Artikel

IMPLEMENTASI MAKNA HIJRAH PASCA PERISTIWA HIJRAH

Secara harfiah kata Hijrah berarti perpindahan, hijrah dan imigrasi. Adapun secara istilah kata hijrah adalah perpindahan Rasulullah dan para sahabat dari Mekah ke Madinah guna mempertahankan eksistensi Islam.
Dalam rekam sejarah sebagaimana mudah kita jumpai dalam banyak literatur, peristiwa hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat sebenarnya bukan hanya dari Mekah ke Madinah, tetapi juga ke beberapa tempat lain.

Umar Abd. Jabbar dalam Khalasah Nur al-Yaqin menyebutkan bahwa diantara peristiwa hijrah dalam sejarah Islam adalah hijrah para sahabat ke Habasyah (sekarang Ethiopia) atas intruksi langsung dari Rasulullah pada tahun kelima dan ketujuh dari kenabian. Juga seperti hijrah Rasulullah bersama sahabat Zaid bin Haritsah ke Thaif pada tahun kesepuluh dari kenabian. Namun demikian penyebutan kata hijrah secara umum di dunia Islam bersifat eksklusif dan mengarah pada arti perpindahan dari Mekah ke Madinah, wajar sebab hijrah Rasulullah ke Madinah dianggap sebagai peristiwa hijrah yang paling agung dan bersejarah, karenanya ia dijadikan titik awal penghitungan kalender dalam tahun hijriyah, tepatnya pada masa kekhalifahan sayidina Umar bin al-Khaththab setelah melalui konsensus diantara para sahabat.

Sebelumnya, Islam sulit diperkenalkan dan disyiarkan di Mekah karena ruang dakwah yang begitu sempit dan situasi yang selalu mengancam. Adapun di Madinah kondisi itu berbalik 180 derajat. Pasca hijrah, Rasulullah bersama sahabat muhajir dan anshar mulai membangun masyarakat baru berbasis tauhid. Piagam madinah sebagai konstitusi berbasis Islam yang menjamin keamanan di tengah-tengah kemajemukan masyarakat Madinah dan mengatur kerukunan serta kedamaian dalam beragama, berbangsa dan bernegara, memiliki peranan yang sangat besar dalam suksesnya dakwah Rasulullah, sebab logikanya, jika kerukunan antar suku, penganut agama dan keyakinan tertentu tidak terjamin di bawah payung undang-undang, ditambah lagi dengan kondisi masyarakat Madinah yang terus-menerus dalam perpecahan sebagaimana yang tergambar pada suku Aus dan Khazraj, dapat diprediksi perjalanan dakwah di Madinah tidak akan jauh berbeda dari perjalanan dakwah di Mekah dan selanjutnya hasilnyapun tidak akan jauh berbeda. Di tengah kondusifnya stabilitas masyarakat Madinah, dakwah dapat dijalankan dengan baik dan secara perlahan komunitas muslim terus bertambah dari waktu ke waktu, hingga pada saat Fath Mekah tercatat ada sebanyak 10.000 sahabat yang menyertai Rasulullah dalam penaklukan tanpa pertumpahan darah itu, angka yang mengindikasikan peningkatan populasi yang begitu pesat, jauh dibandingkan peningkatan populasi muslim saat di Mekah. Padahal seperti yang kita ketahui bersama masa dakwah di Madinah lebih singkat daripada masa dakwah di Mekah. Populasi itu terus meningkat pasca Fath Mekah, hingga meluas di seluruh jazirah Arab dan saat ini Islam menyebar di seluruh belahan bumi.

Realitas kemudahan akses dakwah dan diterima Islam sebagai agama yang haq secara luas pasca hijrah ke Madinah dengan faktor-faktor sebagaimana sedikit disinggung di atas melahirkan satu konklusi penting bahwa hijrah ke Madinah tidak hanya memiliki arti hijrah secara fisik dari satu tempat ke tempat yang lain. Di sisi lain ada makna hijrah yang abstrak dan paling inti dalam peristiwa hijrah itu sendiri, yaitu bahwa hijrah ke Madinah juga berarti perpindahan dari satu situasi yang buruk menuju situasi yang baik, dari tertindas menjadi kuat dan bebas, dari minoritas menjadi mayoritas dan begitu seterusnya. Ini artinya hijrah Rasulullah dan para sahabat dari Mekah ke Madinah dapat disebut sebagai hijrah fisik dan non fisik sekaligus.

Hijrah non fisik dengan arti berpindah atau meninggalkan keburukan menuju kebaikan disebut sebagai hijrah paling utama dibandingkan semua macam hijrah dengan menggunakan arti hijrah secara umum. Imam Ibn Hamzah Al-Husaini dalam Al-Bayaan wa al-Ta’riif fi Asbab Wurud al-Hadits al-Syarif mengutip potongan hadits panjang yang menceritakan dialog sahabat Abu Dzar al-Ghifari dengan Rasulullah. Pada bagian separuh akhir matan hadits tersebut berbicara mengenai hijrah non fisik, demikian:

عَن أبي ذَر الْغِفَارِيّ قَالَ قلت يَا رَسُول الله أَي الْمُسلمين أسلم قَالَ من سلم النَّاس من لِسَانه وَيَده قلت فَأَي الْهِجْرَة أفضل قَالَ من هجر السَّيِّئَات.

Diriwayatkan dari sahabat Abu Dzarr al-Ghifari, ia berkata: Aku (Abu Dzarr Al-Ghifari) bertanya: Wahai Rasulullah siapakah orang islam yang paling baik?” Rasulullah menjawab: “Seseorang yang orang lain terselamatkan dari tangan dan lisannya”. Aku kembali bertanya: “Wahai Rasulullah, lalu hijrah bagaimanakah yang paling utama?” Rasulullah kembali menjawab: “-Hijrah yang dilakukan oleh- seseorang yang meninggalkan kejelekan”.

Imam Ibn Batthal dalam Syarh Shahih al-Bukhari li Ibn Batthal pada sub bahasan “Orang Islam yang Sebenarnya” menyebut satu hadits yang konteksnya senada dengan hadits di atas, demikian:

المسلم من سلم المسلمون من يده ولسانه والمهاجر من هجر ما نهى الله عنه

Orang Islam yang sebenarnya adalah orang yang orang-orang islam lainnya terselamatkan dari tangan dan lisannya, sedang orang hijrah yang sebenarnya adalah orang yang berpindah dari sesuatu yang dilarang oleh Allah.

Mengomentari separuh akhir dari hadits di atas, Imam Ibn al-Zinad menyebutkan: “Tatkala hijrah fisik serta keutamaan yang terdapat didalamnya telah berlalu dan selesai dengan penegasan Rasulullah pada saat Fath Mekah bahwa tidak ada hijrah lagi setelah penaklukan Mekah, para sahabat yang masuk Islam belakangan merasa sedih karena tidak bisa ikut serta saat hijrah ke Madinah, Rasulullah akhirnya mengumumkan bahwa hijrah yang hakiki adalah perpindahan dari sesuatu yang diharamkan oleh Allah dengan cara meninggalkan sifat dan perilaku buruk menuju sifat dan perilaku baik yang mendatangkan ridla Allah. Ulama’ lain juga ikut memberikan komentar: “Dengan hadits di atas Rasulullah secara tidak langsung mengumumkan kepada para sahabat bahwa kewajiban hijrah selanjutnya setelah hijrah dari Mekah ke Madinah adalah hijrah non fisik dengan meninggalkan sesuatu yang dilarang oleh Allah”.

Dengan demikian, peristiwa hijrah Rasulullah dan para sahabat saat ini dapat diteladani dengan melaksanakan hijrah non fisik. Implementasi dari hijrah non fisik ini diwujudkan dengan upaya nyata memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Semangat melaksanakan hijrah non fisik harus dimulai dari menanamkan niat yang kuat, meninggalkan prilaku dan kebiasaan yang beraroma maksiat serta diimbangi dengan kesungguhan jihad, memerangi hawa nafsu. Tatkala Rasulullah menyampaikan kepada para sahabat bahwa hijrah fisik berikut keutamaannya seperti yang terjadi dari Mekah ke Madinah sudah selesai dan tidak ada lagi, beliau melanjutkan bahwa kewajiban selanjutnya adalah Jihaadun wa Niyatun, jihad dan niat. Kata “Jihad” dalam sabda Rasulullah tersebut dapat diposisikan sebagai kata majaz yang berarti jihad memerangi hawa nafsu dalam meninggalkan segala bentuk perilaku jelek menuju perilaku baik, dari sifat, karakter, moral yang tercela menuju sifat, karakter dan moral yang terpuji, disertai dengan niat yang kuat sebagai wujud kesungguhan.

Di momen tahun baru hijriah saat ini merupakan waktu yang tepat untuk berbenah diri dengan melaksanakan hijrah non fisik, dari kondisi buruk menuju kondisi baik, dari kondisi baik menuju kondisi yang lebih baik lagi.

Oleh: Mohammad Aliy Sajuri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *