kelak setelah menuntaskan beberapa jenjang pendidikan dan menempa diri selama bertahun-tahun di jalan ilmu mereka boyong dari pesantren dan kembali ke daerahnya masing-masing, berbaur di tengah-tengah masyarakat dengan status baru yang disandangnya, yaitu alumni pesantren. Disinilah, disadari atau tidak, alumni pesantren mengemban dua amanah besar di atas sebagai kelanjutan dari proses panjang pencarian ilmu yang telah dilakukan. Bagi alumni pesantren, dua amanah tersebut bukan saja diembankan oleh agama tetapi juga diembankan oleh pesantren atau pemangku pesantren.

Amanah mengamalkan ilmu murni berkaitan dengan tanggung jawab atas pribadi alumni. Artinya, tidak berkaitan dengan tanggung jawab atas dirinya kepada orang lain. Dalam hal ini, kesanggupan dan kesungguhan alumni sangat dibutuhkan dan sangat menentukan keberlangsungan pengamalan ilmu dari waktu ke waktu di manapun dan kapanpun, tanpa mengenal batas ruang dan waktu. Secara umum, amanah pertama ini dapat dilakukan meski tidak sepenuhnya dan dapat dilakukan oleh semuanya.

Berbeda dengan amanah pertama, amanah menyebarkan ilmu berkaitan dengan tanggung jawab atas diri alumni dan orang lain. Beberapa cara dapat dilakukan dalam upaya menyebarkan ilmu; mulai dari mendirikan lembaga pendidikan di lingkungan yang minim lembaga pendidikan, mengabdi di lembaga-lembaga pendidikan sekitar yang sudah ada, mengajar baca al-Quran di langgar, mushalla pribadi atau mushalla milik masyarakat di suatu kampung, dakwah di sosmed, hingga mengayomi dan memberikan teladan yang baik bagi masyarakat sehingga masyarakat mampu membaca pesan-pesan agama Islam yang tersirat dalam setiap ucapan dan prilaku alumni.

Jika hal itu dapat dilakukan oleh alumni sebagai orang yang telah diberi anugerah besar dan dinilai memiliki pengetahuan luas tentang agama, maka agama dan pesantren akan mendapatkan nilai yang baik di mata masyarakat dan umat. Bukankah para alumni pesantren di tengah-tengah masyarakat menjadi cermin dan jendela bagi agama dan pesantren? Masyarakat seringkali melihat sekaligus menilai agama dan pesantren melalui perilaku para alumni pesantren.

Pada saat di pesantren, para alumni pesantren membanggakan guru dan kiyainya. Sikap itu tidak salah dan memang selayaknya sikap yang ditanam dan ditunjukkan adalah demikian. Hanya saja setelah keluar dari pesantren dan menjadi alumni, sikap membanggakan kiyai saja tidak cukup, lebih dari itu mereka dituntut untuk bisa membanggakan kiyainya. Dalam hal ini, tentu saja seorang kiyai tidak seberapa bangga hanya karena alumni pesantrennya sukses duniawi. Para guru dan kiyai akan sangat bangga jika para alumninya mampu mengamalkan ilmunya. Para guru dan kiyai juga akan sangat bangga manakala dengan ilmunya para alumni menjadi pribadi yang aktif berkontribusi bagi kebaikan umat serta aktif memberikan warna baik di tengah-tengah masyarakat. Bukan terwarnai oleh masyarakat! | Oleh: Mohammad Aliy Sajuri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *