Artikel

DAKWAH ITU PENUH RAHMAH

Cermin terbaik dalam berdakwah adalah Rasulullah. Uswahnya diakui masyarakat dunia bahkan oleh penganut non muslim sendiri mengakui sebagai sosok yang santun, penuh rahmah, dialektik dan bersahabat. Michael Hart, seorang penulis berkebangsaan Amerika menyebutkan dalam bukunya “Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah”, bahwa Rasulullah adalah tokoh penting. Dengan kesatria, dia menempatkan Rasulullah sebagai sosok manusia paling berpengaruh dalam sejarah umat manusia dikolong langit ini, meng-ileminasi tokoh-tokoh besar lain di dunia. Padahal dia penganut Nasrani.

Seorang algojo Qurayis menerima kompensasi untuk memenggal leher Rasulullah karena dianggap mengusik keyakinannya. Berkali-kali dia mencoba menebas Rasulullah, tapi hal itu gagal, gagal dan terus gagal. Akhirnya dia terjatuh dari pacuan kudanya dan mengakui atas kesalahannya. Rasulullah tidak murka melainkan memberi maaf. Dia bersimpuh mengucapkan dua kalimat syahadat. Menjadi muslim yang baik.

Dalam literatur lain dijelaskan bahwa Rasulullah hendak ditindih dengan batu besar ketika dirinya rehat selesai thawaf di Ka’bah. Tiga kali ia melancarkan muslihatnya itu untuk menghabisi Rasulullah secara keji. Tapi, pertolongan datang dan beliau selamat. Diketahui dirinya diteror oleh salah seorang Qurayis, beliau tidak ekspresif dan memberikan maaf. Ujungnya, dia mengucapkan kalimat syahadat atas keesaan Allah dan eksistensi Rasulullah. Betapa besar jiwa Rasulullah dalam menghadapi kaumnya yang dekil. Samudera kasih dan selangit cinta yang tersimpan dalam sanubarinya telah menyelamatkan jutaan umat manusia dari jurang kesesatan.

Kisah lain ada seorang Yahudi tua hidup tersisih di pojok pasar di Madinah. Tanpa sedikitipun ada belas kasih dari orang-orang disekitarnya. Rasulullah dengan tangannya yang lembut memberinya makan dan menyuapinya dengan cara sebaik mungkin. Anehnya, Yahudi itu tidak tahu bahwa yang menyuapinya adalah Muhammad, sang Rasul yang diumpat dalam setiap detik.
Tampaknya Yahudi itu termakan propaganda barisan tokoh Quraisy yang menyebut Rasulullah dengan sebutan yang tidak manusiawi. Lagi-lagi Rasulullah bersikap arif untuk wanita itu dan berpesan agar Abu Bakar, penggantinya, meneruskan tradisinya itu. Tangan Abu Bakar tidak selembut Rasululluh dan dia tidak memiliki sifat kenabian. Karena itu, perlakuan terhadap wanita itu ada perbedaan. Wanita itu mengumpat. Abu Bakar menjawab bahwa tangan halus yang menyuapinya telah tiada. Yang punya tangan itu adalah seorang Rasul bernama Muhammad, pemungkas para nabi, pengayom sebaik manusia dan pembawa risalah kenabian.

Senarai kisah ini menggambarkan bahwa Rasulullah adalah teladan paripurna dalam berdakwah. Rasulullah menggunakan metoda lembut dan persuasi. Moderasi dakwah Rasulullah tersebut sesungghnya patut diagungkan oleh umat manusia di jagad raya ini sebagai suatu gejala dakwah yang benar-benar luhur dan meraih prestasi spektakuler. Dia menjadi legendaris hingga kelak dunia ini fana.

Dalam konsep Islam sendiri, berdakwah memiliki tiga varian warna. Mula-mula berdakwah harus menggunakan metode hikmat untuk kalangan kelompok spesial yang memiliki kemampuan khusus. Dengan hikmah, dakwah dapat disalurkan menggunakan metode akademis dan arif. Kedua menggunakan tata ucap yang santun dan ramah tamah (mauidzatil hasanah). Setidaknya dengan metode dakwah demikian, mereka dapat memahami arah dan garis hidupnya sebagai manusia. Metode dakwah ini khusus untuk level khalayak ramai. Ucapan santun, tidak melukai perasaan dan merangkul adalah salah satu kejutan bagi masyarakat untuk memberikan angin segar dalam nuansa keagamaan mereka. Sedangkan tingkatan dakwah untuk level ke tiga adalah dakwah yang harus disertai dengan dalil akademis dan argumentasi intelektual. Argumentasi intelektual dibutuhkan untuk menghadapi laju perlawanan mereka yang terus menerus menumpahkan dalil-dalil untuk bertahan.
Dalam hal ini, kita perlu ofensif dan menyusun strategi jitu hingga akhirnya dia sadar dan mengakui atas kekhilafan dirinya. Dari tiga relasi dakwah itu, tidak ada satupun konsep dakwah yang dibangun dengan metode galak, liar dan sangar. Konsep dakwah yang dicetuskan al-Quran memiliki korelasi kohesif dengan situasi sosiologis yang beragam warnanya. Berdakwah itu harus merangkul, bukan memukul, harus mengajak, bukan mengejek, mendorong, bukan merongrong, mendidik, bukan membidik. Metode seperti inilah yang harus digelorakan saat ini ditengah gersangnya metode dakwah yang dilakukan oleh kalangan tertentu.

Dakwah yang dibangun oleh segelintir pihak itu, mencerminkan dakwah yang tidak ramah, dakwah ditangan mereka berlumuran kecemasan dan teror menakutkan. Padahal, para ulama salaf terdahulu hingga generasi kita dewasa ini, menilai pola dakwah itu tidak pernah bergeser sedikitpun dari misi aslinya. Misinya adalah untuk penyadaran, membimbing, menuntun dan memberikan pemahaman pada khalayak. Dakwah bukan ajang kampanye yang berbusa-busa untuk mengelabui orang lain. Dakwah juga bukan mesin propaganda yang digerakkan demi sebuah kepentingan. Dakwah juga bukan bagian dari narasi negatif yang membakar orang guna menyulut api kemarahan. Dakwah bukan menyiram luka dengan air garam. Dewasa ini, gelaja seperti ini mulai menguat dan kehilangan identitasnya sebagai dakwah yang ramah.

Jika kita membaca konsep al-Quran, jelas di dalamnya menyantumkan konsep dakwah penuh rahmah. Misi Rasulullah sendiri adalah sebagai penebar rahmah pada umat manusia, bukan hanya pada sesama umat Islam. Islam memang agama samawi yang mentauhidkan Allah sebagai Dzat yang Maha Kuasa. Tapi, Islam tidak arogan pada orang lain maupun makhluk lain. Islam memberikan kelonggaran pada orang untuk menganut kepercayaan tanpa sedikitpun ada intimedasi. Saat ini, orang berdakwah kadang tidak disertai kematangan yang kuat dalam hal keilmuan. Tidak menempa diri dalam kehidupan pesantren sebagai basis intelektual yang mempuni di bidang agama. Mereka lahir dan besar dari media. Mereka kadang hanya membaca buku-buku terjemahan yang diragukan akurasi dan kredibilitasnya. Bahkan mereka murni lulusan pendidikan non pesantren, tapi nekat berdakwah. Walaupun dia tidak salah dengan bekal seperti itu. Tapi jika dirinya harus mengambil keputusan-keputusan dilematis dan kompleksitas persoalan hanya dengan merujuk buku-buku terjemahan atau bahkan mesin pencari informasi, maka sebaiknya dia segera bertaubat dan perlu terus belajar pada santri.

Dewasa ini, fenomina dakwah mulai berbalik arah. Masyarakat kadang tertarik justru bukan pada kompetensi keilmuannya dan subtansi dakwahnya. Masyarakat kadang tertarik karena dia menyudutkan kelompok lain yang sesuai dengan selera dirinya dengan gelombang caci maki yang tak henti-henti. Juru bicara agama itu lupa bahwa beban yang melekat pada dirinya adalah bahwa dia penyambung agama dan pembimbing masyarakat. Bukan membangun narasi politis untuk memenuhi gelora nafsunya. Saat ini, orang dengan mudah mengadukkan dakwah dengan agenda politik praktis. Padahal dua-duanya memiliki porsi tersendiri. Tidak boleh dilebur dalam satu wadah karena akan membawa malapetaka sosial bagi masa depan agama dan reputasi dakwah itu sendiri.

Berdakwah juga harus menggunakan narasi halus, membimbing dan berupaya meningkatkan masyarakat dalam beragama. Kadang, subtansi dakwahnya jauh dari agama, justru dia teriak-teriak dengan slogan provokatif dan ambisius tuding sana tuding sini. Jika hal ini yang terus menerus dikonsumsi masyarakat, maka tidak mustahil masa depan dakwah akan kehilangan kharismanya di masyarakat. Masyarakat akan apatis pada tokoh agama dan akan menilai negatif pada upaya dakwah yang benar-benar ikhlas karena Allah.
Dalam sejarahnya, Islam tumbuh dan besar menggunakan kendaraan dakwah. Rasulullah sendiri memulainya dari keluarga terdekatnya untuk diyakinkan akidahnya. Hal itu beliau lakukan untuk menghindari gelombang ekses yang mungkin timbul dari komunitas Mekah waktu itu. Di Mekah, porsi dakwah Rasulullah yang menggunakan metoda tertutup itu cukup dominan. Baru setelah ada perintah bahwa misi kenabiannya harus dilakukan secara terang-terangan dihadapan mereka, barulah Rasulullah mengubah taktik dakwahnya lebih ofensif. Sejak merintins dakwah, Rasulullah tidak sedikitpun mengompori masyarakat dengan sikap arogansi dan kemarahan. Metoda dakwah yang ditempuh Rasulullah humanis, manusiawi, gradualias, santun, lemah lembut dan etis.

Maka, jika ada orang berdakwah diluar konsep dakwah yang telah diteladankan Rasulullah, lalu layakkah dia tidak disebut sebagai dai? Ataukah dia lebih baik segera kirim saja ke pesantren-pesantren untuk belajar lebih lanjut? Mungkin lebih baik.Tapi tidak perlu ada IMDA!

Oleh: Abd. Mannan Hasan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *