Artikel

KETIKA MANUSIA DIBAWAH KENDALI TEKNOLOGI

Teknologi sudah berkembang subur dewasa ini. Dari yang mikro sampai yang makro, semuanya tumpah ruah didepan mata. Teknologi memang luar biasa memanjakan manusia dengan segala kecanggihan dan keunikannya. Dalam perkembangannya kedepan, teknologi tentu akan lebih gila dan mencengangkan. Sejak era industri berkembang, kegilaan orang-orang untuk menciptakan teknologi memang gencar dan sangat diapresiasi. Secara berangsur-angsur perkembangannya terus melejit dan mengagumkan dari masa kemasa.

Di awal perkembangannya, teknologi memiliki peran sangat besar terhadap peningkatan ekonomi global dibarat. Tentu karena perannya yang besar itulah yang menumbuhkan semangat ilmuwan untuk terus meneliti dan mengembangkan teknologi agar lebih instan, lebih super dan gampang pakai. Mulanya teknologi sendiri dikembangkan untuk mempermudah pekerjaan manusia. Di era kebangkitan industri, pengolahan lahan yang semula sangat bergantung pada tenaga manusia akhirnya perlahan digeser perannya oleh tenaga mesin.

Seiring pertumbuhannya yang terus meningkat, menjelang abad 20 teknologi nuklir dan bahan-bahan kimiawi gencar di rakit dan dikembangkan, terutama karena suasana perang dan persaingan sedang memanas. Sayangnya produksi teknologi tersebut berakibat dengan luluh lantaknya negara-negara oleh perang nuklir dan pengeboman. Perang Dunia-I dan Dunia-II meletus dan memakan jutaan korban. Sejarah mencatat abad 20 sebagai abad yang berdarah-darah. Teknologi yang semula dibangun untuk mempermudah pekerjaan manusia pada abad 20 justru beralih menjadi senjata yang mengoyak kehidupan manusia. Puncak terbesarnya adalah hancurnya kota besar Hiroshima dan Nagasaki di Jepang.

Melihat fenomena berdarah itu, sebagian ilmuwan yang memiliki spirit agama dan kepekaan sosial angkat suara. Mereka menilai bahwa teknologi telah kehilangan kendali karena dikuasai oleh tangan-tangan manusia yang lupa pada tuhan, tidak peduli pada kemanusiaan serta jiwanya sudah didominasi keserakahan dan keangkuhan. Sosialisme turut berkontribusi pada kehancuran ini.

Setelah jeda sebentar dari suasana perang, dewasa ini seiring pesatnya pengaruh sosial media dan perangkat teknologi, suara pertentangan dan kebencian kembali mencuat dan kerap menimbulkan kegaduhan. Kemajuan dibidang IT belakangan ini kerap kali di fungsikan secara tidak sehat oleh tangan tak bertanggung jawab untuk melukai dan menciderai orang lain. Teknologi semakin gencar dijadikan perangkat untuk mengelabui dan menodai lawan baik lawan politik, agama, bisnis dan jabatan. Lebih dari itu teknologi sudah dimanfaatkan sebagai media memprovokasi massa, mencuci otak dan mengkaburkan kebenaran. Kemajuan yang sejatinya untuk meningkatkan mutu keilmuan dan pengembangan ekonomi global, saat ini justru banyak dijadikan senjata melumpuhkan perekonomian lawan.

Pada dasarnya, pengembangan teknologi seharusnya selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan, harus selaras pula dengan pesan-pesan moral dalam agama. Sebab tanpa itu motivasi besar dalam menguasai teknologi hanya dipengaruhi egoisme dan keserakahan diri. Generasi yang tumbuh saat ini dituntut untuk mengimbangi kemajuan teknologi dengan kedalaman ilmu agama agar teknologi berkembang sesuai spirit agama. Generasi millenial saat ini harus senantiasa melihat bahwa tragedi pada perang dunia I dan ke-II cukup menjadi kenangan sejarah dan pelajaran agar tidak ada lagi bom nuklir dijatuhkan. Teknologi saat ini dan seterusnya harus dikendalikan sesuai semangat kepatuhan pada Allah pencipta alam, agar keseimbangan alam terus terpelihara sehingga manusia yang tumbuh didalamnya hidup damai dan tenteram. Ketika spirit agama mengendalikan teknologi maka dunia akan cerah dengan cahaya ilahi.

Oleh : Moh. Jufriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *