Tasawuf

HATI-HATI DENGAN HATI

Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging apabila daging tersebut baik maka semua amalnya juga baik, sebalikanya apabila jelek maka semua amalnya juga jelek, segumpal daging tersebut dikenal dengan istilah hati.

Dalam ilmu gramatika arab hati dikenal dengan istilah “Qolbu” (bolak balik) disebut dengan “Qolbu” lantaran hati selalu terbolak balik. Oleh karenanya kenapa amal manusia terkadang baik dan kadang pula jelek? Tentu demikian itu karena hatinya berbolak balik dan berimbas pada amalnya.

Dalam kitab Fathu al-Bari Syarah Shaheh al- Bukhori , Imam Ibnu Hajar al-Asqolani menyamakan hati dengan raja sedangkan anggota tubuh adalah prajuritnya. Raja yang baik akan selalu memerintahkan prajuritnya pada kebaikan, sehingga terciptalah kehidupan yang baik, begitu juga raja yang jelek akan memerintahkan prajuritnya pada kejelekan dan akan menciptakan kehidupan yang jelek.

Islam memerintahkan kita untuk menjaga hati dari segala macam penyakit yang berpotensi merusaknya, sebab kalau hati terimplikasi penyakit, perbuatan baik seperti ibadah yang kita lakukan pun menjadi jelek. Satu contoh; sholat dan dzikir, keduanya adalah perbuatan yang baik, namun jika keduanya dilakukan karena unsur riya’, perbuatan baik itu akan berubah menjadi jelek.

Ilmu tasawwuf adalah ilmu yang sangat penting untuk kita pelajari, karena didalamnya membahas bagaimana kita menjaga hati dari berbagai macam penyakit seperti takabbur, ujub, riya’, hasud dan lain sebagainya.

Untuk menjadi insan yang baik kita dituntut untuk menghidupkan hati, sebab hati yang hidup akan selalu bersinergi dengan tubuh, akan membuat kita giat melakukan ketaatan. Untuk menghidupkan hati yaitu dengan suguhan amal baik dan selalu berdzikir untuk menenangkan hati kita. Sebaliknya hati yang mati akan membuat tubuh senang dan cinta terhadap perbuatan jelek. Hati bisa mati tatkala kita cinta membabi buta pada dunia.

Diantara keistimewaan hati adalah syaitan selalu menyusup pada tubuh manusia disetiap aliran darah kecuali satu yang tidak bisa dimasukinya yaitu hati. Hal itu karena yang dilihat oleh Allah dalam diri manusia hanyalah hatinya.

Sangat benar sekali pepatah yang mengatakan “hati-hati dengan hati” sebab apabila kita tidak hati-hati menjaganya dengan membiarkannya begitu saja apalagi sampai mati, maka kita akan malas beribadah, sehingga larangan agama diterobos begitu saja. Tetapi yang lebih ironis lagi apabila sampai merasa senang dengan perbuatan jelek. Wal iyadzu billah. | Moch. Yusli Efendi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *