Kajian

MENGUAK BID’AH DI BALIK PERAYAAN MAULID NABI MUHAMMAD PART-2

Syaikh al-Imam Abu Muhammad ‘Abdul ‘Aziz bin Abdis Salam di bagian akhir dalam kitabnya, Al-Qawaid mengklasifikasi bid’ah pada beberapa bagian ditinjau dari kacamata hukum fikih, yaitu bid’ah wajib, haram, mandub, makruh dan bid’ah mubah. Metode klasifikasi bid’ah yang dipaparkan beliau adalah dengan mendasarkannya pada kaidah-kaidah syari’ah, artinya apabila bid’ah tersebut masuk pada qaidah (penetapan) hukum wajib maka itu bid’ah wajibah, apabila masuk pada qaidah (penetapan) hukum haram maka itu bid’ah muharramah, apabila masuk pada qaidah (penetapan) hukum mandub maka itu bid’ah mandubah, apabila masuk pada qaidah (penetapan) hukum makruh maka itu bid’ah makruhah dan pabila masuk pada qaidah (penetapan) hukum mubah maka itu bid’ah mubahah.

Contoh dari masing-masing klasifikasi bid’ah tersebut adalah; Pertama, Bid’ah Wajibah, seperti menyibukkan diri belajar beberapa ilmu sehingga dengannya bisa paham firman-firman Allah Ta’ala dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, itu wajib karena menjaga syariah itu wajib dan tidak mungkin dilakukan kecuali dengan hal belajar, dan sesuatu kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengannya maka itu ia dihukumi wajib. Kedua, Bid’ah Muharramah, seperti membentuk aliran (madzhab) baru semacam Al-Qadariyah, Al-Jabariyah, Al-Murji’ah, Al-Mujassimah, dan membantah mereka termasuk kategori bid’ah yang wajib. Ketiga, Bid’ah Mandubah, seperti membangun tempat-tempat ribath dan madrasah, dan setiap kebaikan yang tidak ada pada masa awal Islam, diantaranya adalah pelaknasaan shalat tarawih dengan berjamaah dan lain sebagainya. Keempat, Bid’ah Makruhah, seperti berlebih-lebihan menghiasai masjid, menghiasi mushhaf dan lain sebagainya. Dan Kelima, Bid’ah Mubahah, seperti bersalaman (berjabat tangan) selesai shalat Shubuh dan ‘Asar, jenis-jenis makanan dan minuman, pakaian dan kediaman.

Sampai di sini, perayaan maulid dengan bentuk pelaksanaannya yang tidak pernah dikenal pada masa Rasulullah kira-kira masuk kategori bid’ah yang mana? Untuk menjawab ini kiranya terlebih dahulu harus menganalisis esensi perayaan maulid itu sendiri dari berbagai aspek. Dalam tulisan yang sangat singkat ini setidaknya ada dua aspek yang harus dikaji yaitu motifasi dan bentuk perayaannya.

Dari aspek motivasi, secara umum motivasi perayaan maulid nabi sebagaimana kita saksikan di tengah-tengah masyarakat dari waktu ke waktu tidak lain untuk mengagungkan kelahiran nabi Muhammad dan bergembira atasnya. Adapun dari bentuk perayaannya, umumnya perayaan maulid nabi diisi dengan pembacaan shalawat kepada nabi Muhammad sejarah tentang-Nya, doa, sedekah dan amalan-amalan baik lainnya. Dengan ini, jelas kiranya bahwa serangkaian perayaan maulid nabi dari awal hingga akhir seluruhnya memuat amaliah yang bernilai positif. Lalu, adakah maulid nabi masih disebut bid’ah sesat dan terlarang?

Sayid Muhammad bin Alawi Al-Maliki dalam Haul al-Ihtifal bi Dzikra Maulid al-Rasuul menyebutkan bahwa perayaan maulid nabi itu adalah bid’ah yang diperbolehkan. Argumentasi yang dijadikan dalil oleh beliau adalah: Pertama, Perayaan maulid nabi merupakan ekspresi kegembiraan atas kelahiran nabi Muhammad. Kedua, Bahwa nabi Muhammad sendiri mengagungkan hari kelahirannya dan bersyukur atas nikmat Agung yang telah dianugerahkan kepada-Nya. Pengagungan tersebut oleh nabi Muhammad diekspresikan dengan berpuasa pada setiap hari senin sebagaimana termaktub dalam hadits shahih. _Ketiga, Kegembiraan menyambut kelahiran nabi merupakan kegembiraan yang diperintahkan dalam al-Quran dimana Allah memerintahkan kita agar bergembira atas karunia dan rahmat Allah.

Berbicara masalah Rahmat Allah, diutusnya nabi Muhammad merupakan rahmat dari Allah bagi segenap alam sebagaimana bunyi ayat 107 dalam surah Al-Anbiyaa’, maka bergembira atas kelahiran nabi Muhammad secara tidak langsung telah diperintahkan dalam al-Quran. Keempat, Bahwa Rasulullah selalu memperingati peristiwa-peristiwa agung yang telah berlalu dalam agama. Maka kelahiran manusia paling mulya adalah peristiwa agung dalam agama Islam sehingga memperingatinya berarti meneladani nabi Muhammad.

Dengan memahami paparan para ulama’ mengenai klasifikasi bid’ah dan esensi perayaan maulid nabi serta hukum bolehnya di atas dengan argumen yang dijadikan dalil, jelaslah bahwa perayaan maulid nabi bukanlah bid’ah dlalalah yang tercela dan dilarang dalam agama. Kita tidak mempermasalahkan bentuk rangkaian perayaan maulid nabi yang kita lakukan sekarang meskipun itu tidak pernah ditemukan pada masa nabi Muhammad sebab perayaan maulid nabi menurut Sayid Al-Maliki boleh dengan cara apa saja selama esensinya tidak dilarang dalam syariat. Maka yang paling esensial dalam perayaan maulid nabi ini adalah esensi rangkaian perayaan maulid itu sendiri, adakah salah satunya yang terlarang dalam perspektif syariat atau tidak?

Oleh: Mohammad Aliy Sajuri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *