Artikel

MEWASPADAI PROPAGANDA ALA IBNU SABA’ DI ERA MEDSOS

Suatu ketika Adoft Hitler membakar semangat pasukannya agar tetap tangguh dan kokoh menebar propaganda. Propaganda, kebatilan, kebohongan dan fitnah, jika disampaikan seribu kali, maka ia akan menjadi sebuah kebenaran. Begitu kira-kira motivasi Hitler untuk membakar semangat pasukannya. Hitler juga menebar kebencian pada ras Aria dan ras Non-Aria.

Dewasa ini kita terasa gundah karena fenomena caci mencaci di media sosial marak. Bahkan tidak hanya dilakukan satu dua kali oleh oknum yang sama. Saat ini fenomena propaganda dari berbagai lapisan terjadi begitu mudahnya. Mulut-mulut mereka seakan tidak henti-henti menumpahkan ucapan-ucapan liar dan dorongan murahan untuk menyudutkan, memojokkaan, memfitnah dan menodai martabat, harga diri dan reputasi orang lain. Saat ini, isu-isu murahan seperti fitnah dan propaganda menggema di tengah-tengah masyarakat dan mereka melakukannya seakan tanpa beban apapun. Padahal, sosok yang disudutkan atau difitnah adalah seorang tokoh penting atau seorang kiai yang memiliki relasi dan koneksi besar di tengah-tengah umat.

Kita saat ini perlu mencerna dengan teliti dan hati-hati agar tidak terjebak untuk menodai martabat dan harga diri orang lain. Kita perlu benar-benar jernih agar jari-jari kita terhindari dari malapetaka dengan tidak menggunakannya secara membabi buta tanpa bertanggung jawab. Sesungguhnya, luapan emosi, sikap dan tingkah laku adalah sublemasi dari kondisi batin seseorang. Jika batin dia itu baik, maka segala sepak terjang dan perilakunya yang ditampilkan ke publik akan baik-baik juga. Namun, sebaliknya, jik batin orang itu buruk, penuh noda, penuh asumsi dan praduga, maka segala tingkah laku yang diluapkan penuh dengan pelampiasan, kebencian dan asumsi-asumsi negatif dan tebar kebencian di sana sini.

Begitulah kira-kira analisis psikologis untuk menakar kejiwaan seseorang.
Padahal dalam beberapa buku yang paling sederhana sekalipun, dijelaskan agar kita benar-benar pandai menjaga lisan. Karena lisan itu bentuknya kecil dan efeknya begitu besar. Begitu juga dengan jari-jari. Dalam pepatah Arab dijelaskan bahwa selamat tidak seseorang tergantung pandai tidaknya menjaga lisan. Senada dengan lisan saat ini adalah jari-jari. Dengan menggunakan media sosial, jari-jari begitu tajam dijadikan sarana mengumpat, memfitnah dan menjatukan martabat dan reputasi orang lain sehingga ia menjelma sebagai propagandis.

Orang yang berjiwa propagandis dapat ditilik dari dua aspek sekaligus: Pertama aspek kepribadian dan faktor pendidikan. Jika kepribadian dan kualitas pendidikan orang itu baik, maka tidaklah mungkin dia hidup liar dan tidak memperhitungkan aspek psikologis dan dampak sosial yang mungkin ditimbulkannya. Karena, hanya dengan pendidikan yang bermutu, aspek kepribadian seseorang terbangun dan memiliki etika yang luhur, patut dipuji dan teladani oleh generasi. Sebaliknya, jika dia itu tidak terdidik, maka segala sepak terjang kehidupannya tidak akan dilandasi dengan etika, moralitas dan akhlak sehingga ia menjelma bagaikan baling-baling di atas bukit yang dimudah diterpa ke mana angin bertiup. Ataukah, jika dia terdidik, maka kemungkinan ilmu yang didapatnya tidak barokah dan tidak menjiwai langkah hidupnya, atau bahkan dia tersesat.

Kedua, perilaku propagandis dapat ditilik dari aspek psikologisnya. Secara psikologis atau mental, bisa saja dia adalah paranoid atau bahkan setengah gila. Jiwa paranoid adalah jiwa yang kosong karena hampa dengan sendi-sendi moral. Moralitas dan etikanya telah dirampas oleh dominasi jiwa kotor yang menyelimutinya. Puncaknya dari jiwa yang kosong ini adalah dia akan dangkal, dengki, iri, hasud dan tanpa kendali dalam hidupnya.


Menarik disini untuk dikaji peristiwa dramatik sosok Ibn Sauda’ atau Abdullah bin Saba’. Dia adalah figur munafik nomor wahid, berdarah Yaman dan ibu berdarah Habasyah. Pola keagamaan sang ibu telah bercampur dengan doktrin ajaran Yahudi yang kelak turun pada sang anak Ibnu Saba’. Ibn Saba’ memang telah masuk Islam, namun hakikatnya dia adalah duri dalam daging atau krikil dalam sepatu. Dibalik keislaman dia, bukan justru membentuk karakternya menjadi pribadi yang mulia, justru ia menjadi api dalam sekam dan mengobarkan perpecahan di internal umat Islam di zamannya.

Dalam sejarah, dia adalah propagandis ulung. Identitasnya tidak terekspos ke publik. Ia adalah tokoh dibalik layar atas kekacauan politik dalam dunia Islam hingga Khalifah ketiga Usman bin Affan tewas terbunuh. Ibn Saba’ sempat hengkang ke beberapa negara seperti Basrah, Kufah, Madinah dan Mesir untuk mencari simpatisan dan membangun jaringan guna dilibatkan untuk mendongkel Islam dari dalam. Namun, usahanya untuk mencari simpatisan ke negara-negara lain bukan malah disambut baik, justru diusir oleh otoritas setempat.

Setelah dicerna dengan baik, ternyata Ibn Saba’ adalah tokoh Yaman karena ayahnya sebagai penguasa di sana. Pamornya tersingkir atas lahirnya Islam karena impiannya untuk menjadi penguasa di sana kandas. Begitu kecewanya dia pada Islam hingga tidak punya pilihan lain kecuali merongrongnya dari dalam. Ia juga telah menyiapkan mahkotanya sebagai generasi penerus dari ayahnya. Namun impian itu gugur karena ajaran Islam telah menancak dinegeri para wali itu.


Sekilas dari catatan Ibn Saba’ sebagai tokoh munafik dan sosok propaganda ulung serta piawai dalam membangun koneksi kebencian di internal dunia Islam tidak lepas dari jiwanya yang kalut, iri hati, hasud dan larut dalam egoisme personal.

Maka, melalui catatan ringan ini, tentu saja semua pihak perlu lebih berhati-hati agar tidak terperosok untuk memojokkan martabat, reputasi dan harga diri seseorang. Apalagi jika figur itu adalah tokoh penting yang memiliki jaringan luas di masyarakat. Jika tidak segera berhenti, maka ia akan berhadapan dengan beribu-ribu relawan yang berjiwa patriotik dan pantang mundur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *