Artikel

KENAPA WAHABI MENUTUP MATA DARI KEAGUNGAN MAULID NABI?

Sikap ekstrem dalam memahami agama membuat firqoh wahabi menutup mata dari pandangan apapun yang bersebrangan dengan hujjah mereka, terutama pandangan yang moderat. Meski pandangan yang moderat itu muncul dari ulama panutannya sendiri, mereka akan tetap menolak dengan seribu alasan. Salah satu contoh paling konkret dalam masalah ini misalnya Maulid Nabi.

Sudah mafhum bahwa Firqoh salafi-wahabi menilai Maulid Nabi adalah bid’ah yang tercela. Tidak cukup bid’ah, bahkan kelompok ini dengan keras menyatakan bahwa Maulid nabi merusak Islam dari dalam. Penulis sebutkan ocehan mereka yang menganggap bahwa Maulid nabi bagian dari bid’ah yang merusak Islam dari dalam. Hal ini mereka sebarkan di dunia maya sejak lama. Lengkapnya ungkapan mereka begini: “Kenapa sih, kok yang diserang tahlilan, yasinan, berjanji, Maulid Nabi? Kenapa tidak dakwahin pelacur, pemabuk? Pelaku maksiat hanya merusak dirinya sendiri sedangkan ahli bid’ah merusak Islam dari dalam. Bid’ah adalah tikaman terhadap sifat amanah Rasulullah”

Pernyataan seperti ini tentu tidak berdasar. Bahkan menyalahi pernyataan ulama panutan mereka sendiri. Ungkapan yang sangat menjebak seperti ini tentu akan mudah di cerna dan diamini oleh masyarakat awam yang sudah di cuci otaknya oleh mereka untuk anti pada segala bentuk bid’ah. Ungkapan tak berdasar ini mereka sebarkan tentu karena mereka sudah jenuh menjawab tuduhan bidah yang sering di lontarkan umat netizen di kolom komentar.

Ibnu Taimiyyah sendiri yang sangat dibanggakan oleh mereka justru dalam kitabnya Iqtidhaal-shirat al-mustaqim menyebutkan bahwa merayakan Maulid nabi pahalanya sangat besar. Hal ini seperti yang beliau tulis ulasannya sebagaimana berikut:

فتعظيمُ المولد، واتخاذُه موسمًا، قد يفعله بعضُ الناس، ويكون له فيه أجر عظيم لحسن قصده، وتعظيمه لرسول الله صلى الله عليه وسلم

“Mengagungkan maulid dan menjadikannya sebagai musim berkala terkadang dilakukan oleh sebagian manusia. Dan dia mendapatkan pahala yang besar karena niatnya yang bagus dan mengagungkan Rasulullah”

Pernyataan ibnu Taimiyah ini tentu sengaja mereka tutup-tutupi dari kelompok mereka sendiri, bukan tidak tahu, tapi tidak mau tahu, agar hujjah mereka yang lemah itu tidak dikonsumsi oleh sasaran dakwah mereka. Sebagai kelompok yang lahir dari rahim pemikiran ibnu Abdul Wahab, mereka akan selalu menampilkan paham mereka seolah benar dan sesuai dengan sunnah. Titik. Padahal hakikatnya mereka ingin menyebarkan paham yang sesuai dengan hawa nafsunya sendiri. Sebab itu, mereka tidak pernah mau menerima (taslim) dengan teguran dan hujjah lawan. Hujjah kuat seperti apapun yang dibangun untuk mematahkan argumentasi mereka, mereka tetap saja gelap mata dan menutup hati. Kebenaran bagi mereka adalah apa yang lahir dari paham mereka sendiri bukan dari orang lain. Mereka memonopoli surga dan mempersempit rahmat Allah yang luas. Wal Iyadzu billah.

Oleh: Moh. Jufriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *