Sosial

KIAI AHMAD SIDDIQ DAN LAIN-LAIN

Selain Kiai Hasyim Asyari, Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Bisri Sansuri, Kiai Abdurrahman Wahid, dan kiai-kiai legendaris NU, justru Kiai Ahmad adalah tokoh NU yang sama-sama penting. Tentu saja tokoh teras dan barisan kiai NU dalam sejarah tidak bisa diurai dalam catatan ini. NU memiliki ulama-ulama kondang sekaligus terus mencetaknya. Karena apa? Karena generasi muda NU ditempa karirnya di Ansor dan fatayat, kelak ia dipersiapkan sebagai generasi ulama NU. Ini adalah salah satu protapnya.
Kiai Ahmad Siddiq merupakan tokoh pembaharu NU. Bersama Gus Dur, ia meracik Khittah NU tahun 1984 dan mendorong pengakuan NU terhadap asas tunggal Pancasila. Khittah NU merupakan definisi geniologis pada konsep NU Kiai Hasyim Asyari. Khittah artinya adalah titik, yang secara formalnya NU dinyatakan bebas dari kepentingan politik manapun. NU murni organisasi sosial-keagamaan yang sejak beberapa dekade sebelumnya porsi terabaikan. NU tidak bisa dikoptasi oleh PPP. Juga tidak bisa dipelintirkan oleh parpol lain. Adapun hubungan NU-PKB merupakan hubungan historik. Karena PKB didirikan oleh para PBNU tahun 1998. Tapi PKB bukan milik NU. PKB adalah milik warga NU.
**
Kiai Ahmad Siddiq merupakan sosok yang luwes, lentur dan elastis dalam membawa NU ke arah kemajuan. Ia satu pemikiran dengan Gus Dur dalam hal reformasi NU, baik sisi managemen maupun aspek politik. Kiai Ahmad Siddiq tidak terpaku pada satu konsep pemikiran NU semata, tapi ia membuka mata terhadap arus global yang harus dijiwai oleh NU agar ia menjadi ormas yang siap tanding dan tangguh. NU haruslah menjadi pelopor modernisasi tradisional. Ber-NU haruslah dibangun berdasarkan pemikiran-pemikiran orisional namun tetap responsif terhadap tantangan dan arus dunia baru yang senantiasa datang silih berganti.
Kiai Ahmad Siddiq merupakan pribadi yang unik, piawai, legendaris dan mampu membawa NU dari poros kelas dua menuju gelanggang kemajuan. Dibawah kendali Kiai Ahmad Siddiq dan Gus Durlah, NU menjadi daya tarik besar bagi generasi muda. Generasi muda yakin dan optimis atas masa depan NU dikemudian. Mereka percaya diri dan bangga menjadi warga NU. Berkat beliau berdua, NU menjadi objek riset dan kajian-kajian ilmiah dunia luar. Peneliti-peneliti asing datang silih berganti untuk melakukan riset ilmiah terihak sepak terjang NU. Baik dari aspek politik, kemanusiaa, ideologi, toleransi, kebijakan pendidikan, formalisme Islam, kesehatan, terorisme. Semua pihak berduyun-duyun datang melakukan penelitian akademitik untuk meneropong NU lebih dekat.


Dalam berfiqih misalnya, NU ditangan beliau berdua tidak hanya berpangku tangan terhadap yurisprudensi Islam Imam Empat. Tapi jauh melompat ke arah lebih dinamis untuk menafsirkan fiqih lebih elastis, iklusif dan mengedepankan sisi kebangsaan. Banyak hukum fiqih yang diserap spiritnya dalam kerangka negara-bangsa. Dalam dunia pesantren, tokoh ikon tersebut sepakat untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan pesantren dan madrasah diniyah. Selain terus memantapkan langkah demi perkembangan ilmu agama, pesantren harus menjadi pelopor kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi-sains. Pesantren, selain harus mempertahankan yurisprudensi Islam, pesantren juga berbenah dari sisi intelektualisme akademiki, meliputi bahasa, keterampilan, sain, pemikiran, demokrasi, toleransi, kerukunan umat beragama, kesatuan dan persantuan.
Ternyata apa yang beliau berdua lakukan, dampaknya cukup monumental. Pesantren-pesantren NU maju pesat. Tidak hanya mengelola pendidikan agama dan ritual keagamaan, namun juga menyediakan lembaga pendidikan modern, sain, teknologi, pemikiran, dan kajian. Pesantren, saat ini telah maju menjadi pendidikan alternatif yang menyediakan dua kawah candradimuka untuk kebutuhan masyarakat.
Dari sisi figur, tokoh-tokoh pesantren, para asatidz, kiai dan ulama NU memiliki ruh pembaharuan dan jiwa nasionalis. Jiwa demikian, selain memang tertuang dalam dimensi pemikiran-pemikiran Islam, juga berkat jasa kedua bapak NU tersebut. Nasionalisme, dalam format pesantren terlihat lebih dinamis, meliputi pengembangan sumber daya manusia, pendidikan, kesehatan, politik, ekonomi, kebudayaan, toleransi dan sebagainya. Pesantren, telah maju pesat sebagai swadaya masyarakat tanpa ketergantungan pada negara. Secara akademik, tokoh-tokoh dan pengasuh-pengasuh pesantren benyak tampil sebagai sosok yang akademikus, tak sedikit dari mereka yang bergelar insinyur, dokotor, profesor, dokter, master dan lain-lain. Gelar demikian itu bukanlah semata-mata formalisme dan simbol. Tapi merukan merupakan suatu sinyalmen bahwa pesantren telah bangkit dan siap menyongsong abad 21.
Tokoh utama yang berjasa tak lain dan bukan adalah Kiai Ahmad Siddiq dan Gus Dur. NU bukanlah komunitas tahlilan semata, tapi merupakan organisasi keagamaan yang diwarnai oleh beragama ahli dan intelektual. NU tetap dalam pondasi utamanya sebagai jamiyah keagamaan sosial yang menjunjung tinggi nilai-nilai tradisional, tapi NU juga menjelma sebagai sangkar perubahan dan emas pertama yang dihuni oleh jaringan tokoh-tokoh dan ulama spesial. Kiai Ahmad Siddiq mengatakan, NU tidak ke mana-mana, tapi NU ada dimana-mana.


Sejarah perubahan NU terjadi tepat pada Muktamar PBNU ke 27 di Situbondo tahun 1984, dhalem Kiai Asad Samsul Arifin, ia merupakan salah seorang pendiri NU yang masih belum wafat kala itu. Dalam muktamar legendaris tersebut disepakati beberapa hal:

  1. NU menerima asas tunggal Pancasila atau sebagai asas NU.
  2. Pemulihan keutamaan ulama dengan memperkuat supremasi suriah atas tanfidiyah dalam status dan hukum.
  3. Penarikan diri dari partai politik praktis dengan melarang pengurus NU secara bersama memegang kepengurusan di dalam partai politik.
  4. Pemilihan pengurus baru denganmenekankan pada kegiatan non politik.
    Dari hasil keputusan tersebut, yang paling legendari adalah dua keputusan pertama yakni menerima Pancasila sebagai asas organisasi dan NU menyatakan keluar secara institusional dari aliran politik manapun.

Naiknya Kiai Ahmad Siddiq dan Gus Dur sebagai pucuk pimpinan NU sebagai harapan pemerintah dan para pemangku otoritas NU. Babak baru NU dimulai dan reformasi pemikiran, orientasi, manhaj dan NU mulai terbangun dan organisasi ini benar-benar miliki semua bangsa.
Memang, Asas Tunggal Pancasila sebagai ideologi negara dan asas NU secara resmi tertuang dalam tahun 1984. Namun, sebelumnyan tahun, 1983 digelar Munas Alim Ulama untuk membahas agenda krusila itu. Kiai Ahmad Siddiq sudah bersinar sebagai ulama pembaharu dan berwawasan kebangsaan. Untuk meyakinkan forum, Kiai Ahmad Siddiq menyampaikan makalah setebal 34 halaman. Di dalamnya dijelaskan bahwa peserta Munas hendaknya membedakan secara proporsional antara Pancasila dan Islam. Pancasila adalah ideologi hasil rumusan manusia. Sedangkan Islam adalah wahyu Tuhan yang bersifat absolut. Islam dan Pancasila tidak dapat campur adukan. Pancasila yang duniawi jangan diagamakan. Dan agama yang ukhrawi jangan di duniakan. Kiai Ahmad Siddiq juga gigih meyakinkan Munas umat Islam sah-sah saja berideologi apapun selama tidak bertentangan dengan Islam.
Kiai Ahmad Siddiq dikagumi sejumlah tokoh, antara Gus Dur, Nurcholish Madjid, Moh. Natsir . mereka kagum pada Kiai Ahmad Siddiq karena ia adalah tipikal ulama yang sebenarnya. Sosok kaliber Gus Durpun kagum akan jiwa luhur dan wawasan kebangsaan Kiai Ahmad Siddiq.


Sosok Kiai Ahmad Siddiq adalah pribadi yang paling fenominal karena jasa-jasanya terhadap NU. Ia adalahfigur yang menyelamatkan NU dari dilema politik saat itu. Kiai Ahmad Siddiq juga memiliki kelihaian dalam tulis menulis saat warga NU yang menjunjung tinggi budaya lisan. Salah satu buku yang paling memukau adalah “Khittah Nahdliyah”. Ia adalah peretas dalam kebuntuan antara Pancasila dan NU. Ia mampu mempertahankan Ideologi Pancasila sebagai dasar negara dan dipatuhi oleh lapisan generasi NU. Nilai-nilai unversalitas Pancasila dapat dipertahankan ditengah pluralias agama dan budaya yang mampu menjamin keutuhan suatu bangsa dan negara kebangsaan.
Setelah NU dicetuskan sebagai jamiyah murni, maka warga nahdliyin memiliki hak untuk membangun karir sesuai selera. Warga NU ada yang menjadi tentara, politisi, seniman, penyanyi, pelukis, polisi, akvokad, pengusaha, dai, muballigh, arsitektur, dan sebagainya. Maka, NU menjelma dimana-mana dan menjadi warna terendiri dalam kehidupan sosial. Setelah NU secara organisatoris menyatakan diri tidak terlibat dalam politik praktis, maka Kiai Ahmad Siddiq dan Gus Dur berbeda pandangan. Menurut Kiai Siddiq warga NU harus mencurahkan segalanya demi dakwah pendidikan. Gus Dur berpikir, dengan bebasnya NU dari politik praktis, maka warga atau elit NU memiliki peluang besar untuk berkaris didalam politik. Ada yang di Golkar, PDIP, PPP, tentara, polisi dan lain-lain. Gus Dur juga berbeda pendapat dengan Mahbub Junaidi perihal status khittah NU. Menurut Mahbub khittah NU tidak serta merta NU tidak terlibat dalam politik secara organisatiris. Massa NU yang jumlahnya puluhan juta harus ditampung dalam wadah politik NU. Dengan demikian, NU dapat memberikan kontribusi besar demi kemaslahatan warga nahdliyin. Berbeda dengan Mahbu, Gus Dur menyatakan bahwa NU harus benar-benar bebas dari jenis politik manapun. Dan warga NU dapat menyalurkan aspirasi politik digelanggang partai yang ada. Dan ternyata, pemikiran Gus Dur lebih orisinil. Dan nyatanya institusi NU sampai saat ini tetaplah merdeka dari kepentingan politik praktis.


Namun yang harus digaris bawahi adalah perjuangan NU terhadap bangsa dan negara tetaplah kuat. NU secara organisatoris bebas dari politik praktis. Namun, sebagai politik kebangsaan, seperti persaudaraan, persatuan, solidarotias dan kesetiakawanan sosial, kedaulatan rakyat, supremasi hukum dan penguatan pendidikan, kesehatan dan lain-lain NU berada digaris depan. Karena demikian ini termasuk bagian dari politik kebangsaan, politik persaudaraan, politik persautan, politik kemanusiaan, bukan politik partai, pilkada, pilpres dan sebagainya.
Politik kebangsaan seperti ini telah digarislah oleh para luluhur NU. NU tidak abstain terhadap ketimpangan sosial, tidak sinir terhadap pemerintah, dan tidak brutal terhadap perbedaan.
Semua ini, tampaknya terbangun dan menya-nyala setelah khittah NU 1984 di Situbondo setelah duet Kiai Ahmad Siddiq dan Gus Dur naik sebagai pengurus besar. Masa-masa itulah sebagai jendela perubahan dan kemajuan jamiyah tradisional ini. Beliau berdua berpikir realistik, bahwa NU sebagai organisasi besar diperlukan kepemimpinan yang tangguh, visioner, prospektif, dinamis dan tidak boleh terjebak oleh sekat-sekat pemikiran konservatif. NU haruslah maju dan warga NU haruslah dapat diberdayakan dengan menerapkan kebijakan pembangunan mental dan revolusi industri pemikiran.
Sebagai putra Jember, Kiai Ahmad Siddiq merupakan pribadi yang santun. Ia pula masih sebagai santri Kiai Hasyim Asyari dan sekretaris pribadi Kiai Wahis Hasyim, ayah Gus Dur. Kiai Ahmad Siddiq benar-benar menjiwai tradisi keluarga Tebuireng karena ia lama menempa diri disana. Kiai Ahmad Siddqi juga memuji Gus Dur yang memiliki keluasan pemikiran dan analisis cemerlang dalam merumuskan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Pada Muktamar PBNU di Situbondo itu, Gus Dur diberikan amanah untuk merumuskan Pancasila sebagai ideologi negara-bangsa. Komisi yang Gus Dur emban merupakan isu sensitif dan memerlukan kearifan dan merumuskan. Namun, ia tetap konsisten dan memiliki naluri jernih untuk merumuskan Pancasila sebagai ideologi negara. Usaha Gus Dur untuk mendapatkan konsensus terhadap masalah itu cukup sederhana. Gus Dur memberikan kesempatan kepada anggota sidang untuk merumuskan Pancasila sebagai ideologi negara dan asas NU. Setelah masing-masing anggota sidang diberikan hak untuk menguraikan dari sudut pandang dalil-dalil agama. Mereka sepakat bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan agama dan ia tidak dapat menggantikan posisi agama. Gus Dur menarik nafas lega. Ia puas karena kontroversi kemelut yang berkepanjangan dapat dilokalisir dalam rumusan anggun.
Untuk mendapakan rekomendasi dan kesepakatan perihan ideologi Pancasila itu, Gus Mus, teman dekat Gus Dur memujinya. Baginya, Gus Dur memiliki naluri tajam dan teknik diskusi yang piawai. Rumusan Pancasila sebagai persoalan berat hanya butuh 10 menit untuk mengambil kesepakatan. Dia cerdas, memang cerdas, kata Gus Mur.
Untuk lebih memfokuskan uraian dalam notes ini, secara spesial penulis akan uraikan hubungan NU dengan negara yang dirumuskan pada khittah NU tahun 84.

  1. Dengan sadar mengambil posisi aktif mengebolasi diri dalam perjungan nasional.
  2. Menjadi warga negara Indonesia yang menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 1945.
  3. Memegang teguh ukhwah dan tasamuh.
  4. Menjadi warga negara yang sadar hak dan kewajibannya; tidak terikat secara organisatoris dengan organisasi politik atau organisasi kemasyarakatan manapun.
  5. Warga yang tetap memiliki hak-hak politik.
  6. Menggunakan hak politiknya secara bertanggungjawab untuk menumbuhkan sikap demokratis, konstitusional, taat hukum dan mengembangkan mekanisme musyawarah.

Kehidupan NU dalam bernegara telah memetakan garis perjuangannya yang bersifat partisipatoris dan konstitusional. NU mengembil peran positif untuk tetap korek pada kekuasaan yang rentan diselewengkan. Sikap jantan NU terlihat saat pemerintahan otoritarianisme Orde Baru. Gus Dur, sebagai Ketua Umum PBNU terus bersikap sangat kritis. Sikap Gus Dur dihargai mahal karena NU kehilangan sejumlah sumber ekonominya. NU tetap senantisa bersifat simbiosis mutualistik terhadap negara. NU mengedepankan konsep konstitusional dalam bernegara.


Tentu kita berharap lahir dan tumbuh generasi-generasi Ahmad Siddiq muda yang memiliki kontribusi dan ketulusan untuk mengabdi pada NU tanpa pamrih. Kita berharap tumbuh Ahmad Siddiq-Ahmad Siddiq lain yang dapat menjadi penyejuk NU dan memiliki motivasi pengabdian yang tulus. Sebagai organisasi besar, NU harus dikelola oleh jiwa-jiwa besar, jiwa patriotik, tangguh dan sabar dalam menghadapi badai fitnah. Kiai Hasan Gipo, Gus Dur, Kiai Hasyim Muzadi, Kiai Said Aqil Sirojd adalah pribadi-pribadi luar biasa yang tetap setia untuk membangun NU dan memiliki diterminasi besar untuk menyalakan sinar cahaya Kiai Hasyim Asy’ari. Jika NU tetap dikelola jiwa-jiwa besar, maka kapal besar ini akan tetap berlayar dan berlabuh menuju dermaga surgawi dibawah bendera Nabi Muhammad SAW.


Walhasil, tak ada NU garis lurus, garis tepi dan garis miring. NU hanya satu yakni NU Hasyimi. Tak ada Pancasila murni, yang ada hanya Pancasila Indonesia. Tak ada Khittah garis lurus, yang ada hanya khittah NU produk 1984 di Situbondo Jawa Timur.

Oleh: Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *