Kajian

CIRI KHAS AHLUSSUNAH (PART-2), MENGHADIAHKAN PAHALA AL-QUR’AN UNTUK ORANG YANG MENINGGAL

Ciri khas ahlussunah yang sangat populer, selain tradisi tahlilan sebagaimana yang sudah penulis urai sebelumnya adalah menghadiahkan pahala bacaan atau amaliah tertentu kepada orang yang sudah meninggal. Meski secara umum pembahasan ini sudah disebutkan pada topik sebelumnya, tapi pada pembahasan berikutnya ini, kita akan membahas topik ini secara spesifik, yaitu seputar menghadiahkan pahala bacaan al-Qur’an kepada orang yang sudah meninggal.

Kubu wahabi dengan cukup ekstrem menolak sampainya pahala bacaan al-Qur’an kepada orang yang sudah meninggal. Dasar yang kerap dipakai adalah pandangan imam As-Syafi’i bahwa menurut beliau bacaan al-Qur’an orang yang hidup tidak bisa sampai pada orang yang sudah meninggal. Imam Nawawi menjelaskan hal ini dalam kitabnya, syarh shahih:
وأما قراءة القرآن فالمشهور من مذهب الشافعي أنه لايصل ثوابها ثوابها إلى الميت… ودليل الشافعي وموافقيه قول الله تعالى(وأن ليس للإنسان إلا ما سعى)، وقول النبي (إذامات ابن أدم انقطع عمله إلا من ثلاث صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له). شرح النووي على مسلم.
Adapun bacaan al-Qur’an, maka pendapat yang masyhur dalam madzhab Imam Syafi’i pahalanya tidak sampai kepada mayit yang dikirim. Adapun dalil Imam Syafi’i dan ulama yang menyetujuinya ialah firman Allah yang artinya “Dan seseorang tidak memperoleh melainkan pahala usahanya sendiri” juga sabda Rasulullah “Apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal, yaitu; shodaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang sholih yang berdoa untuknya”

[syarh shohihi muslim, hal. 90]

Imam Ibnu Sholah, salah satu Ulama besar hadits yang bermadzhab Syafi’i menyatakan bahwa pendapat itu berlaku apabila setelah pembacaan al-Qur’an tidak disusul dengan doa agar pahala bacaan sampai pada mayyit yang dituju. Oleh karena itu, bila bacaan tersebut disusul dengan doa maka pahala yang dihadiahkan akan sampai pada mayit. Dalam kitab hukmusy syari’ati fi ma’tam al-arbain, Syaikhul Islam Zakaria al-Anshori menyatakan hal yang serupa bahwa pendapat imam Syafi’i itu berlaku apabila bacaan al-Qur’an tersebut tidak dilakukan dihadapan mayit, serta pahalanya tidak diniatkan sebagai hadiah atau berniat, tapi tidak berdoa sesudah bacaan al-Qur’an tersebut.

Imam Nawawi dan Imam Suyuthi juga memiliki pandangan yang serupa. Secara umum, ulama madzhab Syafiiyah berpendapat pahala bacaan al-Qur’an bisa sampai kepada mayit, karena imam Syafi’i sendiri pernah berziarah ke makam Imam Laits bin Saad dan beliau menghatamkan al-Qur’an disana. Keterangan lebih lanjut tentang hal ini bisa ditelusuri didalam kitab Riyadh as-Sholihiin, karya Imam An-Nawawi. Keterangan yang lebih lengkap juga disebutkan oleh Imam Suyuthi dalam kitabnya Syarh as-Syurur.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa pendapat imam Syafi’i tentang tidak sampainya bacaan al-Qur’an kepada orang yang sudah mati otentisitasnya dipersilisihkan, karena pendapat beliau tersebut tidak ditemukan dalam karya beliau Al-Umm, padahal kitab ini merupakan kitab induk madzhab Syafi’iyah. Waqiila, dimungkinkan munculnya pendapat tersebut berasal dari kaum Muktazilah yang sengaja menyusupkan pendapat yang lemah ke tubuh madzhab Syafi’iyah, sebab kelompok ini dalam bidang fiqh memang ada yang mengikuti Imam Syafi’i, kendati dalam bidang ushuluddin (pokok-pokok agama) berbeda.
Wallaahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *