Kajian

KISAH INSPIRATIF DARI LEMBARAN KITAB KUNING: AKIBAT TERTINGGAL SHALAT BERJAMAAH

Ketika di pesantren mungkin kita pernah ngaji kitab Al-Minah al-Saniyah, sebuah kitab tasawuf yang tipis tapi memuat sejumlah pelajaran penting yang sangat menyentuh. Kitab ini ditulis oleh seorang waliyullah, Al-Imam Abdul Wahab bin Ahmad As-Sya’rani. Diantara kita mungkin masih banyak yang belum mengenal beliau. Beliau dikenal sebagai Qudwah al-‘Arifin, teladan orang-orang bijak. (kewalian beliau akan penulis kisahkan pada kesempatan yang lain). Selain menulis kitab Al-Minah al-Saniyah, beliau juga menulis banyak kitab yang lain, salah satunya yang terkenal adalah Mizan al-Kubra.

Dalam kitab Al-Minah al-Saniyah yang ditulisnya, pada bab tentang pentingnya istiqomah shalat berjamaah, beliau banyak menceritakan kisah orang-orang yang tertinggal shalat berjamaah. Penulis sebutkan satu diantaranya yang sangat menarik berikut ini:

Dikisahkan bahwa Ubaidillah ibn ‘Amr Al-Qowariry adalah orang yang selalu istiqomah shalat berjama’ah sehingga ia tercatat tidak pernah absen berjamaah di setiap shalat lima waktu. Suatu ketika ia kedatangan tamu yang harus ia jamu terlebih dahulu, dan karenanya untuk saat itu ia tertinggal shalat bejamaah Isya’ bersama orang-orang di masjid. Mendapati shalat berjamaah sudah dilaksanakan, ia keluar untuk mencari masjid lain dengan harapan bisa menemukan jamaah lain agar tetap bisa melaksanakan shalat Isya’ dengan berjamaah, namun ternyata semua masjid telah ditutup. Akhirnya ia pulang dengan penuh kesedihan dan iapun melaksanakan shalat Isya sendirian, saat itu ia mengerjakan shalat Isya’ sampai 27 kali sebagai ganti karena telah tertinggal shalat berjamaah. Setelah itu, dalam tidurnya ia bermimpi menunggangi kuda bersama sekumpulan orang, semuanya berjalan serta namun ia selalu tertinggal dari yang lain dan tidak bisa menyusul dam sejajar dengan mereka. Salah satu diantara mereka menoleh dan berkata: “Engkau hanya akan membuat kudamu payah. Engkau tidak akan mampu menyusul kami”. Ia menimpali dengan bertanya: “Mengapa demikian?”. Lalu dijawab: “Sebab kami semua mengerjakan shalat Isya dengan berjamaah sedang engkau mengerjakannya sendirian”. Kemudian ia terbangun dengan penuh kesedihan.

Dibalik kisah ini, kita belajar bahwa sholat berjamaah bagi mereka yang memiliki spirit keimanan yang kuat sangat penting dan selalu diutamakan dari kepentingan yang lain. Melalui kisah ini, penting bagi kita muhasabah diri betapa kita sering lalai dan abai dengan kewajiban yang telah Allah tetapkan untuk kita. Shalat berjamaah sangat dianjurkan bukan hanya karena kita umat Islam, melainkan juga karena dalam shalat berjamaah ada makna spiritual yang besar. Shalat berjamaah dapat menghidupkan solidaritas, kebersamaan dan kesatuan umat. Dalam shalat berjamaah pula kita bisa merasakan status kehambaan kita selaku ciptaan Tuhan. Seseorang yang sadar dirinya sebagai hamba tentu akan selalu merasa bahwa dirinya rendah dan harus selalu patuh pada tuannya.

Kisah ini tentu tidak perlu penulis urai lebih jauh, cukup perlu dijadikan teladan untuk mengetuk hati kita yang terdalam. Semoga bermanfaat.

Oleh: Moh. Jufriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *