Artikel

PANCASILA DAN OTORITIK SANTRI

Polemik Pancasila sebagai dasar negara telah hadir seketika para pendiri bangsa berdiskusi tentang arah negara Republik yang akan didirikan. Nyaris sembilan puluh persen dari tim sembilan yang menyusun dasar negara seluruhnya beragama Islam kecuali segelintir saja non muslim.

Karena itu, Piagam Jakarta lahir untuk memenuhi ekspektasi dan aspirasi pemimpin-pemimpin Islam. Tapi, ternyata dari Indonesia Timur merasa keberatan dengan Piagam Jakarta dan para pendiri bangsa kembali memeras tenaga guna mempertahankan NKRI yang baru berusia sekian jam itu. Menariknya, saat itu santri telah hadir sebagai tim sembilan yang diwakili Wahid Hasyim. Para pendiri bangsa tidak keberatan dengan dihapuskannya Piagam Jakarta yang berbunyi, “Kewajiban Menjalanakan Syariat Islam bagi para Pemeluk-Pemeluknya”, diganti dengan, “Ketuhanan yang Maha Esa” hingga detik ini.

Sebagai negara multiras, multifungsi dan multiagama, Indonesia tidak tertarik untuk menjadikan agama sebagai dasar negara guna menghindari kesan disktriminasi dari penganut lain. Islam memang agama mayoritas di Indonesia, bahkan populasi tertinggi di dunia dengan penganut agama Islam terbesar. Bung Hatta yang terkenal agamis mengatakan bahwa perubahan Piagam Jakarta tidak lepas dari kebijaksanaan tokoh-tokoh Islam yang merumuskan dasar negara.

Oleh karena itu, orang Islam dari dahulu kala hingga saat ini telah mencerminkan sosok yang berjiwa besar dan hebat. Mereka melepaskan Islam sebagai dasar negara demi mempertahakan kesatuan bangsa dan negara.
Pancasila sebagai dasar negara, bagi santri sama sekali tidak bertentangan dengan agama. Butir-butir dalam poin Pancasila justru merefresentasikan warna Islam yang iklusif dan universal.

Karena itu, Gus Dur tidak memiliki komitmen apapun tentang obsesinya mendirikan negara Islam. Baginya, cukuplah Pancasila sebagai dasar negara, sementara warga negara diberikan kebebasan untuk menganut dan melastiarikan ajaran-ajaran agamanya masing-masing. Islam tidak perlu diformalkan, yang penting membumi dimasyarakat. Pancasila jika diteropong dengan kacamata agama, sama sekali tidak ada norma apapun yang bertentangan. Mulai konsep ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan hingga poin keadilan yang dituangkan dalam Pancasila.

Al-Quran sendiri memang mengandung ajaran-ajaran pokok sebagaimana tertuang dalam sila-sila Pancasila. Rasulullah sendiri, ketika menjadi pemimpin Madinah tidak memperkenalkan konsep darul Islam, tapi darussalam, negara penuh kedamaian. Di Madinah, Rasulullah berdampingan damai dengan komunitas agama lain seperti Yahudi, Nasrani dan penganut agama lain. Rasulullah tidak memperlakukan mereka secara diskriminatif, justru mereka sama-sama menikmati kue keadilan, kebebasan, persaudaraan, kemanusiaan dan kebebasan memeluk agamanya.

Hingga dewasa ini, Madinah menjadi primadona dan contoh penting sebagai negara modern dengan menerapkan prinsip demokratisasi yang tinggi. Madinah dipuji dunia barat karena inti sari ajarannya menghargai perbedaan sukur dan melindungi yang minoritas.

Benarlah bahwa para pendiri bangsa memang orang-orang yang tercerahkan melalui pendidikan-pendidikan kuat yang mereka tempuh. Para pendiri bangsa ternyata memiliki spirit yang sama dengan konsep negara Madinah yang diracik oleh Rasulullah empat belas abad yang silam. Diberbagai belahan negara lain di dunia, tidak mudah menemukan falsafah negaranya seperti yang terukir dalam Pancasila, baik dinegara-negara Asia Timur maupun negara-negara Eropa dan Amerika. Pancasila lahir dan tumbuh serta digali dari perut bumi Indonesia. Pancasila sebagai refresentasi dari kultur bangsa Indonesia toleran, majmuk berbudi luhur serta gotong royong. Demikianlah intisari dari penggalian Soekarno pada lahirnya Pancasila sebagai falsafah negara.

Pancasila tidak diproduksi dari negara lain atau bangsa lain. Pancasila adalah identitas bangsa Indonesia, sejak tujuh abad lamanya tanpa nama. Saat ini penting untuk kembali melakukan revitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sosial kita. Generasi muda saat ini kurang mencurahkan energinya apa itu Pancasila atau bahkan menilai negatif terhadap Pancasila akibat arus rongrongan pemikiran luar dewasa ini.

Santri, sampai kapanpun dan dimanapun akan selalu mengawal nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara spiritnya tidak bertentangan dengan agama juga tidak bertentangan dengan jati diri bangsa kita. Bagi santri, Pancasila adalah perekat persatuan bangsa dan negara dan terbukti ampuh untuk menjamin eksistensialisme kebudayaan dan nilai-nilai gotong royong.

Setelah usianya puluhan tahun, Pancasila selalu remaja dan tidak pernah kadaluarsa sebagai perekat nasional. Pancasila tetap awet muda karena terbukti sukses mempertahankan martabat Indonesia ditengah badai-badai modernisasi dan westernisasi. Pancasila juga mampu memukul pengaruh kelompok-kelompok primordialisme agama yang mengancam keutuhan bangsa.

Dalam sejarah Rebublik, santri memiliki sejarah monumental dan eksklusif karena jasa-jasanya yang besar dalam melawan kelompok arus islamisme. Santri juga bertekad menegakkan nilai-nilai Pancasila dengan meradikalisir sila-sila di dalamnya dalam kehidupan nyata. Santri juga bersama-sama dengan negara mengobarkan semangat guna memutus mata rantai aliran transnasional yang beberapa tahun lalu sangat gempar.

Memang dalam detak sejarah ruh Pancasila sering dikooptasi oleh kekuasaan demi kepentingan politik elektroral. Baik dalam Orda Lama maupun Orde baru. Masing-masing orde memiliki lumatan sejarah yang perlu dicatat oleh generasi muda agar tak terulang kembali di masa yang akan datang. Santri perlu melakukan elaborasi subtantif tentang nilai-nilai Pancasila yang rawan dilokalisir demi kepentingan sesaat.

Maka akan sangat naif jika Pancasila dijadikan ajang eksploitasi untuk memetik buah nikmat kekuasaan.

Jauh sebelum lahirnya Indonesia, sekelompok kaum sarungan di Kalimantan tepatnya tahun 1936 silam, mengadakan silaturrahim akbar. Hadir disana sebagai anggota rapat adalah ulama-ulama Jawa yang kompeten dibidang ilmu agama. Jarang sekali waktu itu anggota rapat yang hadir memiliki gelar akademis profesor-doktor. Umumnya mereka adalah kaum-kaum berpeci yang terkesan kampungan. Tapi apa yang terjadi? Kaum berpeci dan sarungan itu ternyata mencetuskan sebuah keputusan maha penting untuk Jawa– sebutan untuk Indonesia saat itu–. Keputusannya adalah bahwa Indonesia bukan darul Islam, tapi darussalam, seluruh komponen bangsa wajib mempertahankan Indonesia dari serangan-serangan negara luar yang akan menghancurkan Indonesia. Saat itu, Indonesia dalam jajahan Belanda, tapi para santri berpikir intelektual dan jauh ke depan, bahwa pemerintahan Hindia Belanda –penguasa Indonesia sebelumnya– memberikan jaminan penuh pada umat Islam untuk melakukan ritual-ritual keagamaannya. Karena itu, kaum santri harus berjuang melawannya dari penetrasi negara lain.

Inilah salah satu keagungan santri yang terpatri dalam dirinya sejak dahulu kala hingga Republik Indonesia merdeka. Santri memiliki romantisme besar untuk membangun bangsa ini dari segala bidang. Memang ijtihad seorang santri harus bermuara pada aspek fundamental seperti itu.
Ditengah pasar bebas yang begitu kuat menggempur Indonesia, kaum santri harus hadir memberikan pencerahan dan memainkan panggung penting guna merebut kejayaan Indonesia di bawah dasar Pancasila yang sangat kita banggakan. Ijtihad kaum santri tidak hanya disitu, tapi harus berjuang bagaimana menuntaskan kemiskinan yang masih tinggi angkanya dewasa ini. Santri harus cerdas menangkap peluang yang hadir diera digital ini. PANCASILA DAN OTORITIK SANTRI

Polemik Pancasila sebagai dasar negara telah hadir seketika para pendiri bangsa berdiskusi tentang arah negara Republik yang akan didirikan. Nyaris sembilan puluh persen dari tim sembilan yang menyusun dasar negara seluruhnya beragama Islam kecuali segelintir saja non muslim. Karena itu, Piagama Jakarta lahir untuk memenuhi ekspektasi dan aspirasi pemimpin-pemimpin Islam. Tapi, ternyata dari Indonesia Timur merasa keberatan dengan Piagam Jakarta dan para pendiri bangsa kembali memeras tenaga guna mempertahankan NKRI yang baru berusia sekian jam itu. Menariknya, saat itu santri telah hadir sebagai tim sembilan yang diwakili Wahid Hasyim. Para pendiri bangsa tidak keberatan dengan dihapuskannya Piagam Jakarta yang berbunyi, “Kewajiban Menjalanakan Syariat Islam bagi para Pemeluk-Pemeluknya”, diganti dengan, “Ketuhanan yang Maha Esa” hingga detik ini.
Sebagai negara multiras, multifungsi dan multiagama, Indonesia tidak tertarik untuk menjadikan agama sebagai dasar negara guna menghindari kesan disktriminasi dari penganut lain. Islam memang agama mayoritas di Indonesia, bahkan populasi tertinggi di dunia dengan penganut agama Islam terbesar. Bung Hatta yang terkenal agamis mengatakan bahwa perubahan Piagam Jakarta tidak lepas dari kebijaksanaan tokoh-tokoh Islam yang merumuskan dasar negara. Oleh karena itu, orang Islam dari dahulu kala hingga saat ini telah mencerminkan sosok yang berjiwa besar dan hebat. Mereka melepaskan Islam sebagai dasar negara demi mempertahakan kesatuan bangsa dan negara.
Pancasila sebagai dasar negara, bagi santri sama sekali tidak bertentangan dengan agama. Butir-butir dalam poin Pancasila justru merefresentasikan warna Islam yang iklusif dan universal. Karena itu, Gus Dur tidak memiliki komitmen apapun tentang obsesinya mendirikan negara Islam. Baginya, cukuplah Pancasila sebagai dasar negara, sementara warga negara diberikan kebebasan untuk menganut dan melastiarikan ajaran-ajaran agamanya masing-masing. Islam tidak perlu diformalkan, yang penting membumi dimasyarakat. Pancasila jika diteropong dengan kacamata agama, sama sekali tidak ada norma apapun yang bertentangan. Mulai konsep ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan hingga poin keadilan yang dituangkan dalam Pancasila. Al-Quran sendiri memang mengandung ajaran-ajaran pokok sebagaimana tertuang dalam sila-sila Pancasila. Rasulullah sendiri, ketika menjadi pemimpin Madinah tidak memperkenalkan konsep darul Islam, tapi darussalam, negara penuh kedamaian. Di Madinah, Rasulullah berdampingan damai dengan komunitas agama lain seperti Yahudi, Nasrani dan penganut agama lain. Rasulullah tidak memperlakukan mereka secara diskriminatif, justru mereka sama-sama menikmati kue keadilan, kebebasan, persaudaraan, kemanusiaan dan kebebasan memeluk agamanya. Hingga dewasa ini, Madinah menjadi primadona dan contoh penting sebagai negara modern dengan menerapkan prinsip demokratisasi yang tinggi. Madinah dipuji dunia barat karena inti sari ajarannya menghargai perbedaan sukur dan melindungi yang minoritas.
Benarlah bahwa para pendiri bangsa memang orang-orang yang tercerahkan melalui pendidikan- pendidikan kuat yang mereka tempuh. Para pendiri bangsa ternyata memiliki spirit yang sama dengan konsep negara Madinah yang diracik oleh Rasulullah empat belas abad yang silam. Diberbagai belahan Negara lain di dunia, tidak mudah menemukan falsafah negaranya seperti yang terukir dalam Pancasila, baik dinegara-negara Asia Timur maupun negara-negara Eropa dan Amerika. Pancasila lahir dan tumbuh serta digali dari perut bumi Indonesia. Pancasila sebagai refresentasi dari kultur bangsa Indonesia toleran, majmuk berbudi luhur serta gotong royong. Demikianlah intisari dari penggalian Soekarno pada lahirnya Pancasila sebagai falsafah negara. Pancasila tidak diproduksi dari negara lain atau bangsa lain. Pancasila adalah identitas bangsa Indonesia, sejak tujuh abad lamanya tanpa nama. Saat ini penting untuk kembali melakuakn revitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sosial kita. Generasi muda saat ini kurang mencurahkan energinya apa itu Pancasila atau bahkan menilai negatif terhadap Pancasila akibat arus rongrongan pemikiran luar dewasa ini.
Santri, sampai kapanpun dan dimanapun akan selalu mengawal nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara spiritnya tidak bertentangan dengan agama juga tidak bertentangan dengan jati diri bangsa kita. Bagi santri, Pancasila adalah perekat persatuan bangsa dan negara dan terbukti ampuh untuk menjamin eksistensialisme kebudayaan dan nilai-nilai gotong royong. Sejak usianya puluhan tahun, Pancasila selalu remaja dan tidak pernah kadaluarsa sebagai perekat nasional. Pancasila tetap awet muda karena terbukti sukses mempertahankan martabat Indonesia ditengah badai-badai modernisasi dan westernisasi. Pancasila juga mampu memukul pengaruh kelompok-kelompok primordialisme agama yang mengancam keutuhan bangsa.
Dalam sejarah Rebublik, santri memiliki sejarah monumental dan eksklusif karena jasa-jasanya yang besar dalam melawan kelompok arus islamisme. Santri juga bertekad menegakkan nilai-nilai Pancasila dengan meradikalisir sila-sila di dalamnya dalam kehidupan nyata. Santri juga bersama-sama dengan negara mengobarkan semangat guna memutus mata rantai aliran transnasional yang beberapa tahun lalu sangat gempar.
Memang dalam detak sejarah ruh Pancasila sering dikooptasi oleh kekuasaan demi kepentingan politik elektroral. Baik dalam Orda Lama maupun Orde baru. Masing-masing orde memiliki lumatan sejarah yang perlu dicatat oleh generasi muda agar tak terulang kembali di masa yang akan datang. Santri perlu melakukan elaborasi subtantif tentang nilai-nilai Pancasila yang rawan dilokalisir demi kepentingan sesaat. Maka akan sangat naif jika Pancasila dijadikan ajang eksploitasi untuk memetik buah nikmat kekuasaan.
Jauh sebelum lahirnya Indonesia, sekelompok kaum sarungan di Kalimantan tepatnya tahun 1936 silam, mengadakan silaturrahim akbar. Hadir disana sebagai anggota rapat adalah ulama-ulama Jawa yang kompeten dibidang ilmu agama. Jarang sekali waktu itu anggota rapat yang hadir memiliki gelar akademis profesor-doktor. Umumnya mereka adalah kaum-kaum berpeci yang terkesan kampungan. Tapi apa yang terjadi? Kaum berpeci dan sarungan itu ternyata mencetuskan sebuah keputusan maha penting untuk Jawa– sebutan untuk Indonesia saat itu–. Keputusannya adalah bahwa Indonesia bukan darul Islam, tapi darussalam, seluruh komponen bangsa wajib mempertahankan Indonesia dari serangan-serangan negara luar yang akan menghancurkan Indonesia. Saat itu, Indonesia dalam jajahan Belanda, tapi para santri berpikir intelektual dan jauh ke depan, bahwa pemerintahan Hindia Belanda –penguasa Indonesia sebelumnya– memberikan jaminan penuh pada umat Islam untuk melakukan ritual-ritual keagamaannya. Karena itu,kaum santri harus berjuang melawannya dari penetrasi negara lain.
Inilah salah satu keagungan santri yang terpatri dalam dirinya sejak dahulu kala hingga Republik Indonesia merdeka. Santri memiliki romantisme besar untuk membangun bangsa ini dari segala bidang. Memang ijtihad seorang santri harus bermuara pada aspek fundamental seperti itu.
Ditengah pasar bebas yang begitu kuat menggempur Indonesia, kaum santri harus hadir memberikan pencerahan dan memainkan panggung penting guna merebut kejayaan Indonesia di bahwa dasar Pancasila yang sangat kita banggakan. Ijtihad kaum santri tidak hanya disitu, tapi harus berjuang bagaimana menuntaskan kemiskinan yang masih tinggi angkanya dewasa ini. Santri harus cerdas menangkap peluang yang hadir diera digital ini. Pancasila sebagai cara pandang, pandangan hidup, ideologi, pedoman dalam berjuang tidak boleh menjadi hampa. Pancasila harus digelorakan lebih agresif lagi menanggulangi galakkanya disintegrasi bangsa dan krisis kemiskinan. Sila kelima dalam Pancasila itu susungguhnya mengingatkan kaum santri agar nilai-nilai Pancasila tidak hanya relevan dengan Islam, tapi juga satu payung. Kaum santri dalam memaknai nilai-nilai Pancasila, harus jernih dan realistik untuk masa depan bangsa Indonesia. Pancasila tidak boleh hanya sekedar jargon dan simbol-simbol, apalagi sebagai sarana kepentingan politik elit.
Santri dewasa ini mengemban tugas ganda, sebagai agen perubahan dan sekaligus sebagai pengawal Pancasila sebagai falsafah dan ideologi negara. sebagai cara pandang, pandangan hidup, ideologi, pedoman dalam berjuang tidak boleh menjadi hampa. Pancasila harus digelorakan lebih agresif lagi menanggulangi galakkanya disintegrasi bangsa dan krisis kemiskinan. Sila kelima dalam Pancasila itu susungguhnya mengingatkan kaum santri agar nilai-nilai Pancasila tidak hanya relevan dengan Islam, tapi juga satu payung. Kaum santri dalam memaknai nilai-nilai Pancasila, harus jernih dan realistik untuk masa depan bangsa Indonesia. Pancasila tidak boleh hanya sekedar jargon dan simbol-simbol, apalagi sebagai sarana kepentingan politik elit.

Santri dewasa ini mengemban tugas ganda, sebagai agen perubahan dan sekaligus sebagai pengawal Pancasila sebagai falsafah dan ideologi negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *