Artikel

MENOLAK PROVOKASI, MENUMBUHKAN SEMANGAT PERSAUDARAAN DI MUSIM PANDEMI

Ditengah pandemi, suasana gaduh kerap terjadi. Pro dan kontra dalam menyikapi bahaya virus Covid-19 ini selalu bermunculan. Setiap kali ada kebijakan medis dari pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 tak pernah dianggap benar dan selalu muncul provokasi penolakan. Terlebih lagi ketika kebijakan tersebut dianggap menciderai ritual keagamaan tertentu sudah pasti gejolak pertentangan selalu memanas. Itulah wajah Indonesia saat ini.

Melihat fenomena ini apa yang seharusnya dilakukan?

Sebagai umat islam yang tumbuh di Indonesia dari kecil, kita tentu harus tetap ingat dan selalu sadar bahwa semboyan besar kita sejak lama adalah “Bhineka Tunggal Ika”. Semboyan ini bukan sekedar semboyan yang hanya boleh dihafal anak SD lalu menjadi kenangan diusia tua. Semboyan Bhineka Tunggal Ika seharusnya selalu menjadi komitmen kuat bahwa kita bukan orang plin-plan yang mudah terprovokasi oleh opini kaleng-kaleng yang bertujuan membelah persaudaraan. Persaudaraan dan persatuan bangsa yang sudah dirawat oleh bangsa kita sejak lama tentu sangat mahal. Sangat naif jika kemudian luntur dari hati kita hanya karena kita sudah termakan oleh isu provokatif bahwa negara kita sudah tidak stabil, ekonomi sudah hancur, presiden harus mundur, negara tak mampu lagi atasi wabah pandemi dan lain-lain.

Ditengah pandemi yang belum berakhir ini setidaknya kita bisa menumbuhkan semangat hidup yang tinggi kepada sesama serta saling bersaudara menghadapi realitas wabah pandemi, agar saudara kita ditanah air ini bisa selalu optimis dalam menghadapi realita pandemi yang saat ini kita hadapi bersama. Harus kita pahami bahwa Indonesia dan negara lain saat ini dalam kondisi sulit. Kekhawatiran semua orang pada penyebaran virus ini semakin meningkat, tentu tidak baik jika suburnya pandemi ini kita jadikan motif untuk semakin memperkeruh keadaan yang sulit itu. Bayangkan saat ini kita harus hidup berdampingan dengan virus yang boleh jadi sasaran kedepan adalah kita, maka dari itu kita perlu menghadapi kenyataan yang ada dengan tetap selalu berfikir jernih dan positif bahwa kita bisa melewati semuanya dengan tenang dan damai.

Memang tidak mudah berdamai dengan penyakit, tapi dalam tatanan moral agama kita tidak diperkenankan meronta-ronta, mengeluh dan putus asa dari rahmat tuhan yang agung, apalagi sampai menyalahkan tim medis, pemerintah, ulama dan mereka yang berjuang untuk keselamatan bangsa dan negara, terlebih lagi memprovokasi mereka bahwa Covid-19 hanyalah akal-akalan saja. Sungguh naif jika kita terus menerus hanya bisa berkomentar miring pada para pejuang bangsa sementara kita hanya santai, nongkrong sambil minum kopi di rumah tanpa perjuangan apa-apa.

Oleh: Moh. Jufriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *