Kajian

MENGENAL SUMBER-SUMBER OTORITATIF DALAM PENAFSIRAN AL-QURAN (AL-TAFSIR BI AL-MA’TSUR) Bagian 3-Selesai

Kualitas Kehujahan dan Plus-Minus Al-Tafsir bi al-Ma’tsur

Secara umum Tafsir bi al-Ma’tsur merupakan metode penafsiran dengan peringkat kualitas tertinggi dibanding dengan metode penafsiran yang lain. Dalam hal ini, Musa Ibrahim Al-Ibrahim dalam Buhutsun Manhajiyyah fi Ulum al-Quran berpendapat bahwa tafsir model ini merupakan metode penafsiran paling baik, paling utama, paling terjamin keterselamatannya dari kemungkinan salah bahkan ia merupakan dasar dan asal dari semua macam-macam tafsir yang harus dijadikan rujukan manakala sanad dan periwayatannya terjamin shahih dan dapat diteliti secara cermat.

Sementara itu Muhammad Ali Al-Shabuni dalam Al-Tibyan fi Ulum al-Quran menyebutkan bahwa tafsir bi al-Matsur merupakan tafsir paling baik dengan catatan sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah atau sahabat. Mencermati apa yang dikemukakan oleh Al-Sahbuni ini kita mendapati satu sinyal bahwa sepertinya diantara metode penafsiran model ini ada yang sanadnya tidak sampai kepada Rasulullah dan sahabat, dan mungkin saja hal ini yang menjadi faktor munculnya perbedaan pendapat mengenai peringkat sekaligus kualitas kehujahan empat bagian tafsir bi al-Matsur sebagaiamana telah menjadi penilaian para ulama. Berikut penulis paparkan peringkat dan kualitas kehujahan masing-masing bagian tafsir bi al-Ma’tsur:

Pertama, penafsiran al-Quran dengan Al-Quran. Berbicara kualitas dan kehujahan empat bagian tafsir bi al-Matsur, tentu saja penafsiran al-Quran dengan al-Quran menempati pringkat pertama di atas tiga peringkat bagian yang lain. Para ulama menilai bagian ini merupakan yang paling baik diantara empat bagian tafsir bi al-Matsur dan yang paling baik dari semua macam metode penafsiran yang lain di luar metode penafsiran bi al-Matsur. Muhammad Abd. Adzim Al-Zarqani dalam Manahil al-Irfan menyebutkan bahwa sebagaimana yang telah menjadi konsensus para ulama, penafsiran al-Quran dengan al-Quran dan penafsiran al-Quran dengan hadits secara pasti dapat diterima dan dapat dibuat hujah. Muhammad Husain Al-Dzahabi dalam Al-Tafsir wa al-Mufassirun menyebutkan bahwa dua bagian pertama dari tafsir bi al-Matsur (penafsiran al-Quran dengan al-Quran dan al-Quran dengan hadits) memiliki peringkat ‘pasti diterima’ dan tidak memiliki sisi kelemahan dan celah untuk disangsikan. Lebih lanjut, Al-Shabuni memberikan alasan mengenai ini, ia menyebutkan bahwa peringkat tertinggi yang disandang metode tafsir bi al-Matsur bagian ini tidak lain karena Allah sendiri lebih mengetahui atas apa yang dikehendaki suatu ayat dalam al-Quran yang difirmankan-Nya, disamping itu al-Quran merupakan kitab dengan tingkat kebenaran yang mutlak, sebab tidak ada kekeliruan di dalamnya sejak dahulu hingga nanti sehingga penjelasan satu ayat tertentu terhadap kandungan ayat yang lain dapat dipastikan benar.

Kedua, penafsiran al-Quran dengan hadits atau sunah. Adapun penafsiran al-Quran dengan hadits yang menjadi bagian kedua dari tafsir bi al-Matsur sebagaimana kutipan Al-Zarqani di atas juga merupakan yang paling baik, dapat diterima dan juga dapat dibuat hujah berdasarkan konsensus para ulama. Alasan yang dikemukakan mengenai ini adalah bahwa al-Quran sendiri telah menjelaskan kapasitas Rasulullah dan fungsi-Nya terhadap al-quran yang diturunkan kepada-nya. Kaitannya Rasulullah dengan al-Quran, al-Quran memberikan ketegasan bahwa Rasulullah adalah sebagai pemberi penjelasan terhadap apa saja yang terkandung dalam al-Quran, baik berupa perintah, larangan, aturan dan lain-lain. Mengenai ini, Allah berfirman dalam al-Quran demikian:

…وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ (النحل [١٦] : ٤٤)

Artinya: … dan Kami turunkan kepadamu Al-Dzikr (Al-Quran), agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan. (QS: Al-Nahl [16] 44)

Ayat di atas dengan sangat jelas memberikan informasi mengenai kapasitas dan fungsi Rasulullah terhadap ayat-ayat al-Quran. Oleh karena itu, Al-Shabuni menyebutkan bahwa segala yang bersumber dari Rasulullah berupa uraian atau penjelasan yang disertai sanad yang shahih dan kuat sudah pasti diterima dan wajib dibuat pegangan.

Ketiga, tafsir Al-Quran dengan penjelasan sahabat. Mengenai kualitas kehujahan bagian tafsir ini para ulama juga berpendapat bahwa ia diterima. Alasan yang dikemukakan para ulama begitu beragam, sebagian menyebutkan bahwa hal itu dikarenakan para sahabat adalah orang-orang yang hidup bersama dalam satu preode dengan Rasulullah, berkumpul bersama-Nya, menerima ilmu dari sumbernya yang orsinel, menyaksikan wahyu dan turunnya al-Quran secara langsung, juga mengetahui secara cermat sebab-sebab turunya suatu ayat dalam al-Quran. Mereka juga memiliki kejernihan jiwa, kesucian fitrah, level yang begitu tinggi dalam tingkat kefasihan dan kemampuan memberikan penjelasan yang semua itu menjadikan mereka berkompeten dalam memahami kalam Allah dengan baik dan benar, juga menjadikan mereka lebih mampu mengetahui rahasia-rahasia al-Quran daripada orang lain kebanyakan.

Lebih jauh, imam Al-Hakim sebagaimana dikutip oleh Al-Shabuni menyebutkan bahwa penafsiran para sahabat terhadap ayat al-Quran dimana mereka merupakan orang-orang yang menyaksikan secara langsung wahyu dan turunnya al-Quran memiliki kualitas hukum marfu’, ini artinya bahwa penafsiran para sahabat sebanding dengan kualitas hadits yang disandarkan kepada Nabi Muhammad.

Keempat, tafsir al-Quran dengan penjelasan tabiin. Adapun tafsir Al-Quran dengan penjelasan yang dikutip dari tabiin sesungguhnya masih terjadi perbedaan diantara para ulama, hal ini sebagaimana disinggung dalam tulisan sebelumnya. Bahkan sebagaimana disebutkan oleh Muhammad Abd. Adzim Al-Zarqani bahwa untuk tafsir bi al-Matsur bagian ini para ulama masih memberikan beberapa komentar khusus:

Pertama, para generasi kedua (tabi’in) bukanlah orang yang menyaksikan langsung masa kenabian dan tidak mendapat didikan langsung dari Rasulullah, maka ini memungkinkan ada peluang penafsiran yang bersumber dari mereka tergolong tafsir bi al-Ra’yi yang tidak memiliki keualitas hukum marfu sebagaimana para sahabat.

Kedua, sanad penafsiran yang diriwayatkan dari tabi’in jarang atau sedikit yang memiliki kualitas shahih.

Ketiga, penafsiran yang bersumber dari tabiin ada yang memuat cerita israiliyat dan khurafat yang kadang disandarkan pada kafir zindiq dari negara Furs, kadang pula disandarkan pada Musailamah Al-Kadzdzab, baik itu disertai tujuan dan niat yang baik atau tidak.

Dari paparan di atas kita mendapati informasi penting, tidak hanya mengenai kualitas kehujahan tafsir bi al-Matsur bagian ini (tafsir al-Quran dengan penjelasan tabi’in) tetapi juga mengenai pengkategorian tafsir bagian ini; antara tafsir bi al-Matsur atau tafsir bi al-Ra’yi, namun demikian sebagaimana penulis singgung pada tulisan sebelumnya bahwa betapapun masih terjadi silang pendapat mengenai kehujahan tafsir bagian ini, mayoritas ulama sesungguhnya telah memasukkannya ke dalam kategori tafsir bi al-Matsur dan dapat dibuat hujah dengan catatan ia bersumber dari tabiin yang adil. Hal ini juga diperkuat dengan fakta kitab-kitab tafsir yang dominan menggunakan metode tafsir bi al-Matsur yang memasukkan tafsir bagian ini di dalamnya.

Adapun mengenai keunggulan dan kelemahan (plus minus) metode tafsir bi al-Matsur kita bisa merujuk pada apa yang telah disebutkan pada tulisan sebelumnya mengenai komentar ulama’ tentang kehujahan tafsir bi al-Matsur di atas yang di satu sisi memberi kesimpulan keunggulan (nilai plus) metode penafsiran ini dibandingkan metode penafsiran yang lain. Artinya diantara keunggulan tafsir dengan metode ini adalah bahwa ia merupakan metode tafsir paling utama, terjamin benar, menjadi asal dan dasar dari semua macam tafsir dan karenanya harus dijadikan rujukan, serta ia merupakan metode tafsir paling baik jika sanad penafsirannya bersambung sampai pada Rasulullah dan sahabat.

Namun demikian, di sisi lain ada celah yang menjadi sisi kelemahan (nilai minus) metode penasfiran ini. Al-Shabuni menyebutkan bahwa kelemahan metode penafsiran ini setidaknya dapat dilihat dari beberapa hal berikut:

Pertama, adanya pencampuran riwayat antara yang shahih dengan yang tidak shahih sebagaimana dapat kita kenali dari berbagai informasi yang sering dihubungkan kepada sahabat dan/atau tabiin tanpa memiliki rangkaian sanad yang valid sehingga membuka peluang kemungkinan pencampuran antara yang haq dan yang batil.

Kedua, dalam kitab-kitab tafsir yang menggunakan metode tafsir bi al-Matsur sering dijumpai kisah-kisah israiliyat yang penuh dengan khurafat, tahayul dan bid’ah yang seringkali menodai akidah islamiyah yang sangat steril dari hal-hal semacam itu.

Ketiga, sebagian pengikut madzhab tertentu seringkali memalsukan suatu pendapat dan membuat-buat kebohongan lalu disandarkan pada para sahabat. Semisal kelompok syi’ah (pendukung) sayidina Ali yang ekstrim yang memunculkan suatu pernyataan yang disandarkan pada Sayidina Ali padahal Ia (Sayidina Ali) tidak pernah memberikan pernyataan itu.

Keempat, sebagian orang kafir zindiq yang notabene memusuhi Islam menyisipkan kepercayaan melalui sahabat dan tabiin sebagaimana halnya mereka juga berusaha menyisipkannya melalui Rasulullah di dalam hadits-hadits Nabawiyah, hal itu dilakukan tidak lain untuk menghancurkan Islam. | Mohammad Aliy Sajuri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *