Artikel

DUNIA MAYA, ANTARA REALITAS SOSIAL DAN REALITAS MEDIA SOSIAL

Era millenial merupakan sebuah era dengan sejuta realitas baru yang sangat jauh berbeda dengan realitas kehidupan di era kolonial. Berbagai kemungkinan tentang munculnya teknologi Artificial Intelligence (kecerdasan buatan) yang baru akan hadir ke permukaan dengan segala variasinya. Sebelum semuanya tiba-tiba muncul dihadapan kita dengan segala tantangan dan dampak radiasinya, maka kita tentu perlu waspada terhadap segala kemungkinan yang akan kita hadapi nantinya.

Memang Satu-satunya solusi untuk bisa bersaing diera millenial ini adalah dengan terus beradaptasi dengan kemajuan teknologi dan perkembangan keilmuan yang terus bermunculan tiada henti. Dalam beradaptasi, kita dituntut untuk up date menggali informasi serta mampu memahami perangkat teknologi. Sebagai pelajar, membaca tentang berbagai disiplin keilmuan saat ini merupakan hal yang mutlak untuk mengimbangi kemajuan teknologi yang berkembang, agar tidak liar mengelola teknologi serta agar sesuai spirit ilmu dan iman, oleh karenanya kita dituntut pula membaca segala hal yang berkaitan dengan realitas sosial yang terus bergerak dan berubah. Kita harus bisa beradaptasi dengan semuanya secara bijak, arif dan ramah. Sebab tantangan di era millenial ini lebih ekstrem daripada tantangan di era kolonial.

Dulu, pasca kolonial orang tua kita barangkali lebih sering hidup disawah karena mereka diajarkan untuk beradaptasi dengan lingkungan pertanian yang menjadi sumber kehidupan di pedesaan, tapi sekarang kemajuan teknologi telah menggeser kehidupan klasik itu. Kita saat ini sudah hidup diera smartpont dimana kita dituntut untuk cerdas dan terlibat dalam permainan teknologi agar bisa bersaing secara total dengan orang-orang lintas suku dan teritorial. Maka tidak ada jalan lain dalam menempuh kehidupan di era post modern ini kecuali dengan banyak menggali informasi. Agar tumbuh dewasa dalam memahami situasi aktual yang sedang hangat di beranda media sosial.

Namun demikian, sebagai umat Islam kita harus selektif dalam menggali informasi, agar tidak terjebak dalam pengaruh pemberitaan yang salah dan menyimpang. Sebab sering kali informasi yang provokatif menimbulkan kegaduhan yang merusak tatanan kehidupan sosial.

Belakangan ini pertengkaran warganet di sosial media sudah lazim dan lumrah kita jumpai. Kesalah pahaman dan fanatisme berlebihan menjadi gejala awal merebaknya pertengkaran ini. Pemberitaan yang tidak jelas kadang di bela mati-matian karena mempertahankan ego dan kepentingan. Warganet mudah terprovokasi dan terpancing isu-isu baru yang belum jelas, sehingga menimbulkan kegaduhan. Menyoroti fenomena ini, kesadaran bersosial yang baik di sosial media harus ditingkatkan dengan cara harus beradaptasi secara baik dengan sesama serta tidak mudah terpengaruh isu sampah yang bertebaran. Hal terpenting pula yang tidak boleh diabaikan adalah harus sadar bahwa sosial media dan perangkat teknologi yang lain hanyalah dunia maya.

Dunia maya pada dasarnya hanya bagian kecil dari realitas kehidupan kita di dunia. Sebab kita bukan hanya hidup di sosial media, masih ada realitas kehidupan lain yang perlu kita renungkan dan perlu kita tata dengan baik, yaitu realitas hidup bersosial dan realitas spiritual. Keduanya belakangan ini terganggu oleh pengaruh media sosial. Saat kontestasi politik, covid 19 hingga isu agama memanas di media sosial, hubungan sosial yang seharusnya dirawat justru pecah. Persatuan yang seharusnya di kedepankan justru hilang hanya karena pengaruh pemberitaan. Interaksi yang tidak sehat ini terus tumbuh kepermukaan. Kehidupan sosial dan spiritual (sekali lagi) menjadi terganggu. Miris sekali memang.

Oleh: Moh. Jufriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *