Artikel

KHAWARIJ VS MUKTAZILAH, ANTARA RADIKALISME DAN LIBERALISME

Ahlussunah sebagai refresentasi Islam yang haq selalu menghadapi tantangan dari berbagai sempalan yang muncul dari masa kemasa. Munculnya aliran baru dalam setiap pergantian sejarah selalu tampil dengan kemasan yang tampak membela kebenaran, karena gerakannya yang massif yang seolah-olah berangkat dari spirit kebenaran al-Quran dan Hadits. Padahal sejatinya aliran-aliran yang muncul dengan massif itu sedang terjebak dalam pemahaman yang salah dan tersesat.

Dalam Islam, aliran yang muncul-tenggelam cukup banyak. Penulis akan fokus menyebutkan dua aliran pemikiran dalam Islam yang pernah viral serta memantik kontroversi di masanya. Kendati usianya tidak panjang, tapi pengaruhnya tetap ada saat ini. Salah satu sempalan dalam Islam yang terjebak dalam pemahaman yang sesat dan memantik kontroversi dimasanya adalah khawarij.

Khawarij merupakan aliran ekstrem pertama yang lahir di tubuh umat Islam. Aliran ini lahir di era pemerintahan khalifah sayidina Ali. Aliran ini sangat massif dalam mengkafirkan siapapun yang tidak sepaham, karena kebenaran bagi kelompok garis keras ini adalah hukum Allah. Hukum apapun yang tidak berdasarkan wahyu dari Allah adalah kafir. Karena terjebak dalam pemahaman yang sempit tentang kebenaran yang dibangun, kelompok ini tidak segan-segan untuk membunuh umat Islam sendiri yang sudah dianggap halal darahnya. Pembunuhan terhadap khalifah sayidina Ali adalah korban dari kesesatan berfikir kelompok ini.

Pada perkembangannya aliran ini tidak mampu menarik perhatian umum, sehingga usianya relatif singkat. Faktor utamanya barangkali karena pemikiran yang dibangun sangat kontroversial dan radikal. Ibnu abbas, yang merupakan pakar tafsir dari sahabat nabi pernah berdebat dengan kelompok ini. Ibnu Abbas menuturkan bahwa kelompok ini memang sangat tekun dan ulet dalam ibadah dan beramal. Sayangnya, pandangan sempit dalam memahami agama Islam membuat kelompok ini terjebak dalam pemahaman takfiri. Setelah Ibnu Abbas membantah paham teologis mereka yang sesat dan sempit itu, sekitar 2000 orang menyatakan bertaubat dan keluar dari barisan ini.

Selain khawarij, salah satu Aliran yang terjebak pada pemahaman yang kontroversial serta cukup viral di masanya adalah Muktazilah. Muktazilah merupakan aliran paling massif dalam mempromosikan aqidahnya di era al-Makmun. Pemikiran muktazilah pertama kali dibangun oleh Wasil bin Atha’, salah satu murid Hasan al-Basri yang keluar dari manhaj gurunya. Aliran teologis yang cukup berpengaruh pada era al-Makmun ini gencar mempromosikan paham teologisnya kekhalayak umum. Tidak hanya dipromosikan, aliran yang banyak dipengaruhi paham filsafah Yunani ini bahkan memaksa dan menyiksa para ulama yang menolak paham khuluqul qur’an (kemakhlukan al-Qurán). Imam Ahmad bin Hambal adalah salah satu ulama yang paling berat mendapatkan tekanan dan penyiksaan karena beliau sangat kuat menolak paham khuluqul qur’an yang gencar dipaksakan oleh aliran ini.

Paham Muktazilah menjadi paham resmi kenegaraan di era pemerintahan al-Makmun, karena pemikiran yang dibangun sesuai spirit pemikiran Yunani yang waktu itu sangat digandrungi oleh al-Makmun sendiri. Muktazilah menganggap kalamullah itu makhluk, karena kalau kalamullah itu qodim, berarti ada yang qodim selain Allah. Ini mustahil dalam pandangan teologi muktazilah. Disini mereka terjebak pada kesalahan berfikir yang cukup fatal. Sebab itu ujung-ujungnya mereka menafikan sifat tuhan. Pemikiran ala Muktazilah bertentangan dengan manhaj berfikir para ulama dan kaum muslimin, sehingga setelah periode al-Makmun pelan-pelan aliran ini kehilangan pengaruh. Pengaruhnya nyaris tamat setelah berhasil ditenggelemkan oleh rumusan teologis yang dibangun oleh Abul Hasan al-Asy’ari.

Namun demikian, dua aliran pemikiran ini tidak berarti benar-benar hilang dari sejarah serta tidak memiliki jejak pengaruh terhadap pertumbuhan pemikiran yang berkembang saat ini. Khawarij dan muktazilah kendati sudah tamat riwayat hidupnya, tapi gagasan besarnya masih berkeliaran dan mempengaruhi sebagian orang, bahkan sebagian kelompok. Kelompok ekstremis yang massif menyerang dan melakukan teror diberbagai Negara saat ini pada dasarnya adalah firqoh khawarij di era modern. Pemikiran besar khawarij di masa dahulu yang mengkafirkan umat Islam serta halal darahnya saat ini turut serta menyuburkan doktrin terorisme. Gerakan teror dengan membawa simbol-simbol Islam adalah refleksi jihad yang didasarkan pada paham khawarij di masa lalu. Lebih spesifik lagi, teologi khawarij juga menyusup pada gerakan wahabi yang gencar menuduh syirik umat islam dewasa ini.

Muktazilah sendiri, pengaruh pemikirannya hari ini bisa diperhatikan pada upaya desakralisasi yang banyak dilakukan oleh pemikir liberal. Upaya menundukkan nash-nash agama dibawah dominasi akal adalah ciri khas pemikiran liberal yang diadopsi dari pemikiran muktazilah di masa lalu. Di Indonesia pada era 80-an banyak pemikir liberal menganggap teologi muktazilah penting di promosikan kembali, karena dapat mendorong kemajuan, sementara Asyariyah pengaruh teologinya harus dihentikan, karena cenderung fatalistik dan menghambat kemajuan.

Di perguruan tinggi teologi muktazilah ini dikembangkan dan ditelaah melebihi kajian asyariyah. Saat ini teologi muktazilah masih tetap berkembang pada sebagian tokoh liberal. Baru-baru ini salah satu tokoh Islam liberal mengatakan bahwa doktrin Al-Manzilah Bainal Manzilatain dalam konsep muktazilah sangat sesuai dengan spirit moderatisme dan perlu diperjuangkan untuk menghentikan laju eksremisme dan terorisme yang selalu membawa simbol-simbol Islam. Untuk menolak konsep muktazilah ini, teologi Asy’ariyah harus senantiasa dihidupkan dan diperjuangkan.

Oleh: Moh. Jufriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *