Kajian

KENAPA ADA PERANG DALAM ISLAM? KAJIAN PEMIKIRAN SYEKH SAID RAMADHAN AL-BUTHI (Bagian-04)

Setelah kita bisa memahami bagian pertama dari dzuruf ini kita bisa melihat bagian kedua berikutnya yang disebutkan oleh syekh Said Ramadhan al-Buthi dalam kitabnya al-Jihad fil Islam.

Kedua, munculnya Daulah Islamiyah (negara Islam) yang berkembang di atas tanah kota Madinah dengan segala unsur asasiyah-nya, seperti sekelompok manusia yang sudah bersikukuh, sistem yang mengikat setiap individu, tanggung jawab terhadap aturan negara, urusan administrasi, dan bumi tempat mereka berpijak.

Inilah situasi baru yang berkembang ketika kaum muslimin sudah menetap di kota Madinah. Lantas dengan sebab adanya situasi baru ini bagaimana sebenarnya konsep jihad baru yang bisa disandarkan pada Jihad ushuli (pokok/asas) seperti yang telah diajarkan nabi Muhammad pada sahabatnya ketika di Mekkah?

Konsep jihad baru ini pada dasarnya merupakan sebuah upaya untuk menjaga status umat Islam di negara Islam yang sudah terbentuk dan dibangun. Ada beberapa sebab yang dibutuhkan untuk menjaga status umat Islam di kota Madinah antara lain:

Pertama, Menentukan dan menjaga teritorial negara, membangun jaringan, melakukan langkah preventif untuk mewaspadai munculnya serangan musuh terhadap tanah yang sudah dikuasai oleh umat Islam serta tatanan masyarakat yang sudah dibangun diatasnya.

Kedua, Mengambil tindakan untuk melakukan perlawanan terhadap siapapun yang ingin merusak unsur-unsur penting dalam Daulah Islamiyyah maupun sistem yang sudah dibangun atau ingin menguasai bagian dari dari negara Islam yang sudah diberikan oleh Allah untuk umat Islam.

Ketiga, Memerangi siapapun yang menolak dakwah Islam, kecuali yang mau melaksanakan ajaran Islam yang sudah disampaikan oleh Rasulullah baik melalui penjelasan ataupun dialog. (Ini adalah model dakwah Rasulullah yang diperjuangkan bersama para sahabat sejak semula dengan damai tanpa peperangan)

Lalu kenapa pada saat itu muncul syariat perang? Pertanyaan ini dikemukakan jawabannya dengan jelas dan komprehensif oleh Syekh Said Ramadhan al-Buthi. Beliau menjelaskan bahwa perang disyariatkan setelah peristiwa hijrah karena dakwah saat itu berperan menjaga daulah (negara) serta pemimpin punya tanggung jawab untuk menjaga negara yang dipimpinnya.

Pemimpin sendiri memiliki tugas menjaga konstitusi serta bergerak melakukan ekspansi (futuhat). Sedangkan sebelumnya (di Mekkah) tidak ada jihad perang karena belum ada tanggung jawab konstitusi (negara belum terbentuk) juga belum muncul pemimpin yang bertanggung jawab secara politik.

Keempat, Memerangi orang yang melakukan perlawanan dari jazirah Arab penyembah berhala setelah umat Islam menyampaikan hakikat ajaran Islam kepada mereka serta menjelaskan penyimpangan ajaran batil mereka yang tidak masuk akal.

Disinilah sebenarnya konteks jihad qital (perang) yang dimaksud dalam sabda Nabi berikut:

أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ويقيموا الصلاة وأتوالزكاة، فإذا فعلوا ذالك عصموا مني دمأهم وأموالهم الا بحق الاسلام وحسابهم على الله تعالى
“Saya diperintahkan untuk membunuh manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat. Apabila mereka telah melakukan hal itu, maka mereka dijaga dariku; darahnya dan hartanya kecuali sesuai hak Islam. Sedang hisab mereka dikembalikan kepada Allah”

Sekedar catatan berkenaan dengan hadits diatas ada banyak orang yang salah memahami dan salah menempatkan hadits tersebut pada konteks yang sebenarnya. Harus dipahami bahwa dalam konteks dakwah ketika dakwah menghadapi perlawanan, maka Islam sebagai agama yang kuat tidak bisa tinggal diam. Artinya perang harus digelorakan sebagai langkah defensif (difaiyah) sebagaimana hal ini ditegaskan oleh Syekh Abdul Halim Mahmud. Beliau menjelaskan bahwa jihad perang yang berlangsung dalam Islam pada masa Rasulullah bukan karena agama, tapi karena ada perlawanan, sebab jika karena agama kata beliau, maka seharusnya yang diperangi pertama oleh Rasulullah adalah tokoh-tokoh agama (para pendeta) saat itu. Faktanya dalam sejarah, Rasulullah justru berpesan pada para sahabat (dalam medan perang) agar membiarkan para pendeta, kaum wanita dan anak-anak.

Maka menarik apa yang dijelaskan oleh Syekh Said Ramadhan al-Buthi tentang status kafir kitabi dan orang-orang yang bernaung dibawah hukum Rasulullah, bahwa mereka sudah dikecualikan dalam ayat jizyah (pajak) dan keumuman hadits. Mereka dibiarkan dalam kekafirannya selama mereka tetap membayar jizyah. Dalam konteks ini kita bisa melihat bahwa agama Islam tidak pernah memaksa penganut agama lain untuk masuk dalam ajaran Islam.

Bersambung

*Kajian Kitab Al-jihad Fil Islam sesi-02, karya Syekh Said Ramadhan al-Buthi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *