Kajian

ANTARA EKSPRESI KEPATUHAN DAN KEBEBASAN, PERSPEKTIF AL-BUTHI (Bagian-07)

Konsep taklif yang dibebankan Allah kepada hambanya, pada dasarnya hanya bisa dilakukan oleh seorang hamba jika ia memiliki kebebasan untuk menunaikan hal itu atau tidak. Kebebasan disini kaitannya cukup esensial dengan hukum taklif. Sebab kemampuan dalam menunaikan hukum Tuhan atau melanggarnya sangat berpotensi untuk mendapatkan pahala atau adzab.

Untuk memperluas pemahaman tentang hal ini, Syekh Sa’id Ramadhan al-Buthi membedahnya dengan sangat baik. Para ulama menurut beliau telah menjelaskan bahwa konsep amar (perintah) Allah pada makhluknya mengarah pada dua tipologi, pertama, Amr takwini (perintah penciptaan). Contoh paling mudah dalam hal ini adalah firman “Kun” (jadilah). Amr dalam tipe pertama ini sifatnya langsung, tidak ada kebebasan apapun bagi setiap makhluk untuk memilih sendiri. Konsep Amr takwini ini tampak dalam semua ciptaan Allah baik berupa sesuatu yang padat, basah, lentur dan semacamnya.

Kedua, Amr taklifi (perintah yang berupa beban kewajiban). Pada tipe kedua ini objek perintah hanya tertuju pada dua jenis: Manusia dan jin. Dua jenis makhluk ini dituntut untuk melaksanakan suatu kewajiban serta meninggalkan hal-hal yang dilarang melalui bekal kekuatan yang Allah anugerahkan serta potensi ikhtiyar yang diberikan. Tujuan di balik ini adalah supaya kepatuhan pada kewajiban tersebut dilakukan sesuai kesungguhannya sehingga kemudian layak mendapatkan pahala. Sebaliknya, usahanya yang berpaling dari tuntutan kewajiban tersebut berangkat dari potensi ikhtiyarnya, sehingga ia layak ditenggelamkan kedalam api neraka.

Dari sini dapat dipahami bahwa konsep perintah yang sifatnya takwini berbeda dengan konsep perintah yang sifatnya taklifi. Konsep perintah yang sifatnya takwini objeknya berupa penciptaan makhluk tanpa melalui proses apapun dan tanpa ada potensi penentangan apapun. Hal ini berbeda dengan konsep perintah taklifi yang sasarannya manusia dan jin yang boleh jadi ada yang tunduk dan patuh, tapi ada pula yang menolak dan menentang.

Manusia sendiri dibebankan dengan perintah yang bersifat taklifi adalah sebagai upaya untuk mengangkat derajatnya pada taraf kemulyaan. Karena manusia tidak bisa menghindar dari hukum yang harus dilakukan baik secara terpaksa atau sesuai nalurinya sebagaimana makhluk yang lain. Bahkan manusia diberikan kelebihan berupa akal yang berperan untuk membedakan antara yang baik dan tidak. Manusia dibekali pula dengan kemampuan (qudrah) yang bisa membuatnya bebas memilih (ikhtiyar) perbuatannya sesuai keinginannya. Dengan bekal ikhtiyar dalam diri manusia, berarti dia tidak dipengaruhi oleh faktor eksternal dari luar dirinya.

Hal inilah yang membuat manusia berbeda dengan makhluk yang lain. Manusia selain diberikan potensi untuk menggali ilmu pengetahuan juga disertai pula dengan potensi ikhtiyari dan kebebasan bertindak, sehingga dengan demikian manusia satu-satunya makhluk yang bisa diangkat Khalifah oleh Allah dimuka bumi.

Melalui keistimewaan yang diberikan ini, maka manusia akan ditempatkan pada derajat yang tinggi seperti derajat para malaikat jika ia mampu mengamalkan hukum taklif yang telah ditetapkan. Tapi pada sisi yang lain manusia akan direndahkan derajatnya jika dia tunduk pada keinginan hawa nafsunya atau naluri hewani dalam dirinya.

……..
Jadi kesimpulan berkenaan dengan diskursus diatas adalah bahwa hukum taklif ini sebenarnya berlaku pada manusia sebagai ujian (ibtila’) yang merupakan hal esensial yang tidak bisa ditolak, sebab hal ini berimplikasi untuk mendapatkan pahala atau siksa. Sedangkan ujian ini hakikatnya tidak akan real kecuali manusia memiliki potensi kebebasan yang berupa kemampuan (qudrah) untuk merespon dengan baik pada hukum taklif tersebut atau sebaliknya. Mengetahui kesimpulan ini sejatinya sangat penting, tapi jauh lebih penting ketika hal ini dikaji secara mendalam dan diarahkan pada tema jihad dan dakwah.

Adapun hal urgen dalam dakwah sebenarnya adalah sebagai upaya untuk memperlihatkan kewajiban-kewajiban yang yang sifatnya i’tiqadi (keyakinan) atau syariah. Serta dibiarkannya manusia secara bebas untuk memilih antara patuh pada ketetapan Tuhan tersebut atau menolaknya, sebab sudah ada peringatan akan adanya konsekuensi akhirat yang kelak akan dihadapi.

Oleh karenanya, seandainya manusia digiring secara paksa untuk tunduk pada hukum taklif tanpa ada kebebasan ikhtiyar sama sekali, maka jelas tidak ada kata “ujian” dalam hukum taklif ini. Artinya mereka menjadi tidak berhak mendapatkan pahala atas perbuatan mereka. Hal ini jelas berimplikasi pada hilangnya manhaj yang telah ditetapkan oleh Allah pada mukallaf.

Bersambung….

*Kajian kitab al-Jihad fil Islam, karya Syekh Said Ramadhan al-Buthi, sesi-03.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *