Kajian

MENGUAK BIDAH DI BALIK PERAYAAN MAULID NABI MUHAMMAD PART-1

Sering kita temukan di dunia nyata ataupun di dunia maya vonis “bid’ah sesat” yang ditujukan pada suatu amaliyah yang sudah menjadi tradisi, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di berbagai penjuru dunia, termasuk salah satunya yang divonis bid’ah adalah perayaan maulid nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Vonis ini tentu saja sangat mengganggu khususnya bagi pengikut madzhab Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah sebagai firqah muslim terbesar (Al-Sawad al-A’dzam) di dunia. Oleh karena itu, mengurai kebid’ahan dalam perayaan maulid menjadi sangat penting untuk dibahas.

Secara bahasa kata bid’ah memiliki arti segala sesuatu yang dikerjakan tidak dengan cara yang telah dicontohkan sebelumnya. Adapun secara istilah syara’, kata bid’ah didefinisikan oleh Sulthanul ‘Ulamaa’ al-Imam ‘Izzuddin bin Abdissalam dalam kitabnya Qawa’id al-Ahkam dengan melakukan sesuatu yang tidak ada masa masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Nawawi dalam Tahdzib al-Asmaa’ wa al-Lughaat, mendefinisikannya dengan mengada-adakan perkara yang tidak ada pada masa Rasulullah shalullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan demikian, bid’ah dalam istilah syara’ memiliki pengertian suatu amal ibadah yang tidak memiliki landasan tasyri’ (disyari’atkannya amal tersebut) yang konkret baik dalam al-Quran maupun hadits. Dari sini dapat dipahami bahwa ruang lingkup bid’ah demikian luas dan mencakup semua perbuatan yang tidak ada dalilnya dalam al-Quran dan tidak pernah diperintahkan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebab pada prinsipnya suatu perbuatan disebut bid’ah manakala tidak memiliki dasar dalam syariat.

Sampai di sini, jika bid’ah yang universal identik dengan haram (sesat) maka hal ini akan sulit diterima oleh akal sehat, sebab akan membenturkan dua hal yang saling berlawanan satu sama lain; di satu sisi kesempatan memperoleh pahala terbuka luas dan caranya begitu beragam selama tidak ada dalil yang jelas melarangnya, namun di sisi lain kesempatan itu menjadi sempit karena tidak semua cara untuk memperoleh pahala legal sebab di luar cara yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dianggap bid’ah yang haram. Begitu juga bahwa perpindahan ruang dan waktu serta perubahan situasi dan kondisi seringkali memunculkan kebijakan-kebijakan baru dalam agama yang tidak pernah ditemukan pada masa Rasulullah, seperti shalat tarawih berjamaah di masa sayidina Umar dan penambahan adzan kedua dalam shalat jumat pada masa sayidina Utsman. Hal ini tentu sulit dianggap logis kecuali jika bid’ah yang universal dibagi ke dalam beberapa klasifikasi. Dengan kata lain, dalam diskursus bid’ah kita tidak berkiblat pada kelompok sebelah (wahabi) yang menilai bid’ah dari sudut pemahaman yang sempit sehingga melahirkan konsep bid’ah tunggal yaitu bid’ah dlalalah atau bid’ah yang sesat dan terlarang.

Konsep bid’ah tunggal ala kelompok wahabi didasarkan pada pemahaman sempit mereka terhadap hadits “Kullu Bid’atin Dlalalah wa Kullu Dlalatin fi al-Nar”. Jika dikaji melalui berbagai pendekatan; ilmu gramatika arab, bayan maupun melalui perbandingan dengan hadits lain, akan dapat dimengerti bahwa keumuman hadits tersebut sesungguhnya tidak berlaku. Imam Nawawi misalnya dalam Syarh Shahih Imam Muslim menyebutkan bahwa keumuman hadits bid’ah telah ditakhsis oleh hadits-hadits lain yang diantaranya adalah hadits yang bersumber dari Jarir bin Abdillah dan ditakhrij oleh Imam Muslim :

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ.

“Barangsiapa mensunnahkan/mencetuskan (sanna) didalam Islam sunnah hasanah (sunnah yang baik) kemudian orang setelahnya mengamalkannya, niscaya ditulis baginya seumpama pahala orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka, dan barangsiapa yang mensunnahkan/mencetuskan (sanna) didalam Islam sunnah sayyi’ah (sunnah yang buruk) kemudian orang setelahnya mengamalkanya, maka ditulis atasnya seumpama dosa orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi sedikitpun dari dosa mereka”.

Kata “Sunnah” dalam hadits ini memiliki arti kebiasaan baik secara umum, bukan sunnah dengan makna khusus yaitu perbuatan, sabda dan ketetapan Rasulullah. Secara jelas dan tegas hadits ini memberikan informasi bahwa terdapat klasifikasi dalam masalah bid’ah yaitu bid’ah yang secara garis besar baik dan bid’ah yang secara garis besar jelek. Begitu juga hadits ini sesungguhnya mengkhususkan (takhshish) keumuman hadits bid’ah sebelumnya, dengan kata lain tidak semua bid’ah sesat dan diharamkan.

Kesimpulan ini selaras dengan komentar Imam Ibnu Mandzur dalam Lisan al-‘Arab ketika menjelaskan maksud hadits di atas. Beliau memaparkan bahwa kata “Sunnah Hasanah” dalam hadits tersebut tidak lain bid’ah yang baik. Masih menurut beliau, termasuk dalam kategori bid’ah yang baik adalah kebijakan sayidina Umar saat menjabat sebagai khalifah yang berupa pemberlakuan shalat tarawih dengan cara berjama’ah yang sebelumnya tidak ditemukan pada masa Rasulullah. Terkait kebijakan tersebut sayidina Umar berkata: Ni’mat al-Bid’ah Hadizhi (sebaik-baik bid’ah adalah ini). Penggunaan kata “Ni’ma” yang merupakan “Fi’lu al-Madhi” atau kata kerja untuk memuji memberikan indikasi bahwa diantara macam bid’ah ada bid’ah yang baik dan terpuji.

Imam Syafi’i sebagaimana dikutip oleh Imam Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal ilaa Sunan al-Kubraa li al-Imam al-Baihaqi berkata: “Perkara baru (Al-Muhdatsaat) itu terbagi menjadi menjadi dua bagian, Pertama, Suatu perkara baru yang menyelisihi Al-Qur’an, Sunnah, Atsar atau Ijma’ ulama’, maka ini termasuk perkara baru yang disebut bid’ah dlalalah, dan Kedua’-, Suatu perkara baru yang baik yang tidak menyelisihi salah satu dari empat sumber tersebut, maka ini perkara baru (Al-Muhdatsaat)_ yang tidak tercela.

Klasifikasi bid’ah pada dua bagian besar oleh Imam Syafi’i merupakan klasifikasi secara umum yang didasarkan pada ada atau tidak adanya pertentangan antara perkara baru tadi -ditinjau dari sudut pandang hukumnya dalam perspektif syariat- dengan Al-Qur’an, Sunnah, Atsar atau Ijma’ ulama’. Jika terdapat aspek yang bertentangan dengan syariat maka tergolong bid’ah dlalalah dan jika tidak terdapat aspek yang bertentangan maka tergolong bid’ah hasanah.

Bersambung

Oleh: Mohammad Aliy Sajuri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *