Artikel

JANGAN LUPAKAN BEKAL AKHIRATMU

Dunia adalah kediaman manusia hari ini dan akhirat adalah kediaman abadi manusia esok nanti. Keduanya sama-sama pasti dijalani. Hanya saja bekal dalam menempuh dua kehidupan itu harus dipersiapkan secara adil sesuai porsi waktu dan jarak tempuh, artinya meskipun dunia dan akhirat kediaman hidup manusia, tapi jangka usianya berbeda, sehingga porsi bekal yang harus dipersiapkan harus lebih besar salah satunya.

Di dunia hidup manusia hanya sementara, sebab umur manusia – seperti disebutkan oleh nabi – hanya berkisar enam puluh atau tujuh puluh tahun, selebihnya manusia akan menempuh kehidupan akhirat yang abadi, tanpa batas akhir. Jadi bekal menuju akhirat ini tentu harus lebih besar daripada bekal untuk hidup di dunia yang sementara.

Penting pula kita pahami bahwa bekal dalam menempuh kehidupan dunia yang sementara hakikatnya tidak berat, sebab yang dibutuhkan hanya soal rezeki untuk bertahan hidup. Dan rezeki manusia dalam menempuh hidup di dunia kadarnya sudah ditentukan dan dijamin oleh Allah. Anehnya nafsu untuk mendapatkan bekal kekayaan yang berlimpah sering kali membuat manusia tidak terpuaskan, sehingga waktunya lebih banyak dihabiskan hanya untuk mencari bekal dunia yang tak selesai. Dampaknya akhirnya lalai dan lupa untuk mencari bekal untuk kehidupan akhiratnya yang panjang.

Teguran Allah terhadap mereka yang terlalu bernafsu untuk kaya, bermegah-megahan di dunia cukup sering kita temukan dan bisa dengan mudah kita jumpai didalam Al-Qur’an. Misalnya dalam surat a-Takatsur, Allah memperingatkan hal ini;

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ

“Telah membuat kalian lalai bermegah-megahan” (QS: At-Takatsur, 01)

حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

“Sampai kalian masuk ke dalam kubur” (QS: At-Takatsur, 02)

Imam al-Qurtubi menafsirkan ayat ini sebagai berikut:

أَيْ شَغَلَكُمُ الْمُبَاهَاةُ بِكَثْرَةِ الْمَالِ وَالْعَدَدِ عَنْ طَاعَةِ اللَّهِ، حَتَّى مِتُّمْ وَدُفِنْتُمْ فِي الْمَقَابِرِ.

Kalian sibuk bermegah-megahan dengan harta yang melimpah dan lalai dari taat pada Allah sampai kalian mati dan masuk liang kubur.

Terpukau dengan harta melimpah sampai abai dari mengingat Allah merupakan ciri khas orang yang terjebak dalam paham materialistik dimana orintasi hidupnya hanya soal duniawi. Dunia seolah tempat terakhir. Sudut pandang materialistis seperti ini sejak lama memang bermasalah. Untuk menghilangkan sudut pandang materialistis ini kita perlu kembali menghayati pesan spiritual dalam Al-Qur’an. Sebab pada umumnya mereka yang terlalu gila dalam mengejar harta yang melimpah sampai lalai dengan kewajiban tuhan dikarenakan hatinya kering dari pesan-pesan moral dalam Al-Qur’an. Dalam ayat Al-Qur’an, Allah sudah memperingatkan bahwa harta pada dasarnya adalah ujian untuk manusia. Manusia juga telah diingatkan oleh Allah bahwa manusia diuji dengan kekurangan harta, kefakiran, dan semacamnya.

Tujuan dibalik peringatan tuhan itu adalah agar manusia tidak terjebak dalam permainan dunia yang menenggelamkan. Ada banyak pesan mutiara dalam Al-Qur’an yang bisa menyadarkan kita tentang banyak hal soal jebakan dunia ini. Kita mungkin selalu lupa dengan pesan-pesan moral ini. Sehingga abai dengan tugas utama sebagai pencari bekal untuk masa depan di akhirat kelak.

Lantas apakah dilarang mencari bekal berupa harta yang melimpah. Tentu jawabannya tidak. Agama tidak melarang umatnya untuk mencari harta yang melimpah selama halal, yang terpenting hartanya dapat meningkatkan kualitas spiritualnya bukan malah membuatnya terjebak dalam kemewahan yang berlebihan, sehingga lupa siapa dirinya, siapa pula tuhannya dan apa kewajibannya.

Para sahabat nabi sendiri ada yang memiliki aset kekayaan yang berlimpah, tapi tak ada yang abai pada kewajibannya, juga tak pernah lupa untuk sadar bahwa kekayaan yang dimilikinya harus digunakan untuk kepentingan ukhrawinya dengan menyalurkan kekayaannya untuk kepentingan agama, jihad serta membantu orang-orang kecil. Kekayaan duniawi ditangan para sahabat menjadi bekal akhirat, sebab kekayaan oleh mereka hanya dimaknai sebagai sarana untuk semakin mendekatkan diri pada Allah bukan malah lari dan menjauh dari-Nya.

Oleh: Moh. Jufriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *