Tasawuf

MEMBIMBING DENGAN CINTA DAN KETULUSAN ALA AL-GHAZALI: KAJIAN AYYUHAL WALAD (SERI-I)

Imam al-Ghazali sangat masyhur di dunia sebagai seorang ulama paling jenius dimasanya. Kedalaman ilmunya diakui bukan hanya oleh para ulama, tapi juga oleh para pemikir non-muslim dibarat. Karya-karyanya tidak hanya dibaca oleh kalangan pesantren, tapi juga sangat dikagumi bahkan sangat dinikmati oleh kalangan akademisi di berbagai perguruan tinggi di dunia.

Salah satu diantara Karya-karyanya yang sangat cemerlang dalam bidang tasawuf adalah kitab ayyuhal walad. Karya yang satu ini kendati kecil, tapi memuat sejumlah pesan mutiara yang sarat makna dan sangat menyentuh. Karya yang satu ini dipersembahkan oleh imam al-Ghazali untuk salah satu santrinya yang merasakan gejala keresahan yang mendalam, sehingga imam al-Ghazali menuliskan nasehat yang amat berharga untuk santrinya itu.

Pada muqadimah kitab Ayyuhal Walad, diceritakan bahwa salah seorang santri Imam al-Ghazali yang telah lama mengabdi dan berkhidmah kepada beliau merasakan gejala kegelisahan.

Santri itu menceritakan sendiri kegelisahannya: “Aku telah membaca bermacam-macam ilmu, dan telah kucurahkan umurku untuk mempelajarinya, namun saat ini selayaknya aku mengetahui apa saja ilmu yang bermanfaat bagiku dan akan menjadi sinar dalam kuburku dan mana ilmu yang tidak bermanfaat sehingga akan aku tinggalkan, sebagaimana sabda Rasulullah

اللهم اني اعوذ بك من العلم لا ينفع
“Ya Allah aku berlindung padamu dari ilmu yang tidak bermanfaat”

Kegelisahan yang dipikirkannya terus muncul dikepalanya, padahal santri tersebut sebenarnya sudah alim, sudah menguasai berbagai disiplin ilmu yang diajarkan imam al-Ghazali, tapi santri tersebut merasakan gejala kegelisahan rohani yang membuatnya harus meminta resep obat hati kepada gurunya.

Akhirnya santri tersebut menulis surat kepada sang guru, Imam al-Ghazali, untuk meminta nasehat dan doa, lalu ia mengatakan dalam suratnya, “Meskipun kitab karangan guruku seperti Ihya Ulumuddin dan yang lainnya telah mencakup semua jawaban dari permasalahanku, namun aku masih menginginkan agar guruku, Imam al-Ghazali menuliskannya pada lembaran-lembaran kertas agar bisa selalu bersamaku sepanjang hidupku dan Insyallah akan aku amalkan sepanjang umurku.”

Kemudian Imam al-Ghazali menuliskan nasehat-nasehatnya dalam lembaran-lembaran kertas tersendiri. Beliau memulai nasehatnya dengan ungkapan penuh kasih serta mendoakan muridnya dengan tulus:

اعلم أيها الولد والمحب العزيز أطال الله بقاك بطاعته وسلك بك سبيل أحبائه
“Wahai anakku tercinta. Semoga Allah memanjangkan usiamu agar bisa mematuhi-Nya. Semoga pula Allah memudahkanmu dalam menempuh jalan orang-orang yang dicintai-Nya.”

Ungkapan imam al-Ghazali pada muqadimah kitab Ayyuhal Walad ini tentu sangat menyentuh. Imam al-Ghazali memanggil muridnya itu dengan kalimat “Ayyuhal walad” yang kemudian menjadi judul kitab. Kalimat “Ayyuhal walad” sebenarnya merupakan panggilan kasih seorang ibu kepada anaknya. Tapi panggilan tersebut dipakai imam al-Ghazali untuk memanggil muridnya. Nada panggilan demikian tentu memiliki dampak fisikologis yang sangat menyentuh terhadap murid. Murid akan merasakan kasih sayang serta ketulusan dari gurunya. Kedekatan emosional kemudian terjalin kuat, sehingga nasehat seorang guru perlahan akan mudah meresap dalam diri seorang murid, ibarat seorang ibu yang nasehat tulusnya tentu selalu dikenang oleh seorang anak sepanjang hidupnya. Sebab bimbingan dan nasehatnya dimulai dengan ungkapan cinta, doa dan harapan.

Imam al-Ghazali membimbing dengan penuh cinta dan ketulusan. Itulah barangkali yang membuat imam al-Ghazali berhasil menanamkan pendidikan spiritual dalam mendidik jiwa murid-muridnya. Pendidikan ala al-Ghazali diatas perlu dikembangkan dan dihidupkan di era millenial seperti sekarang, sehingga pengaruh spiritual guru pada murid yang dididiknya benar-benar hidup.

Bersambung
Oleh: Moh. Jufriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *