Artikel

CERAMAH TANPA MARAH

Zaman sekarang banyak orang alim yang berlomba-lomba mengamalkan ilmunya. Tidak jarang kita jumpai meningkatnya para penceramah setiap tahunnya dan apa yang disampaikan satu penceramah dengan yang lain tentu tidak sama kualitasnya. Penceramah menyampaikan materi sesuai ciri Khasnya tergantung karakter individu yang ditanamkan oleh guru-gurunya.

Akhir zaman ini, masyakarat banyak yang memilih penceramah yang terkesan menghibur dan lucu tanpa memikirkan esensi, tanpa memikirkan materi dan ironis sekali, jika penyampaian isi hanya masuk dari kuping kanan dan keluar lewat kuping kiri. Namun, metode demikian lebih banyak diminati daripada penyampaian dengan mencaci maki dan marah-marah tanpa memandang situasi dan kondisi.

Kita selaku lulusan Pesantren yang religius harus punya pemikiran ambisius menyebarkan kebenaran dengan tulus dan halus. Kita tidak perlu memikirkan apakah penyampaian kita dianggap seperti tikus yang berkeliaran membawa firus? atau dikira dongeng yang isinya tidak berkualitas dan dinilai mudus? Biarkan semua Allah yang mengurus.
Kita orang biasa yang banyak berbuat dosa, tapi terkadang memaksa orang lain untuk mendengarkan ceramah kita dengan seksama. Ceramah yang disampaikan akan masuk kedalam hati jika penyampaiannya bersumber dari dalam hati, maka tidak perlu kita perduli yang terpenting kita sudah menyampaikan ajaran Allah sang pemilik cinta hakiki.

Cermati ayat beikut:

إِنَّكَ لَا تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهْدِى مَن يَشَآءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ ﴿٥٦﴾

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki, dan kepada orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah lebih mengetahui.”

Ayat di atas, menurut mufassirin tertuju kepada Nabi Muhammad yang ingin membantu pamannya saat sakaratul maut, namun usahanya tidak menghasilkan sepakat dan Allah memberi kabar bahwa hidayah hanya dimiliki dzat pemberi nikmat.
Coba bandingkan derajat Nabi Muhammad dengan kita, sejauh mana kita menjaukau kesuciannya, pantaskah kita membandingkan diri kita dengan Nabi termulia? Setelah itu, kita pikirkan dan pertimbangkan bersama, bahwa Nabi Muhammad saja tidak dapat memberikan hidayah apalagi kita yang berlumuran dosa. Sama dengan ceramah yang kita sampaikan, diikuti atau tidak, kita serahkan kepada pemilik semesta alam agar ketika tidak ada respon audien tidak menjadi beban pikiran.
Cermati juga ayat dibawah, yang bisa dijadikan rujukan dalam menyampaikan risalah kenabian. Firman Allah dalam Al-Qur’an:


ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ.

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Berceramah dengan hikmah akan melumpuhkan hati yang rapuh. Berceramah dengan Mauidzhah Hasanah akan menumbuhkan kecintaan tak berparuh. Berceramah dengan Bantahan yang baik akan membuat objek tertarik.
Serahkan semuanya kepada Allah, insyaallah apa yang kita sampaikan akan diterima dengan mudah tanpa harus marah-marah.

~Admin

Satu pemikiran pada “CERAMAH TANPA MARAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *