Artikel

MENATA KEMBALI NIAT KITA

Niat memiliki kedudukan penting dalam diskursus Islam. Niat menjadi penting karena sangat menentukan buah dari amal perbuatan yang akan dilakukan. Cukup panjang penjelasan tentang niat ini. Ada hadits yang cukup populer dalam menjelaskan hal-ihwal niat ini sebagaimana berikut:

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan”

Dalam asbabul wurud tentang hadits diatas, diceritakan bahwa ketika Rasul Saw tiba di Madinah untuk hijrah, beliau berkhutbah dengan hadits tersebut, karena beliau mengetahui ada seorang sahabat yang melakukan hijrah untuk menikahi seorang wanita yang bernama Muhajir Ummu Qois, maka Nabi Saw mengingatkannya dan semua sahabatnya akan pentingnya niat di dalam berhijrah.

Dari peringatan nabi tentang pentingnya niat ini, kita bisa menarik benang merah bahwa orang yang tampaknya semangat berhijrah boleh jadi tidak mendapatkan pahala hijrah, karena niat hijrahnya salah. Dalam bahasa yang lain bisa dianalogikan sebagai berikut: orang yang tampak berjuang dalam hal ukhrawi boleh jadi tidak mendapatkan pahala ukhrawi, karena niat sebenarnya adalah duniawi. Kasus yang serupa banyak terjadi pula saat ini. Ada banyak orang yang tampaknya sangat taat beribadah karena sangat tidak terima ketika masjid ditutup oleh pemerintah, tapi faktanya siapa yang tahu kalau orang seperti itu tidak pernah sholat berjamaah ke masjid. Ini tentu tidak berlaku pada setiap orang. Karena ada banyak orang yang benar-benar selalu ingin berjamaah di masjid.

Dalam kasus yang berbeda kita bisa melihat misalnya ada banyak kandidat politik yang tampaknya maju ke Medan politik demi untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan, tapi niat sebenarnya yang diincarnya justru hanya uang dan kekuasaan.

Ada banyak contoh yang lain yang sangat luas sekali yang konteksnya sangat berkaitan dengan hadits di atas. Disini penulis sekedar menyebutkan contoh kecil saja. Hanya saja perlu digarisbawahi bahwa dalam contoh diatas yang penulis sorot adalah niat yang salah yang ada dalam hati kita bukan sebagai dalih untuk suudzon pada perbuatan orang lain yang tampaknya niatnya tidak baik. Sekali lagi maksudnya adalah kita kembali menata niat kita. Setiap kita ditentukan oleh niat kita masing-masing. Segala aktivitas yang tampak biasa boleh jadi akan jadi nilai luar biasa ketika niat yang ditanamkan benar dan baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *