Akidah

MELACAK AKAR PEMIKIRAN WAHABI

Dalam diskursus pemikiran Islam, topik tentang kontroversi Wahabi memang selalu menarik untuk diangkat, sebab syubhat tentang sejarah dan pemikiran Wahabi selalu ingin-ingin ditutup-tutupi oleh kelompok ini bahkan seringkali dikaburkan fakta penyimpangan yang pernah terjadi di awal kemunculannya. Terlebih belakangan kelompok ini semakin berulah. Dakwahnya makin massif. Kelompok ini sangat percaya diri mengatasnamakan dakwahnya sebagai dakwah sunnah serta menamakan firqohnya sebagai kelompok salafi. Menurut versi mereka, kelompok mereka adalah kelompok paling salaf, paling sesuai manhajnya dengan manhaj salaf, paling sesuai Sunnah, dan paling anti dengan bidah, lebih-lebih dari syirik.

Wahabi seperti apapun jargonnya tetaplah kontroversi dan penolakan terhadap dakwah mereka akan tetap massif disuarakan umat Islam yang berpaham Ahlussunah-Asyairah. Sebab mereka berdakwah bukan bertujuan membawa umat ke jalan Allah, tapi berupaya menjauhkan umat dari jalan Allah. Meskipun mereka meyakini bahwa apa yang mereka ajarkan benar dalam pandangan mereka. Hal ini karena mereka berlebihan menilai sesuatu, jumud dan radikal. Mereka kerap menuduh syirik dan bidah tradisi keagamaan masyarakat Ahlussunah Wal jamaah yang telah berkembang cukup lama.

Kalau kita perhatikan kebiasan mereka yang berlebihan dalam beragama, mudah menuduh syirik dan bidah misalnya, kita akan mudah menemukan akar sejarahnya dari pendiri Wahabi itu sendiri, yaitu Muhammad bin Abdul Wahhab. Dalam sejarahnya, Muhammad bin Abdul Wahhab dalam menyebarkan paham wahabinya selain cara-caranya radikal, juga disertai pengakuan yang amat memalukan. Dia mempromosikan bahwa dirinya adalah orang yang paling mengerti makna kalimat tauhid dibandingkan manusia dari ujung barat sampai ujung timur. Tampak angkuh dan sombong memang. Menurutnya semua orang telah banyak yang tersesat, bahkan banyak melakukan kesyirikan, karena melakukan berbagai ritual keagamaan yang tidak sesuai dengan pemahamannya. Inilah cikal bakal lahirnya pemahaman kaku manhaj Wahabi yang getol menyuarakan kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah itu. Tampaknya kesombongan syekh Muhammad bin Abdul Wahhab diatas menular pada pengikutnya dimasa kini.

Di sosial media, karakteristik paham salafi-wahabi itu akan sangat tampak ketika seorang ustadz yang berpaham wahabi ini berbicara didepan jama’ahnya. Kita bisa mengetahui karakteristik mereka melalui berbagai aspek. Pertama, mereka mudah menyalahkan tradisi masyarakat Indonesia serta menyudutkan pendapat ulama yang tak sepaham. Kedua, mereka tidak jujur dalam mengutip pendapat ulama. Seperti hanya mengutip sebagian dan menyembunyikan bagian yang lain atau mengutip tidak pada tempatnya. ketiga, mereka gemar berbohong atas nama ulama. Keempat, menganggap hanya pendapatnya atau kelompoknya yang benar. Kelima, merasa paling tahu berbagai persoalan keislaman.

Karakteristik dakwah salafi-wahabi yang penulis sebut diatas hanya sebagian saja sebenarnya, sebab banyak hal tersembunyi lainnya yang bisa kita temukan dalam berbagai ulasan orang lain, terutama yang bersumber dari para ulama yang otoritatif maupun fakta lain yang tidak bisa dibantah. Intinya, penganut sekte Wahabi adalah firqoh gelap yang cara berfikirnya sangat tekstualis, konservatif dan sulit menerima pendapat orang lain.

Oleh: Moh. Jufriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *