Akidah

KH. NAWAWI BIN ABDUL JALIL DAN BUKU DIMANAKAH ALLAH

Saat-saat saya masih santri, saya kadang menemukan “musykilat” seputar akidah. Kadang musykilat itu membuat isi kepala menjadi tidak nyaman. Karena akses pengetahuan kitab kuning saya waktu itu sangat minim, maka untuk menemukan jawabannya saya langsung mencari buku tanya-jawab “Dimanakah Allah?” karya KH. A. Nawawi bin Abdul Jalil, Sidogiri. Didalam buku itu, saya menemukan jawaban yang sangat memuaskan. Musykilat yang muncul dalam kepala saya seketika hilang dan pikiran kembali tenang.

Kenapa saya memilih buku tanya-jawab “Dimanakah Allah?” bukankah buku-buku lain serta kitab-kitab yang mudah dicerna cukup banyak? Ada beberapa alasan saya cocok dengan buku itu.

Pertama, karena Buku tanya-jawab “Dimanakah Allah” ini berisi pemikiran KH. A. Nawawi bin Abdul Jalil yang dalam pandangan saya beliau adalah figur kiai yang sangat alim, zuhud dan wara’ sehingga sangat tidak perlu diragukan kapasitas beliau dalam menjawab persoalan yang sangat prinsipil dalam Islam.

Ditengah derasnya arus pemikiran liberal waktu itu saya dalam membaca sebuah buku, terutama buku akidah dan pemikiran memang sangat selektif, karena saya tahu buku sangat menentukan arah pemikiran seseorang. Munculnya kesalahan berfikir kaum liberal yang hangat isunya waktu itu tentu karena terlalu gemar membaca buku teologis dari sumber yang salah. Buku karya KH. A. Nawawi bin Abdul Jalil tentu berbeda. Buku ini jelas sumbernya, jelas sanadnya. Buku ini menjawab berbagai pertanyaan yang cukup urgen dalam akidah yang banyak muncul di tengah masyarakat. Buku ini berisi pemahaman Akidah ahlussunah Wal Jamaah yang beliau jelaskan untuk meluruskan pemahaman serta kebingungan umat tentang konsep akidahnya.

Kedua, karena buku itu diterbitkan oleh pondok pesantren Sidogiri. Bagi saya Pondok pesantren Sidogiri adalah pesantren salaf yang sangat gencar menolak segala paham pemikiran yang menyimpang. Siapapun pelakunya. Sidogiri dimata saya adalah kiblat dalam memahami akidah Islam yang benar yang sesuai dengan pemahaman ulama Ahlussunah Wal Jamaah. Ini bukan berarti pesantren lain tidak bisa jadi kiblat, melainkan karena yang saya lihat Sidogiri merupakan salah satu dari banyak pesantren yang paling concern dalam menyebarkan paham aswaja serta paling getol menyoroti penyimpangan aliran yang muncul dan membahayakan umat. Disamping pula pondok pesantren tempat saya nyantri selalu berkiblat pada Sidogiri dalam segala aspek, baik dalam aspek keilmuan sampai aspek lain yang sifatnya sekunder. Waktu itu pengaruh buku-buku Sidogiri cukup dominan pada santri, terutama santri macam saya yang masih berumur belasan yang baru kenal kitab dan buku-buku.

Kembali pada Buku “Dimanakah Allah”. Buku itu sampai detik ini bagi saya sangat mencerahkan. Setiap kali saya membacanya saya selalu merasa menemukan ilmu baru yang tidak saya temukan sebelumnya. Buku ini penting dibaca dan ditelaah terutama bagi para penggelut pemikiran yang kerap mempertanyakan persoalan akidah yang rentan menimbulkan penyimpangan.

Buku ini mengupas persoalan yang cukup esensial dalam Islam. Pertanyaan seputar “Tuhan” yang selalu hangat dan tidak habis diperbincangkan secara umum semuanya di bahas dalam buku ini dengan bahasa yang mudah. Pertanyaan seputar Tuhan, terutama tentang “dimana Tuhan?” belakangan ini kerap menimbulkan perdebatan, terutama di sosial media. Perdebatan ini sebenarnya dipicu oleh Kubu salafi Wahabi yang lantang mendakwahkan kepada masyarakat luas bahwa tuhan itu diatas langit. Pola dakwah Wahabi yang memaksakan keyakinan teologisnya itu tentu sangat berbahaya bagi kemurnian akidah umat Islam di Indonesia. Sebab masyarakat yang awam mudah tertarik dan meyakini apa yang sudah disampaikan oleh seorang yang sudah bergelar “ustadz”, meskipun ustadz itu berpaham Wahabi.

Buku dimanakah Allah ini menurut saya selalu relevan untuk dibaca, sebab pertanyaan tentang dimanakah tuhan akan selalu muncul. Kalangan awam yang akses pengetahuan kitab kuningnya terbatas tapi selalu dihantui oleh pemahaman Wahabi sangat perlu membaca buku ini untuk menghindar dari penyimpangan yang belakangan ini makin gencar disuarakan oleh firqoh salafi-wahabi.

Selain buku “Dimanakah Allah”, karya KH. A. Nawawi bin Abdul Jalil yang berjudul “al-ma’man min ad-Dhalal” juga sangat berkesan, karena saya pernah membacanya juga meski sebagian dan tidak hatam. Cukup menyesal tidak sempat istifadah pada beliau walau sebentar. Jadilah saya hanya santri kaleng-kaleng yang hanya tahu tidur dan makan.

Kini KH. A. Nawawi bin Abdul Jalil telah pergi. Baru saya menyadari bahwa kitab beliau telah mencerahkan hidup saya dengan ilmu yang sangat berarti. Beliau Murabbi ruhi. Memang telah tiada, tapi karya beliau insyaallah akan senantiasa ada. Semoga saya yang awan ini diakui santri, meski tidak sempat nyantri di Sidogiri dan meski hanya ikut daurah aswaja beberapa tahun lalu sebelum pandemi.

Selamat jalan kiai, semoga ilmu yang telah kau ajarkan bermanfaat untuk kami yang masih disini.

Oleh: Moh. Jufriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *