Kajian

MENGENAL STRUKTUR HADITS (Sanad, Matan dan Mukhrij) Part-1

Secara bahasa kata “Sanad” memiliki arti sesuatu yang tinggi atau sesuatu yang menjadi tinggi (dari kaki gunung). Dalam literatur lain ia diartikan dengan sesuatu yang dibuat sandaran atau pegangan (mu’tamadun) baik berupa tembok atau yang lain. Sebagai contoh, jika seseorang mengatakan “Fulanun Sanadun” maka maksudnya adalah “Seseorang itu dibuat sandaran atau pegangan”.

Adapun secara istilah kata “Sanad” memiliki arti mengabarkan jejak matan (kandungan/isi hadits). Dalam pengertian ini kata “Sanad” searti dengan “Isnad”. Sebagian ulama’ menyebutkan bahwa “Sanad” ialah cerita tentang alur matan. Versi lain menyebutkan bahwa “Sanad” tidak lain adalah jalan yang menyampaikan pada matan. Dalam sumber lain dikatakan bahwa “Sanad” adalah mata rantai (silsilah) rawi hadits yang mengantarkan pada matan.

Dari beberapa pengertian di atas kiranya dapat kita simpulkan bahwa “Sanad” ialah rawi/periwayat hadits yang mengantarkan pada matan atau isi hadits. Dengan demikian maka unsur sanad terdiri dari seluruh rawi/periwayat hadits yang menghubungkan masing-masing rawi mulai dari rawi yang mencatat dalam karyanya hingga rawi paling atas yang menerima matan hadits itu secara langsung dari Rasululah. Sebagai contoh, mari kita perhatikan hadits Rasulullah yang dimuat dalam Matn al-Bukhari bi Hasyiat al-Sanadi berikut:

حدثنا الحميدي عبد الله بن الزبير قال حدثنا سفيان قال حدثنا يحيى بن سعيد الأنصاري قال أخبرني محمد بن إبراهيم التيمي أنه سمع علقمة بن وقاص الليثي يقول سمعت عمر بن الخطاب رضي الله عنه على المنبر قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول “إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى فمن كانت هجرته الى دنيا يصيبها او الى إمرأة ينكحها فهجرته الى ما هاجر إليه”.

Artinya: Telah menceritakan kepadaku al-Humaidi Abdullah bin Zubair. Ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Sufyan. Ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Yahya bin Said Al-Anshari. Ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Ibrahim Al-Taimi bahwasanya ia mendengar ‘Alqamah bin Waqqash Al-Laitsi berkata: Saya mendengar Sayyidina Umar bin Khatthab berkata di atas minbar: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaini wasallam berkata: “Sesungguhnya setiap pekerjaan tergantung niatnya dan setiap orang mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang –niat- hijrahnya untuk dunia maka ia akan mendapatkan dunia itu atau –niat hijarahnya- untuk seorang medapatkan perempuan yang akan dinikahinya maka yang didapat dari hijrahnya adalah apa yang diniatkan di dalamnya.

Dalam hadits ini yang termasuk sanad berdasarkan pengertiannya yang telah diuraikan di atas adalah seluruh nama rawi mulai rawi terakhir yang mencatat dalam kitabnya yaitu Imam Al-Bukhari hingga rawi pertama yang menerima langsung dari Rasulullah. Jika diurai dari rawi yang paling bawah hingga rawi paling atas yang menerima langsung dari Rasulullah secara berurutan, maka nama-nama rawi tersebut adalah demikian: 1). Imam Bukhari, 2). Al-Humaidi Abdullah bin Zubair, 3). Sufyan, 4). Yahya bin Said al-Anshari, 5). Muhammad bin Ibrahim Al-Taimi, 6). ‘Alqamah bin Waqqash Al-Laitsi dan 7). Sayyidina Umar bin Khattab.

Dalam disiplin ilmu yang disebut dengan “Ulum al-hadits” atau “Musthalah al-Hadits”, disebutkan bahwa ada beberapa istilah yang memiliki kesamaan arti dengan kata “Sanad” atau dengan kata lain beberapa istilah ini seringkali digunakan untuk menggantikan kata “Sanad” dalam konteks periwayat hadits. Dr. Muhammad Abu al-Laits al-Khair Al-Abadi dalam karyanya Ulum al-Hadits Ashiluha wa Ma’ashiruha menyebutkan beberapa istilah tersebut sebagai berikut:

Pertama, Isnad. Kata Isnad memiliki kesamaan arti dengan kata “Sanad” dilihat dari sisi maknanya secara istilah. Dalam istilahnya kata Isnad memiliki dua arti yang diantaranya adalah jalan yang menyampaikan pada matan atau kandungan hadits. Silahkan perhatikan kembali beberapa pengertian “Sanad” secara istilah yang telah penulis uraikan di atas.

Kedua, Thariq. Dilihat dari segi maknanya secara istilah kata Thariq memiliki kesamaan arti dengan “Sanad”. Contoh penggunaan kata Thariq yang memiliki arti yang sama dengan “Sanad” ialah perkataan ulama’ hadits dalam menjelaskan sumberi hadits: “هذا من طريق الثوري” yang berarti: “Hadits ini datang/bersumber dari jalur Imam Al-Tsauri”.

Ketiga, Wajh. Kata Wajh jika dilihat dari segi makna istilahnya juga memiliki arti yang sama dengan kata “Sanad”. Menurut Imam Al-Tirmidzi penggunaan kata Wajh yang dimaksudkan pada pengertian yang sama dengan pengertian “Sanad” sangat banyak sekali. Salah satu contohnya ialah perkataan Imam Al-Tirmidzi sendiri: “هذا حديث غريب لانعرفه الا من هذا الوجه” yang berarti: “Hadits ini gharib atau asing, saya tidak menjumpainya kecuali dari jalur ini”.

Oleh: Mohammad Ali Sajuri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *