Tasawuf

MENGAPA HARUS MALU?

Diantara aspek yang membedakan antara manusia dengan hewan adalah sifat malu. Tuhan telah mengaruniakan sifat malu kepada manusia tidak pada hewan. Karenanya, mengapa hewan bersanggama tanpa mempedulikan dalam situasi sunyi atau ramai? Tentu karena hewan tidak punya sifat malu, tidak merasa bahwa tindakanya sedang disaksikan.

Berbeda dengan manusia, mereka selalu mempertimbangkan akibat yang akan terjadi, sebejat apapun manusia hampir ‘tidak mungkin’ bersanggama apalagi berzina ditempat ramai, karena sifat malu yang dimilikinya mereka merasa tindakannya yang tidak pantas apalagi jelek harus ditutupi dan dirahasiakan.

Dalam sebuah keterangan dijelaskan prihal pentingnya malu, tatkala ada seorang sahabat mengecam saudaranya lantaran pemalu dengan berkata: “Sungguh malu telah merugikanmu.” Nabi Muhammad menyanggahnya dengan bersabda: “Sudah biarkan saja dia malu karena malu adalah bagian dari iman”.

Dan ketika Nabi Muhammad serta ummat-Nya diberi amanat berupa kewajiban shalat sebanyak lima puluh waktu dalam sehari semalam, Nabi Muhammad tidak henti-hentinya memohon dispensasi agar jumlahnya dikurangi hingga pada akhirnya Allah memangkasnya menjadi lima waktu, dan Nabi-pun berhenti mengajukan permohonan lantaran merasa malu mondar mandir memohon dispensasi kepada Allah.

Malu termasuk prinsip dari ihsan yang termasuk bagian dari asas Islam. Dimana Nabi Muhammad ketika ditanya prihal ihsan oleh malaikat Jibril yang menjelma sebagai seorang leleki yang sedang berpergian, Beliau menjawab: “(Ihsan adalah) Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau sedang melihat-Nya, dan apabila engkau tidak dapat melihat-Nya maka engkau merasa bahwa sesungguhnya Allah melihatmu”.

Malu adalah merasa bahwa segala aktivitasnya selalu diawasi dan disaksikan, sehingga dengan rasa tersebut membuatnya berpikir dua kali untuk melakukan kejelekan karena merasa selalu diawasi dan dipandang. Satu contoh maling tidak akan bereaksi mencuri diwaktu siang, karena ia merasa malu kelihatan orang, sama dengan manusia kalau ia merasa selalu diawasi oleh Tuhan hampir mustahil ia melakukan segala macam larangan.

Namun akhir-akhir ini banyak orang yang sudah mengabaikan sifat malu yang Allah anugerahkan, hanyut dalam kemudahan berkat media digital, dengan seenaknya sembarangan melakukan tindakan, tidak peduli walaupun itu berupa larangan, mem-posting foto dengan pasangan, sedang melakukan kemaksiatan di publikasikan, bergandengan tangan, ciuman, pelukan dan seterusnya diposting ke media sosial, miris.

Bagaimanapun, sifat malu harus dijaga, dipupuk dan diwujudkan dalam setiap tindakan dan prilaku kita, lebih-lebih di era global dengan hadirnya media digital nyaris semuanya dapat dilakukan dengan mudah tak terkecuali melanggar aturan Tuhan. Sebagaimana diterangkan dalam salah satu hadits, Nabi Muhammad menjelaskan bahwa sifat malu adalah gerbang dari segala macam kebaikan. Dengan malu seseorang tidak akan bertindak sewenang-wenang dan yang terpenting dengan perasaan malu atas akibat yang ditimbulkan ia akan selalu mempertimbangkan matang-matang sebelum melakukan apa saja yang menerjang larangan Tuhan. | Moh. Yusli Efendi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *