Artikel

IMAM SYAFI’I, MUJTAHID LEGENDARIS YANG CINTA SYAIR

Imam Syafi’i merupakan ulama legendaris yang pertama melahirkan konsep ilmu ushul fiqh. Beliau lahir di Gaza Palestina bertepatan tahun wafatnya Imam Hanafi (tahun 150 H). Sejak kecil, kecerdasan beliau sudah tampak. Dibawah bimbingan kasih sayang ibunya, imam Syafi’i tumbuh menjadi anak yang tekun dalam belajar. Diusianya yang masih belia, beliau hafal Al-Qur’an serta memahami kandungan maknanya. Suatu anugerah langka pada saat itu. Gurunya kagum dengan kemampuannya. Sekitar umur empat belas tahun, beliau sudah diperbolehkan berfatwa oleh gurunya.

Di dunia Islam imam Syafi’i sangat masyhur dikenal sebagai Mujtahid, pendiri fiqh Syafi’iyah. Tapi tak banyak yang tahu bahwa imam Syafi’i selain menekuni bidang fiqh maupun ilmu-ilmu syariah yang lain, beliau juga menggemari syair, Bahkan sebuah riwayat menyebutkan bahwa sebelum imam Syafi’i menekuni bidang ilmu fiqh, beliau terlebih dahulu belajar sastra Arab pada suku Hudzail, sehingga kemampuan bahasa arab beliau sangat tinggi. Bekal kemampuan itulah yang membawa Syafi’i kecil menjadi sangat teliti, jeli dan cermat dalam memahami kandungan makna dalam Al-Qur’an maupun hadits nabi. Sehingga hal inilah yang membuat karya-karya beliau tidak mudah dipahami oleh kalangan akademisi biasa, apalagi pelajar biasa.

Salah satu karya besar Imam Syafi’i yang terbilang “berat” untuk dipahami itu misalnya, kitab yang berjudul “Al-Umm”. Untuk memahami kandungan kitab ini seseorang harus memiliki kemampuan bahasa arab fushha, menguasai syair-syair arab serta memiliki pembendaharaan kosa kata yang luas, sebab dikitab tersebut banyak memuat kosa kata, frase dan uslub bahasa Arab yang masih asli. Jadi kemampuan bahasa Arab saja jelas tidak cukup, apalagi jika hanya memahami detail kosa kata bahasa Arab kontemporer, sama sekali tidak membantu untuk memahami kitab besar karya Imam Syafi’i tersebut. Sebab inilah sulit menemukan pelajar yang berani menyentuh karya Imam Syafi’i. Kalangan santri maupun pelajar ilmu agama tingkat lanjut secara umum semuanya menghindar untuk membaca karya sang Imam. Mereka lebih mengarahkan perhatiannya untuk membaca karya ulama Syafi’iyah yang sudah secara mudah dan matang mengungkap maksud-maksud Imam Syafi’i dalam kitabnya.

Disamping kitab tersebut, kitab yang secara khusus memuat syair-syair imam Syafi’i yang memukau, berjudul “Diwan al-Imam Asy-Syafii”. Dalam kitab tersebut, syair Imam Syafi’i bukan hanya bisa dinikmati keindahan bahasanya, tapi juga bisa kita rasakan pengaruh motivasinya. Berikut penulis tampilkan salah satu syair Imam Syafi’i yang sangat inspiratif dikitab tersebut:

دَعِ الأَيَّامَ تَفْعَل مَا تَشَاءُ ** وَطِبْ نَفْساً إذَا حَكَمَ الْقَضَاءُ

“Biarkanlah hari demi hari berbuat sesukanya. Tegarkan dan lapangkan jiwa tatkala takdir menjatuhkan ketentuan (setelah diawali dengan tekad dan usaha).”

وَلا تَجْزَعْ لِنَازِلَةِ اللَّيَالِـي ** فَمَا لِـحَوَادِثِ الدُّنْيَا بَقَاءُ

“Janganlah engkau terhenyak dengan musibah malam yang terjadi. Karena musibah di dunia ini tak satu pun yang bertahan abadi (musibah tersebut pasti akan berakhir).”

وكُنْ رَجُلاً عَلَى الْأَهْوَالِ جَلْدًا ** وَشِيْمَتُكَ السَّمَاحَةُ وَالْوَفَاءُ

“(Maka) jadilah engkau lelaki sejati tatkala ketakutan menimpa. Dengan akhlakmu; kelapangan dada, kesetiaan dan integritas.”

Ketinggian bahasa Imam Syafi’i menunjukkan kapasitas beliau sebagai ulama terbesar sepanjang sejarah yang tidak hanya memberi perhatian pada satu aspek ilmu tapi mengabaikan aspek bahasanya. Imam Syafi’i justru menguasai semuanya, sebab ilmu agama jelas butuh kunci untuk membukanya dan kunci tersebut adalah kemampuan bahasa Arab. Maka sangat aneh dan sangat diragukan jika hari ini ada tokoh yang mengaku alim tapi tidak memiliki sedikitpun kemampuan bahasa arab yang cukup. Wallahu a’lam.

Oleh: Moh. Jufriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *