Tasawuf

IMAM AL-BUSHIRI, CINTA BUTA SANG PENYAIR

Siapa yang tidak kenal dengan Imam al-Bushiri, salah satu ulama ahli hikmah sekaligus penyair dan sastrawan tersohor sepanjang masa. Karya sastranya yang sarat dengan puitis sampai sekarang hampir disetiap pesantren di belahan dunia selalu didengungkan dan disenandungkan.
Imam al-Bushiri dengan nama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Said al-Busiri lahir di Dallas, Maroko, tepat pada tahun 610-695 H/1213/1296 M. Beliau dibesarkan di daerah Bushir, Mesir. Oleh karenanya beliau lebih dikenal dengan sebutan Imam al-Bushiri dengan dinisbatkan pada daerahnya.
Imam al-Bushiri termasuk salah satu muridnya Imam Abu al-Hasan As-Syadzili, sufi besar thoriqoh Syadziliyah.

Imam al-Bushiri tersandung rasa cinta yang sangat membara kepada nabi Muhammad SAW. Cintanya pada sang baginda Nabi Muhammad beliau ungkapkan dalam karyanya yang berjudul Qosidah Burdah. Dalam karyanya tersebut, beliau bertanya pada dirinya sendiri prihal kondisi tubuhnya yang kurus, wajahnya yang sangat pucat dan beraneka ragam penyakit yang dialaminya. Bukan hanya itu, beliau juga bertanya pada dirinya penyebab air matanya bercampur dengan darah. Imam al-Bushiri seakan seperti orang yang gila lantaran dirinya berbica sendirian, lebih parah lagi beliau jarang tidur malam dan selalu berkhayal di atas puing-puing rumah yang telah hancur berantakan. Entah apa yang terjadi pada beliau, masih belum diketahui secara pasti apa penyebabnya. Namun akhirnya dalam penggalan syairnya beliau menjawab dan menuturkan prihal pertanyaan beliau pada dirinya terkait penyebab segala sesuatu yang menimpanya, mulai dari penyakit yang dialami dan penyebab air matanya bercampur dengan darah, beliau berkata:

نعم سرى طيف من اهوى فأرقني # والحب يعترض اللذات بالألم

Dari bait qosidah di atas beliau menegaskan bahwa derita dan tangisannya yang bercampur darah penyebabnya adalah lantaran api rindu dan cinta buta pada sang baginda nabi Muhammad SAW. Saat beliau sedang tenggelam dalam lautan cinta dan ditengah kerinduanya yang sedang membara kepada nabi Muhammad, dalam tidurnya beliau bermimpi bertemu Nabi Muhammad, namun sangat ironis sekali bukan kesembuhan yang beliau peroleh, tapi rasa rindu semakin menggebu-gebu dan ini sungguh merupakan cinta yang sangat luar biasa. Mengapa? Karena yang jelas ketika seseorang tersandung cinta, ketika kedatangan sang pujangga, rasa rindu semakin reda, namun rindu Imam al-Bushiri sangatlah berbeda, kedatangan nabi Muhammad justru semakin menambah rasa sakit dan duka. Walhasil, cintanya Imam al-Bushiri kepada Sanga baginda nabi Muhammad semakin besar dan tak terobati.

Dalam karyanya beliau juga menuturkan prihal orang yang sedang dilanda cinta, bahwa nasihat dan cacian tidak akan pernah mampu membendung rasa cinta, sebagaimana dalam penggalan syairnya:


محضتني النصح لكن لست اسمعه # ان المحب عن العذال في صمم

Secara kesimpulan bahwa orang yang tersandung cinta pasti tuli akan segala nasehat dan caci maki. Sebagai ummatnya nabi Muhammad, kita perlu untuk meneladani cinta buta Imam al-Bushiri yang luar biasa kepada sang nabi Muhammad SAW.

Sebenarnya untuk menggapai kebahagian dalam kehidupan dan keselamatan dalam kematian, modalnya sangat mudah yaitu mencintai nabi Muhammad, karena beliau telah bersabda; “Orang yang cinta padaku akan aku temani dalam surga”.
Pada hakikatnya, Tuhan telah menganugerahkan rasa cinta dan kasih sayang kepada semua manusia, namun tidak jarang banyak yang salah menempatkan dan mengimplementasikan sehingga pada akhirya larut dalam kesesatan dan terperangkap dalam godaan syaitan lantaran cintanya hanya berlabuh pada wanita, harta dan tahta. Oleh karenanya, anugerah Tuhan harus kita fungsikan pada jalan kebenaran demi termanipestasinya kebahagiaan dan keselamatan.
Semoga kita kelak diakui sebagai umat nabi Muhammad SAW.

(Dikutip dari kitab Hasyiyah al-Bajuri Alaa Matni al-Burdah karya Syaikh Ibrahim al-Bajuri)

@YusliEfendi

2 pemikiran pada “IMAM AL-BUSHIRI, CINTA BUTA SANG PENYAIR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *