Kajian

MENELAAH ADAT MADURA DALAM PERSPEKTIF ISLAM (Bagian-1)

Madura adalah suku yang memiliki banyak adat, sebagaimana lazimnya suku Jawa dan suku-suku lain yang juga kaya dengan adat dan tradisi. Adat sendiri dalam Islam sangat diperhatikan. Bahkan adat menduduki posisi hukum tersendiri yang tidak bisa diabaikan. Adat disini yang penulis maksud bukan adat dalam perspektif ilmu kalam yang berkonsekwensi pada hukum bid’ah, bahkan murtad. Adat dalam kajian yang lebih luas memang memiliki banyak sisi. Disini yang penulis sebut adalah adat dalam ranah fiqh. Adat dalam uraian ini adalah tradisi yang merupakan warisan para leluhur yang dirawat dan dilestarikan secara turun-temurun. Sulit dihilangkan, bahkan harus dipertahankan demi merawat jejak peninggalan sejarah para pendahulu.

Menentang adat yang berkembang di suatu daerah tentu ada konsekuensi berat yang harus di tanggung. Konflik dan pertentangan sudah pasti akan mengemuka. Para Wali Songo di masa silam tidak pernah memerangi adat yang berkembang di Nusantara. Karena pengaruh adat yang mengakar kuat ditubuh umat nusantara waktu itu sulit dihilangkan. Sehingga Islam oleh wali songo di adaptasikan dengan beragam nilai-nilai dan adat yang berkembang itu. Tapi tentu tidak semua adat di lestarikan sesuai kepercayaan masyarakat yang waktu itu secara umum beragama Hindu. Islam hadir untuk merubah kepercayaan yang telah mengakar tersebut dengan cara yang sangat ideal.

Salah satu usaha yang ditempuh oleh wali songo dalam mengubah adat yang berkembang di Indonesia kala itu adalah dengan memasukkan unsur spiritualitas Islam. Unsur ini akhirnya sangat kuat pengaruhnya dalam mengubah kepercayaan mendasar dalam tubuh masyarakat. Termasuk masyarakat madura sendiri yang secara umum memiliki corak yang sama secara adat dengan masyarakat Jawa. Sehingga ketika unsur kepercayaan telah hilang diganti dengan unsur spiritualitas Islam, Islam sebagai kepercayaan dan keyakinan kemudian diterima dengan lapang dada tanpa protes dan peperangan. Islam akhirnya tumbuh dan berkembang luas dalam waktu yang relatif singkat.

Adat atau tradisi yang semula sarat dengan takhayyul dan mitos itu kini dalam perkembangannya sudah tampak sangat Islami. Tidak perlu lagi diperdebatkan. Sebab adat yang lama yang sarat kepercayaan pada dewa, di era wali songo telah selesai dibahas dan unsur kepercayaan jahiliyahnya sudah dibuang jauh-jauh. Kalaupun sekarang ada kelompok tertentu yang menuduh adat yang sudah di Islamkan itu syirik dan bid’ah, sudah pasti mereka ini tidak belajar dari sejarah para pendahulunya. Adat atau tradisi Islami yang tidak saat ini adalah jejak perjuangan dan ppada eninggalan wali songo yang harus dipertahankan, karena selain mengandung nilai spiritual yang kuat juga mengandung makna budaya yang khas dan berharga. Jika saat ini kubu sebelah gencar menyuarakan bid’ah pada adat Islami yang ada, kemungkinan besar ada upaya dari mereka untuk menggantinya dengan tradisi gelap versi wahhabiyah yang jelas sumbernya.

Bersambung,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *