Artikel

ISLAM DAN GELIAT KEILMUAN

Geliat keilmuan tampaknya makin hari makin redup, seiring makin banyaknya orang yang berilmu (Hamilul ilmi) yang sudah tutup usia. Apa faktor dibalik kemunduran umat Islam ini? Tentu jawabannya beragam. Ada banyak alasan yang tidak bisa ditampung dalam sebuah tulisan yang singkat.

Ada banyak umat Islam yang sebenarnya menyadari ketimpangan ini. Bahkan soal kemunduran umat Islam dalam keilmuan telah lama menjadi kegelisahan banyak pakar. Pada tahun 1940, sebuah buku terbit dengan judul “Limadza Taakhkhar al-Muslimun Wa Limadza Taqaddama Ghairuhum?” (Kenapa umat Islam terbelalakang, dan kenapa umat lain maju?)

Buku ini ditulis oleh seorang pemikir bernama Syakib Arsalan sebagai respon terhadap pertanyaan yang diajukan oleh seorang mahasiswa dari Jawa ke Majalah al-Manar pimpinan Rasyid Ridha di Mesir tahun 1929. Penjelasan Syakib Arsalan dalam buku ini relevan untuk diangkat kembali saat ini untuk membangkitkan minat keilmuan dan kemajuan umat Islam yang mulai tenggelam.

Dalam menjawab kegelisahan mahasiswa tentang dunia Islam saat itu, Arsalan mengemukakan bahwa ada dua hal yang menjadi sumber kemajuan non-muslim saat itu, pertama, Bangsa non-muslim maju karena mereka konsisten berpegang teguh pada tradisi keagamaan mereka sendiri. Mereka tidak pernah mengabaikan esensi penting dalam tradisi keagamaan mereka.

Poin pertama ini menarik di angkat kepermukaan media saat ini mengingat ada banyak sekali orang-orang dari kalangan umat Islam sendiri yang terlalu terpukau pada kemajuan umat non-muslim sampai mereka lupa dan abai pada tradisi keagamaan mereka. Padahal aspek penting yang tidak boleh diabaikan oleh siapapun dalam membangun kemajuan adalah mempertahankan tradisi keagamaannya sendiri.

Kedua, Bangsa lain bisa maju, menurut Arsalan, karena mereka bekerja keras dalam membangun kemajuan, terutama dalam membangun kualitas ilmu pengetahuan. Artinya dalam pandangan Syakib Arsalan umat Islam punya peluang yang sama untuk membangun kemajuan seperti bangsa lain yang telah mengukir kemajuan itu. Tinggal bagaimana etos kerja ke arah ilmu pengetahuan itu di hidupkan. Sebab Islam pernah jaya pada periode Ashr ad-Dzahab (era keemasan Islam) di zaman Abbasiyah.

Pada bagian akhir dalam bukunya Syakib Arsalan mengutip ayat seputar jihad. Tapi bukan jihad dalam arti perang seperti yang dipahami oleh firqoh garis keras. Jihad yang dimaksud oleh Arsalan adalah sebuah usaha keras dalam membangun kemajuan ilmu pengetahuan. Sebab mencari ilmu dan belajar secara tekun dan mendalam adalah sebuah jihad yang paling utama untuk di tumbuhkan kembali saat ini.

Oleh: Moh. Jufriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *