Artikel

ORANG-ORANG BADUI: PEMBERANI PILIH TANDING

Masa Arab pra Islam ditandai dengan beberapa suku. Yang terkenal keras dan ekstrim adalah penduduk badui (warga pelosok) desa yang jauh dari kota metropolitan. Selama beberapa dekade, orang badui tetap tidak mengalami metamorposis yang signifikan. Bagi orang badui, kehidupan orang-orang adalah hina. Praktis orang Arab Pra Islam terbelah dua antara orang badui dan orang kota. Badui, adalah kabilah yang terisolir dan tidak mengenal peradaban atau modernisasi apapun. Karenanya, para sejarawan tidak memiliki rekam historis yang kuat melukiskan sosok badui. Untuk mengorganisir interansi social mereka, orang badui menunjuk satu orang syekh sebagai pimpinannya. Tabiat keras orang badui dilampiaskan dengan karakternya yang garang, hobi menyerang dan senang berperang serta memiliki kebiasaan menggembala ternak seperti unta, kambing, biri-biri dan sejenisnya.

Tradisi dan adat istiadat adalah hal yang paling dipegang teguh oleh suku badui ini. Orang badui jengkel terhadap pola hidup orang-orang kota yang, katanya, telah dirampas kemerderkaanya oleh perubahan dan kemajuan sebuah zaman. Orang badui memegang tradisi dan kebebasan dalam kehidupannya. Bangsa Yunani, Romawi, Persia dan lain-lain berhasil menakukkan tanah Arab kecuali suku badui ini sendiri yang tidak pernah mampu ditundukkan oleh mereka. Walaupun mungkin saja, saat ini, komunitas badui mudah dijangkau oleh kendaraan atau akses apapun. Mata pencaharian mereka adalah bercocok tanam, menanam kayu yang bisa dinikmati buahnya. Mata pencaharian mereka sangat alami dan tradisional. Karena itu, orang badui pantang membangun tempat hunian atau rumah alasannya, rumah atau tempat hunia justru merampas kemerdekaan dan kebebasan untuk berpindah-pindah dari satu titik ke titik yang lain.

Ekses dari tidak adanya tempat hunian permanen ini, orang badui gemar menyerang dan berbuat anarkis pada siapapun. Karena tabiat ini, orang-orang kota menghindarkan diri dari segala hal yang menimbulkan kejahatan orang badui. Saat pemerintahan Syarif Husen, akses yang menghubungkan Mekah dan Madinah tidak seaman sekarang. Saat ini, orang badui selalu melakukan tindakan kekerasan terhadap pengguna jalan. Anehnya, perampokan dan peramposan harta benda yang dilakukan orang badui justru dianggapnya sebagai sumber penghidupan yang layak, tidak melanggar norma.
Oleh karena itu, sejarawan Goustav le Bon menyamakan tabiat buruk orang badui dengan penjajahan bangsa Eropa. Perbedaannya, penjajahan bangsa Eropa dilakukan untuk bangsa yang lemah, sebaliknya, perampasan yang dilakukan orang badui justru diarahkan pada orang-orang kota yang dianggap mencapai kemajuan. Tabiat yang melekat dibatin orang badui itu telah tertanam kuat hingga melakukan perampokan dan penyerangan adalah sebuah hobi dan tidak gentar pada kematian.

BADUI DALAM ISLAM

Rasulullah benar-benar mengubah wajah dunia Arab khususnya dan dunia non Arab pada umumnya. Pencaran cahaya belas kasihnya, yang ditunjukkan Rasulullah berhasil mengubah keadaan menjadi lebih manusiawi, tatanan sosial terjaga, harkat dan martabat manusia terlindungi dan supremasi hukum berdaulat. Sebagaimana dalam sabdanya, bahwa beliau diutus sesungguhnya untuk membangun peradaban dan untuk membina etika. Karena peradaban dan pembangunan etika ini adalah barometer fundamental untuk mengukur sejauh mana peradaban telah dicapai dan keadilan telah diperjuangkan.

Orang badui yang terkenal arogan, angkuh, ganas, liar, keras, kejam dan galak seketika berubah menjadi aset penting dan simbol sebuah ketangguhan dan keperkasaan. Setelah datangnya agama Islam, kegagasan orang badui tetap tidak ada tandingannya, namun tidak sembarangan dilampiaskan. Ketika menjadi tentara, watak ketangguhan orang badui tidak sirna, ia tetap jantan, tetap cerdas dan berani bertarung secara sungguh-sungguh. Tabiat liar yang dilakukan untuk merampok dan menyerang orang lain, justru ia digunakan untuk memburu pahala di medan syahid bersama-bersama dengan pasukan Islam.

Menurut sejarawan Zaborouiski, orang badui sangat menjaga diri agar keturunannya terhindar perkawinan dengan suku lain untuk memelihara kemurnian sukunya. Genitik inilah yang hendak dipertahankan orang badui agar martabat keluarganya tidak ternoda dan tetap kesatria.
Mungkin, ketangguhan orang badui telah membentuk pendirian dan karakternya sendiri sehingga begitu tabah dan kuat terhadap derita yang diterimanya. Orang-orang baduai kuat menghadapi tekanan dan siksaan yang dideritanya. Selain itu, orang badui sangat berhati-hati untuk mencerai istrinya dan mereka begitu menaruh hormat pada perempuan. Bahkan tak jarang perempuan badui mendampingi suaminya hingga ke gelanggang perang untuk membangkitkan nyali suaminya ketika berperang.

Orang badui begitu ganas. Ketika hendak melakukan perampokan, mula-mula ia melakukan tembakan peringatan agar sasarannya tidak melarikan diri dan bersiap-siap untuk berserah diri tanpa melakukan perlawanan apapun. Walaupun orang badui gemar merampok, ternyata ia dengan penuh hati-hati tidak menyakiti orang-orang perempuan atau anak kecil. Ternyata orang badui masih manusiawi. Tidak gelap mata.
Walaupun era sudah modern, orang-orang badui tidak pernah lepas dari sejarah-sejarahnya yang konyol dan dramatik. Orang badui pernah akan disambar Umar bin Khathab karena membuang air kecil di masjid. Orang badui pula yang secara tidak etis bertanya pada Rasulullah kapan terjadinya peristiwa hari kiamat. Orang badui pulalah yang secara tidak senonoh disiang hari pada bulan Ramadlan melakukan senggama dengan istrinya. Dan secara polos ia mendatangi Rasulullah untuk menceritakan secara detail peristiwa yang terjadi pada dirinya beberapa waktu sebelumnya. Rasulullah memerinci secara detail sanksi yang harus dipenuhi olehnya. Namun, ternyata dia tidak memiliki bekal apapun untuk diberikan pada fakir miskin sesuai dengan standar yang ditetapkan Rasulullah.

Wallaahu a’lam

Oleh: Abd. Mannan Hasan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *