Kajian

MENGENAL CIRI KHAS AHLUSSUNAH (PART-01), TRADISI ISLAM BUKAN TRADISI HINDU

Ahlussunah sangat kaya dengan tradisi keislaman. Tradisi-tradisi tersebut telah muncul sejak generasi salaf. Para ulama salaf adalah pelopor dibalik munculnya tradisi-tradisi yang mengakar kuat ditubuh umat islam saat ini. Tradisi tersebut misalnya adalah tahlilan, yasinan, selamatan, maulid nabi, dan lain sebagainya. Memang ada beberapa sumber sejarah yang cukup populer yang menjelaskan bahwa tradisi tersebut bermula dari tradisi ajaran Hindu. Dalam Islam sendiri tidak ada tradisi semacam selamatan dan tahlilan sebagaimana sudah mafhum dalam sejarah umat Islam.

Secara spesifik, istilah tahlilan, yasinan dan tradisi lain yang sangat populer di indonesia memang tidak di jumpai konsepnya yang khas itu di dalam sejarah islam dan di kitab kuning secara rinci. Tapi tidak berarti tradisi tersebut dilarang oleh agama sebagaimana tuduhan kelompok wahabi. Bukan pula tradisi tersebut tidak pernah ada sama sekali dalam sejarah generasi salaf. Sebab ada sejumlah riwayat yang di sebutkan oleh ulama yang otoritatif bahwa generasi salaf pernah memberikan contoh yang sangat mirip dengan tradisi keislaman yang berkembang saat ini, sehingga bisa disimpulkan bahwa sejumlah tradisi keislaman yang ada saat ini bisa dipastikan adalah kelanjutan dari tradisi ulama salaf yang sudah mengalami perkembangan yang semakin baik.

Berikut ini ada beberapa sumber otoritatif yang membahas tentang tradisi Islam yang oleh wahabi kerap dituduh bid’ah dhalalah. Disebutkan dalam berbagai kitab yang mu’tabarah bahwa Hafidz al-Kabir Abul Qasim Ibnu Asakir dalam kitabnya, Tabyiin Kadzibil Muftari Fi Ma Nusiba Ilal Imam Abil Hasan Al-Asy’ari bahwa dia telah telah mendengar Asy-Syaikh Al-Faqih Abul Fath Nashrullah Bin Muhammad Bin Abdul Qawi Al-Mishishi berkata:

توفي الشيخ نصربن ابراهيم المقدسي في يوم الثلاثاء التاسع من المحرم سنة تسعين وأربعمائة بدمشق وأقمنا على فبره سبع ليال نقرأكل ليلة عشرين ختمة
“Telah wafat asy-Syaikh Nashr bin Ibrahim al-Maqdisi pad hari selasa 9 Muharram 490 H di Damsyik. Kami bermukim di kuburnya selama tujuh malam, membaca Al-Qur’an pada setiap malam hingga dua puluh kali khataman”

Apa yang diceritakan oleh ibnu Asakir tersebut cukup jelas dalam memberikan informasi kepada kita bahwa para ulama di masa dulu pernah melakukan ritual khataman yang sebelumnya tidak pernah dicontohkan oleh generasi sahabat. Hal ini tentu bisa mematahkan dugaan kelompok salafi yang menuduh tanpa ragu bahwa tradisi yang berkembang di Indonesia semuanya bersumber dari ritual agama Hindu. Memang ada sejumlah pakar sejarah yang mengamati hal tersebut, tapi penting pula dicatat bahwa fakta sejarah juga menyebutkan bahwa esensi yang terkandung dalam tradisi Islam dan Hindu sangat jauh berbeda.

Dalam sejarah yang masyhur disebutkan bahwa pada era wali songo, tradisi Hindu dan Budha sangat banyak, sehingga para wali songo melakukan langkah strategis untuk menghidupkan tradisi Islam serta menghentikan tradisi musyrik yang berkembang waktu itu. Langkah kanjeng Sunan sangat cemerlang. Mereka memodifikasi tradisi Hindu yang ada agar sesuai tradisi Islam.  Kubu wahabi boleh saja menuduh tradisi tahlilan tujuh hari misalnya adalah tradisi umat Hindu, karena mereka memang alergi pada segala bentuk tradisi keislaman dan sempit dalam memahami hadits nabi tentang kullu bid’atin dhalalah.

Riwayat berikut justru menunjukan bahwa bacaan dalam tradisi tahlilan telah dicontohkan oleh generasi awal dalam Islam, bahkan bacaan berikut ini dikutip oleh Muhmmad Bin Abdul Wahab dari hadits marfu’ tentang tata cara berziarah kubur sebagai berikut:

وأخرج سعد الزنجاني عن أبي هريرة مرفوعا :من دخل المقابر ثم قرأفاتحة الكتاب وقل هوالله أحد وألهاكم التكاثر, ثم قال إني جعلت ثواب ماقرأت من كلامك لاهل المقابر من المؤمنين والمؤمنات كانوا شفعاء له إلى الله تعالى وأخرج عبد العزيز صاحب الخلال بسنده عن أنس مرفوعا: من دخل المقابر فقرأ سورة يس خفف الله عنهم وكان له بعدد من فيها حسنات. (أحكام تمني الموت للشيخ محمد بن عبد الوهاب.ج٣, ص:٧٥)
Imam Sa’ad az-Zanjani meriwayatkan sebuah hadits marfu’ riwayat Abu Hurairah : “Barangsiapa memasuki kompleks pemakaman lalu membaca surah al-fatihah, al-ikhlas, allhakumuttakatsur, kemudian berdoa inni jaa’ltu tsawabu maa qara’tu min kalamika liahlil maqabiri minal mu’miniina wal mu’minati (aku menghadiahkan pahala apa yang aku baca dari firman-mu kepada ahli kubur muslimin dan muslimat) maka semua ahlli kubur itu akan membantu ia dihadapan Allah di hari kiamat. Abdul aziz murid imam al-Khalal meriwayatkan hadits marfu’ dari Anas: “Barang siapa yang masuk ke pemakaman kemudian membaca surah yasin, maka Allah akan meringankan dosa-dosa ahli kubur tersebut, dan dia akan mendapatkan kebaikan sebanyak ahli kubur yang ada ditempat itu”

Menghadiahkan bacaan-bacaan khusus untuk orang Islam yang meninggal banyak disebutkan oleh ulama dalam berbagai sumber kitab yang otoritatif. Tradisi tersebut lalu dilanjutkan oleh wali songo dengan corak yang khas yang belum pernah ada sebelumnya. Selain sebagai salah satu upaya untuk menarik sasaran dakwah agar senang pada ajaran islam, juga sebagai upaya terbaik dalam menghilangkan pengaruh jahiliyah dan kemusyrikan yang masih subur waktu itu. Jadi jika saat ini masih muncul sekelompok orang yang tak berkelas mengklaim tradisi Islam di indonesia saat ini adalah tradisi Hindu, jelas itu merupakan pendapat yang sangat keliru dan mengada-ngada.

Oleh: Moh. Jufriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *