Artikel

MENGHIDUPKAN KEMBALI DAKWAH WALISONGO

Islam sudah masuk ke Indonesia jauh sebelum kehadiran walisongo, kendati perkembangannya tidak pesat seperti pada era walisongo. Dalam banyak catatan sejarah disebutkan bahwa Islam sudah masuk ke Indonesia pada abad ke-7. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Agus Sunyoto dalam bukunya Atlas Wali Songo. Para saudagar arab jauh sebelum wali songo sudah membangun jalur perdangan dan sudah sangat mungkin mereka membawa ajaran Islam ke nusantara. Islam sampai ke Indonesia sama sekali bukan melalui jalur perang seperti yang direkam sejarah.

Penyebaran Islam dari awal hingga perkembangannya mencapai puncaknya di era wali songo tidak ada rekam sejarah yang menuturkan bahwa Islam dibawa ke Indonesia melalui penjajahan dan peperangan. Sama sekali tidak ada. Sejarah justru menunjukkan bahwa satu-satunya agama yang dibawa ke Indonesia melalui jalur penjajahan adalah Kristen. Para penjajah selain mengeruk kekayaan Indonesia juga membawa para misionaris untuk menyebarkan agama Kristen di Indonesia. Hal ini tentu berbeda sekali dengan dakwah Islam yang dibawa oleh para saudagar arab, terutama wali songo.

Para saudagar arab dari abad ke-7 hingga kehadiran wali songo di abad -15 tidak ada satupun yang membawa kekerasan dalam agama. Sikap santun, ramah dan rahmah sangat dikedepankan untuk menarik perhatian objek dakwah. Sasaran dakwah yang dituju juga bukan hanya kalangan tertentu dan ras tertentu, melainkan dakwah yang dihadirkan oleh para saudagar dan para wali songo merangkul semua kalangan, semua lapisan.

Seperti yang dituturkan oleh gus Qoyyum, wali songo sendiri dalam berdakwah tidak memilah-milah sasaran dakwah. Berbagai aliran dan paham keagamaan semuanya dirangkul dan diajak pada ajaran Islam. Berbeda jauh dengan dakwah versi “kubu sebelah” yang cenderung menyesatkan orang daripada mengajak orang, lebih sering emosi ketika melihat fenomena tahlilan dan sholawatan. Dakwah yang disampaikan wali songo justru ramah lingkungan dan benar-benar sesuai dengan konsep dakwah yang dianjurkan oleh Islam.

Para wali songo adalah pendakwah paling ideal yang sukses membawa misi Islam yang rahmatan lil alamiin. Di era wali songo dakwah islam berkembang pesat dan sangat cepat. Para wali itu bukan hanya kompeten dalam menarik perhatian rakyat yang gemar dengan gamelan dan hiburan, para wali itu juga mampu menangkap isi hati masyarakat yang tak ingin budaya-budaya leluhurnya di usik dan dihancurkan. Itulah sebabnya tipologi dakwah yang digunakan oleh para sunan lebih mengedepankan hati daripada emosi. Merangkul bukan memukul. Mengajak bukan mengejek. Sebelum terjun dalam medan dakwah, secara umum mereka paham bahwa karakter bangsa Indonesia ini sejuk dan lebih suka dengan kedamain daripada aksi peperangan.

Pendakwah yang merangkul segenap lapisan seperti wali songo itu untuk saat ini tentu sangat sulit dijumpai. Pendakwah yang cenderung fanatik pada organisasi tertentu sulit membuka diri untuk santun pada organisasi lain. Fanatisme berlebihan pada ormas sendiri kerap kali membuat para pendakwah mudah menyerang kelompok lain yang tidak sepaham, sehingga dakwah yang di sampaikan cenderung hanya disetujui oleh ormasnya sendiri. Sulit diterima lapisan organisasi lain. Disinilah konsep dakwah yang ramah itu kini patut dipertanyakan?

Di tengah maraknya dakwah yang kerap menimbulkan polemik dan kontroversi, penting bagi kita untuk mengenang dan meresepi kembali dakwah ala wali songo yang telah sukses membawa nilai-nilai Islam yang ramah dan penuh dengan rahmah.

Oleh: Moh. Jufriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *