Artikel

KEDOK GELAP MUSUH ISLAM DIBALIK PENERBITAN KARIKATUR NABI MUHAMMAD

Protes keras pada majalah satir Charlie Hebdo yang berani menerbitkan karikatur nabi Muhammad terus mengalir sampai saat ini. Dibalik penerbitan karikatur penghinaan yang dikecam seluruh umat Islam itu, terselubung kebencian akut musuh Islam terhadap nabi Muhammad serta agama Islam. Kebencian yang berlebihan itu kini tampaknya mulai diangkat menjadi sebuah drama perang yang semakin menegangkan. Tentu umat Islam perlu mewaspadai segala bentuk tipu daya musuh Islam yang mulai menampakkan taringnya saat ini.

Banyak asumsi bermunculan bahwa presiden Perancis yang sangat tidak terpuji itu sengaja ingin memancing emosi umat Islam, terutama umat Islam garis keras, agar melakukan gerakan teror global, sehingga bisa dijadikan dalih oleh musuh Islam untuk kembali menyuarakan perang terhadap Islam sebagai agama teror. Asumsi ini tentu tidak berlebihan. Tindakan teror terhadap orang Perancis beberapa hari setelah isu panas itu yang ditengarai dilakukan orang Islam memperkuat dugaan bahwa aksi itu sudah pasti di potret oleh media Barat sebagai gejala kebangkitan terorisme dalam skala besar. Istilah terorisme yang sudah pernah disematkan Barat pada Islam Pasca tragedi 11 September 2001 itu kini ingin di “viralkan” kembali agar Islam tidak berkembang pesat di Eropa. Pertumbuhan Islam yang cukup signifikan beberapa tahun terakhir cukup mengkhawatirkan umat non-muslim disana yang memendam kemarahan dan kebencian yang mendalam pada ajaran Islam.

Konsep Islam rahmatan lil alamiin yang mulai semarak disuarakan oleh umat Islam di berbagai negara sepertinya membuat umat non-muslim gerah sekaligus khawatir bahwa kesan terorisme yang lama dilekatkan pada Islam itu akan luntur. Kekhawatiran itu tentu membuat mereka memutar otak agar kesan agama radikal tidak lenyap, bahkan selalu tumbuh. Radikalisme dalam Islam sendiri merupakan hasil rekayasa Barat pada Islam agar Islam selalu tampil sebagai wajah buram penuh kekerasan. Disisi lain rekayasa ini pula untuk menutupi jejak gelap sejarah penjajahan umat non-muslim (Perancis dan sekutunya) pada umat manusia. Melalui karikatur yang kontroversial itu tentu mereka ingin menunggu reaksi kasar dari Umat Islam untuk dipotret dan di rekam untuk dipertontonkan pada dunia global bahwa Islam agama yang kasar dan tidak damai.

Lalu apakah umat Islam saat ini perlu berhenti mengecam presiden Perancis agar Islam tidak dikenal sebagai agama yang suka menebarkan kecaman? Tentu jawabannya tidak demikian. Islam sebagai agama yang besar punya wibawa yang juga besar. Dengan menghentikan kecaman tidak berarti non-muslim yang hatinya sudah dipenuhi kebencian itu tiba-tiba akan mengubah cara pandangnya dalam melihat Islam. Artinya dalam Contoh paling spesifik, bukan berarti dengan menghentikan kecaman pada Perancis yang telah menerbitkan karikatur nabi Muhammad itu lantas mereka akan menghapus karikatur itu lalu minta maaf pada umat islam di seluruh dunia dengan penuh kerendahan. Barangkali terlalu lugu jika sekaliber presiden Perancis yang pongah itu kemudian tersentuh hatinya untuk bertobat dan merasa khilaf dengan perbuatannya yang jelas-jelas ingin melukai perasaan umat islam di seluruh dunia.

Menampilkan kembali karikatur nabi Muhammad yang pernah heboh tahun 2005 silam di Denmark itu tentu bukan sekedar ingin mencari sensasi panas di musim hujan, ada alasan gelap yang sengaja di sembunyikan penerbit majalah Charlie Hebdo untuk menghidupkan kembali terorisme. Alasan kebebasan berekspresi yang selalu disampaikan berulang-ulang oleh presiden Perancis pada dasarnya adalah kedok belaka agar kepentingan pragmatisnya terus berkembang. Dengan aksi boikot besar-besaran, umat Islam di dunia pasti paham bahwa ular yang berbisa harus dibiarkan terkunci didalam lubangnya tanpa makanan agar mati perlahan.

Oleh: Moh. Jufriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *