Artikel

EKSPRESI KENAKALAN REMAJA DIBAWAH PENGARUH “TIKTOK”

Kemajuan teknologi di era digital memang sangat subur. Teknologi kini hadir dengan beragam kecanggihannya yang luar biasa. Kemajuan pesat dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi memang sangat bermanfaat dalam memberikan kemudahan dan kenyamanan di era millenial.

Secara umum semua orang memanfaatkan teknologi komunikasi sebagai media yang harus dimiliki untuk bisa berinteraksi secara langsung dengan orang lain dimanapun. Salah satu media interaksi sosial yang menarik adalah Facebook. Sejak munculnya aplikasi fb, fenomena berselancar di sosial media mulai tumbuh secara cepat. Kini Aplikasi-aplikasi serupa terus berkembang dan menarik perhatian. Selain fb, salah satu aplikasi keren yang sangat digemari kalangan remaja belakangan ini adalah “Tiktok”.

Aplikasi yang berasal dari Tiongkok ini mampu memikat hampir semua kalangan remaja. Kegilaan kaum remaja untuk berekspresi dan berkreasi sesuai selera dapat ditumpahkan dalam aplikasi yang dikembangkan sejak 2016 ini. Tiktok belakangan ini memang kerap disoroti berbagai kalangan, terutama karena dampaknya terhadap perilaku remaja.

Tiktok pada hakikatnya hanyalah sebuah media kreasi dan hiburan yang memuat musik, foto serta sarana kreatif membuat video berdurasi pendek. Tapi bagi kalangan remaja tiktok bukan sekedar sarana meningkatkan kreatifitas, tiktok justru seringkali dijadikan aplikasi meluapkan sensasi dan ekspresi. Sensasi dan ekspresi yang dipertontonkan kalangan remaja melalui aplikasi ini kerap tidak layak, mencerminkan ironi kenakalan, dan cenderung tidak etis.

Kalangan perempuan diusia remaja memiliki kecenderungan cukup besar dalam memanfaatkan aplikasi ini secara tidak wajar. Sensasi vulgar menjadi hal biasa dipertontonkan oleh mereka hanya karena ingin mencari pujian dan hiburan semata. Karena kontennya yang asyik dan menghibur, hasrat untuk bergoyang, berjoget dan bermesraan menjadi sangat semarak di tunjukkan. Sensasi dan ekspresi nakal tersebut tentu tidak sesuai etika pendidikan yang telah diterapkan di bangku sekolah serta bertentangan dengan akhlak luhur yang diajarkan dalam Islam dipesantren dan madrasah.

Untuk membendung pengaruh buruk tiktok, kesadaran harus senantiasa ditumbuhkan. Dampak tidak baik dari tiktok terhadap jiwa dan fisikologis anak di usia remaja harus selalu diingat oleh kaum remaja itu sendiri, terutama oleh mereka yang telah terpapar “nyanyian musik” tiktok. Orang tua dan guru disekolah harus selalu menanamkan nilai-nilai rohani dan spiritual yang kuat, agar jiwa mereka selalu hidup dengan keimanan dan ke-tawadhu’an. Akhlak yang luhur perlu untuk terus disuarakan dimimbar-mibar, dirumah-rumah, dan disebarkan di sosial media untuk menggeser pengaruh tiktok dan aplikasi hiburan-hiburan lain yang potensial merusak tatanan moral anak-anak dan kaum remaja.

Oleh: Moh. Jufriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *