Tasawuf

HATI-HATI DENGAN HATI


Apa yang dialami oleh manusia tidak akan pernah lepas dari tuntunan syariat agama Islam, gerak-geriknya selalu diawasi oleh pengatur jagat raya alam, tanggung jawab sebagai manusia mulia menuntutnya harus patuh terhadap perintah yang diwajibkan, dan pusat-Nya adalah hati yang harus diistiqamah-Kan.
Manusia atau anak Adam harus berbangga karena telah dipilih oleh Tuhannya untuk menjadi makhluk pilihan di dunia.
Allah berfirman:


وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلْنَٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا.

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”

Lihatlah ayat di atas, begitu baiknya Allah yang mengabadikan anak adam didalam kitab suci al-Quran sehingga kita sebagai objek sasaran harus mempunyai rasa tanggungjawab dan perasaan malu jika melanggar perintah dari pencipta semesta alam.
Setiap manusia pasti memiliki hati dan hati adalah penentu baik dan tidaknya perilaku jasmani.
Hadits menjelaskan:


عن ابي عبد الله النعمان بن البشير رضي الله عنهما قال، سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول، إن الحلال بين والحرام بين و بينهما مشتبهات لا يعلمهن كثير من الناس ومن اتقى الشبهات استبرأ لدينه و عرضه و من وقع في الشبهات وقع في الحرام كالراعي يرعى حول الحمى يوشك أن يرتع فيه، ألا وإن لكل ملك حمى الا وان حمى الله محارمه الا وان في الجسد مضغة اذا صلحت صلح الجسد كله واذا فسدت فسد الجسد كله الا وهي القلب. (رواه البخاري و مسلم)

Artinya:
“Dari Abi Abdillah an-Nu’man Bin Basyir RA berkata, saya mendengar Nabi bersabda: Perkara halal dan Perkara haram sama-sama jelas dan antara keduanya terdapat perkara syubhat yang tidak diketahui manusia, barangsiapa takut perkara syubhat maka agama dan harga dirinya terbebas dan barangsiapa terjerumus pada perkara syubhat maka juga terjerumus pada perkara Haram seperti pengembala di sekitar ladang yang dilarang yang diragukan, ingatlah! Setiap raja mempunyai larangan, ingatlah! Larangan Allah adalah keharamannya, ingatlah! Setiap jasad memiliki segumpal daging jika baik maka semua jasad juga baik, jika rusak maka semua jasad juga rusak, ingatlah! Segumpal daging itu adalah Hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ditinjau dari sisi Bahasa Arab, Hati yang berarti قلب, memiliki arti berbolak-balik, sehingga tidak heran jika perilaku manusia kadang meningkat dan kadang menurun.
Hati menjadi tolak ukur dari semua jasad, hati juga menjadi tolak ukur baiknya perilaku dan hati-lah yang juga akan membawa kita untuk sampai kepada sang pencipta.
Tidak mudah memiliki hati yang bersih dari carut marut duniawi, membutuhkan keuletan sedari usia dini dan mempertahankannya sampai tutup usia nanti. Hati tidak boleh selalu terbebani dengan perasan iri terhadap nikmat yang orang lain miliki karena perasaan itulah yang sedikit demi-sedikit akan menutupi pintu masuknya hidayah ilahi rabbi. Sebagai manusia yang dituntut selalu membenahi diri, mereka harus mempunyai amalan dzikir penenang hati karena menjaga hati tidak semudah menjaga Ukhti sebagaimana yang lumrah kita ketahui. Istiqamah menjaga dzikir malam dan hari akan menjadikan hati semakin berseri dan tidak mudah terprovokasi oleh syaitan laknatullah ‘Alaihi.
Tidak jarang pula banyak dari manusia yang menyangka bahwa masalah yang menimpa hati tidak akan pernah terselesaikan oleh berbagai metode yang diterapi, putus asa untuk memulai dan tidak menjalankan kewajiban dengan dalih benci pada diri sendiri, padahal secara logika, manusia tidak akan pernah sampai kepada sesuatu yang dituju jika tidak memulai kapan saja yang mereka butuh.
Demi menjaga keutuhan Hati, jika kalian terjerumus mengerjakan sesuatu yang dilarang Syar’i, bertaubatlah! dan jika kalian tetap mengerjakan kemaksiatan tanpa henti, teruslah bertaubat, sehingga kalian sadar bahwa pengampunan Allah lebih besar dari gunung yang menjulang tinggi.
Hati harus betul-betul di jaga agar mudah menerima nasihat dari orang lain.
Allah berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ سَوَآءٌ عَلَيْهِمْ ءَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ ﴿٦
خَتَمَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰٓ أَبْصَٰرِهِمْ غِشَٰوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿٧

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.
Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.”

Mengerikan sekali kita membaca ayat di atas. Meskipun khitobnya tertuju kepada orang kafir, namun tidak menuntut kemungkinan bisa terjadi kepada orang mukmin. Sungguh sangat celaka bagi kita sebagai orang mukmin yang tidak bisa menerima nasehat dari orang lain karena suplemen rohani sangat dibutuhkan oleh hati demi meningkatkan kualitas Iman secara hakiki.
Semoga kita semua tergolong orang-orang yang hobi membersihkan kotoran yang melilit hati.
Aamiin ya rabbal alamin

Oleh: Ach. Mulyadi Janan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *