Artikel

IMAM ABU HANIFAH, PENDIRI MADZHAB FIQH YANG PAKAR ILMU KALAM

Nama imam Abu Hanifah di Indonesia mungkin kalah tenar dengan nama imam Syafi’i, meskipun kedua imam ini sama-sama populer sebagai pendiri madzhab besar di dunia Islam. Hal ini mungkin karena mayoritas umat Islam di Indonesia mengikuti madzhab Syafi’i, sehingga nama Imam Syafi’i lebih populer, bahkan kajian dan tulisan yang fokus mengangkat nama imam Syafi’i sangat luas dan tersebar dimana-mana.

Sementara tulisan yang membahas riwayat hidup dan pemikiran imam Abu Hanifah tidak cukup semarak. Padahal sebagai salah satu pendiri madzhab yang diakui keabsahannya oleh ulama Ahlussunah seharusnya kerangka pemikiran dan riwayat hidup beliau perlu sering ditelaah, dikaji dan disebarkan. Disamping karena belakangan ini antusiasme para pelajar, terutama di perguruan tinggi cukup intens menelaah pemikiran keislaman, termasuk soal pemikiran keislaman yang berbau teologis. Sehingga pemikiran imam Abu Hanifah seharusnya mendapatkan perhatian besar seperti halnya mereka memberi perhatian besar pada tokoh ilmu kalam yang lain.

Sayangnya perhatian terhadap pemikiran iman abu Hanifah sendiri untuk saat ini di Indonesia terbilang masih langka dan kurang semarak. Kalau kita perhatikan kajian yang mengupas tema pemikiran keislaman khas Ahlussunah klasik orintasinya lebih besar tertuju pada dua tokoh terkemuka ; yaitu Imam Abul Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi. Keduanya memang memiliki kontribusi besar dalam merumuskan konsep akidah Ahlussunah, meskipun sebenarnya embrio awal lahirnya konsep ilmu kalam bukan dilahirkan oleh keduanya.

Konsep bangunan teologi Islam telah dimulai oleh imam Abu Hanifah (lahir 80 H.) yang hidup jauh sebelum Imam Abul Hasan Al-Asy’ari (lahir 260 H.) dan Abu Mansur Al-Maturidi (lahir sekitar 238 H.). Disebutkan bahwa Imam Abul Hasan Al-Asy’ari merumuskan konsep ilmu kalam dengan mengikuti pola pemikiran murid-murid imam Abu Hanifah. Imam Abul Hasan Al-Asy’ari sendiri memiliki sanad keilmuan dalam ilmu Kalam pada imam Abu Hanifah melalui murid-muridnya.

Sejauh pengamatan penulis, sebagian pegiat pemikiran Islam tampaknya hanya melihat imam Abu Hanifah sebagai pendiri madzhab fiqh. Sehingga pemikiran teologis yang dikembangkan oleh imam Abu Hanifah cenderung tidak diperhatikan dan tidak banyak mendapatkan apresiasi. Boleh jadi hal ini karena mereka memang tidak tertarik untuk menelaahnya atau mungkin tidak tahu bahwa Imam Abu Hanifah selain menekuni bidang fiqh juga membidangi ilmu kalam secara matang dan luar biasa. Ilmu kalam telah ditekuni imam Abu Hanifah sebelum beliau fokus mempelajari fiqh. Bahkan beliau sering terlibat dalam dialog panas dengan atheisme yang banyak muncul dimasa itu.

Lebih dari itu, beliau juga menulis kitab yang membahas ilmu Kalam secara tersendiri dengan judul kitab “Fiqhu al-Akbar”. Tampak dari pemilihan judul yang dipilih bahwa pada era beliau belum muncul pemilahan disiplin keilmuan. Sehingga ilmu Kalam masih dianggap satu jenis dengan ilmu fiqh, sehingga ilmu kalam saat itu diberi nama Fiqhu al-Akbar, hanya saja posisinya lebih urgen dan fundamental dalam kajian Islam sehingga disebut fiqh Akbar (fiqh terbesar).

Sosok imam Abu Hanifah memang ulama yang hebat melampaui zamannya. Beliau menguasai disiplin ilmu keislaman seperti fiqh dan ilmu kalam yang merupakan dua disiplin ilmu yang mendapatkan perhatian besar dari masa ke masa. Lebih dari itu, disamping sebagai ulama ahli fiqh ternama, ahli kalam tak tertandingi dimasanya, beliau juga ahli tasawuf, meskipun konsepsi ilmu tasawuf sendiri sebagai disiplin ilmu belum lahir dimasa beliau. Hal ini karena dalam kitab-kitab tasawwuf tidak sedikit yang menampilkan sisi kesufian beliau, bahkan kewalian beliau.

Kalau dalam topik tasawuf sering disebutkan tingkat makrifat dan karomah seorang wali, beliau ini bahkan diceritakan pernah bermimpi bertemu Allah, sebuah cerita yang mungkin akan ditolak mentah-mentah oleh kubu salafi, meskipun jelas beliau adalah ulama salaf yang seharusnya diikuti oleh kubu yang selalu ngaku-ngaku paling salaf di muka bumi itu. Terkait cerita beliau bermimpi bertemu Allah yang diceritakan sendiri oleh beliau, tentu ini tidak berlebihan dan mengada-ada, sebab beliau Mujtahid, Zuhud, wara’ dan tidak diragukan ke-ulaman-nya. Sayyid Bakr bin Sayyid Muhammad Syatha, penulis Kitab I’anathut Thalibin menuturkan tentang kesholehan, kezuhudan dan kemakrifatan beliau didalam kitabnya. Wallahu a’lam.

Oleh: Moh. Jufriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *