Akidah

CERDAS MEMAHAMI KONSEP TUHAN VERSI SYEKH MUTAWALLI AS-SYA’RAWI

Pertanyaan seputar konsep Tuhan merupakan topik lama yang tak kunjung usai. Mulai dari diskusi lintas agama hingga dalam ruang lingkup satu agama pertanyaan seputar tuhan selalu diulang-ulang dan selalu menyisakan sejumlah persoalan baru yang memberatkan. Dalam Islam, diskursus tentang konsep Tuhan tidak tunggal. Berbagai aliran pemikiran memiliki cara pandang berbeda tentang konsep Tuhan yang dipahaminya. Salah satu konsep yang kerap diangkat kepermukaan adalah tentang eksistensi Tuhan, tentang pertanyaan dimanakah Tuhan?

Dalam Islam, paling tidak ada dua jawaban berbeda yang cukup populer. Kita ambil contoh dari dua paham pemikiran yang berbeda yang pengaruhnya sangat besar saat ini yaitu Ahlussunah Wal jamaah dan Wahabi. Pertama, Ahlussunah Wal jamaah menjawab bahwa Tuhan itu tidak serupa dengan makhluk. Tuhan tidak bertempat. Kedua, aliran Wahabi menjawab bahwa Tuhan itu bertempat yaitu dilangit.

Kedua kubu ini sudah lama berdialog tentang perbedaan ini, tapi tampaknya dua kubu ini tidak pernah bertemu dalam satu kesepakatan. Hal ini karena kubu kedua (Wahabi) hanya berlandaskan pada makna tekstual dalam ayat Al-Qur’an dan memberi ruang yang kecil dan sempit pada akal. Sementara pihak Ahlussunah Wal jamaah disamping berlandaskan pada Al-Qur’an dan hadits juga memberi ruang pada akal untuk berfikir secara benar.

Kalau kita mau jujur dan terbuka, argumen Ahlussunah Wal jamaah Asya’irah lebih tepat, disamping argumentasinya juga sangat kuat. Kalau Wahabi menggunakan ayat mutasyabihat sebagai argumentasinya, Ahlussunah Wal jamaah justru menggunakan ayat muhkamat sebagai pijakan argumentasinya.

Wahabi misalnya dalam menetapkan Allah dilangit berdasarkan ayat berikut:
الرحمن على العرش استوى

Padahal para ulama dalam memaknai ayat diatas menggunakan dua pendekatan. pertama, tafwidh (menyerahkan maknanya hanya kepada Allah) kedua, takwil (memalingkan maknanya pada makna yang mendekati yang sesuai dengan kesucian Allah dengan memaknai kata istawa dengan istawla yang artinya menguasai). Dari dua pendekatan ini, tidak ada satupun ulama Ahlussunah yang mengartikan ayat ini secara tekstual dalam arti Allah duduk di Arsy seperti kebiasaan kelompok Wahabi. Kalau mereka konsisten dengan manhaj salaf seharusnya mereka tafwidh saja dalam memahami ayat ini sesuai manhaj ulama salaf.

Ahlussunah Wal jamaah sendiri dalam menetapkan eksistensi Tuhan berlandaskan pada ayat-ayat berikut;

١) ليس كمثله شئ)
٢) ولم يكن له كفوا احد)
Ayat-ayat ini secara shorih menyebutkan Allah tidak serupa dengan makhluknya dalam hal apapun, termasuk bertempat yang merupakan aktivitas makhluk. Maka dari sini dapat dipahami bahwa aktivitas makhluk seperti duduk sangat tidak relevan ketika disandarkan pada Allah sebagai pencipta makhluk. Kalau sudah tidak duduk atau bertempat lantas apakah layak ditanya dimana?

Syekh Muhammad Mutawalli As-Sya’rawi, ulama Mesir kontemporer menjelaskan dengan sangat baik tentang hal ini. Beliau menuturkan bahwa pertanyaan tentang kapan dan dimana adalah pertanyaan untuk manusia. Misalnya kapan lahir? dimana lahir? karena kapan menunjukkan waktu, dan tempat menunjukkan kondisi atau keadaan untuk suatu yang diciptakan. Lantas apakah layak pertanyaan kapan dan dimana ini diajukan bagi eksistensi tuhan pencipta alam, tentu tidak, kata beliau.

Beliau mendeskripsikan hal ini sebagai berikut: saya minum maka tercipta keadaan tertentu yaitu waktu dan tempat. Tapi kalau saya tidak minum lalu ditanya dimana kamu minum? loh saya tidak minum. Allah bukan makhluk. Tidak terkait waktu dan tempat. Saya minum berarti ada waktu dan tempat. Tapi kalau saya tidak minum berarti tidak ada kejadian apa-apa. Allah tidak tercipta, maka jangan tanya kapan dan dimana. Karena pertanyaan tersebut ditunjukkan untuk hasil dari suatu kejadian.

Apa yang disebutkan oleh syekh Mutawalli diatas sangat logis. Allah tidak mengalami perubahan suatu kejadian seperti duduk, berdiri dan semacamnya, sehingga sangat aneh kalau ditanya dimanakah Allah, sebab Allah tidak duduk atau berdiam di suatu tempat. Seperti kata syekh mutawalli diatas, saya tidak minum kok ditanya dimana kamu minum? aneh.

Oleh: Moh. Jufriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *