Kajian

PANDEMI DAN MUNCULNYA KEPERCAYAAN BARU DITENGAH MASYARAKAT

Pandemi yang sudah berlangsung selama lebih dari setahun ini telah memunculkan rasa kekhawatiran yang tinggi pada masyarakat. Ada sebagian masyarakat yang menghubungkan penyebaran covid-19 ini dengan kepercayaan tertentu. Seperti beberapa bulan terakhir tingginya angka kematian dibeberapa daerah menyebabkan munculnya kepercayaan pada sebagian masyarakat bahwa untuk menghentikan angka kematian yang tinggi, maka orang yang baru saja meninggal, kerandanya harus dibawa oleh kaum perempuan ke liang kuburnya.

Kepercayaan semacam ini telah menyebar ke beberapa daerah, sehingga ada beberapa daerah yang menerapkan kepercayaan ini. Tidak jelas darimana sebenarnya kepercayaan ini muncul. Beberapa waktu sebelumnya juga banyak muncul kepercayaan bahwa pesatnya penyakit menular saat ini, karena masyarakat sudah meninggalkan ritual-ritual khusus yang telah dilakukan oleh para leluhur mereka dimasa lalu. Sehingga ada upaya untuk menghidupkan kembali ritual lama yang sudah lama ditinggalkan itu.

Kepercayaan seperti ini sebenarnya cukup banyak jenisnya. Disetiap daerah kadang memiliki kepercayaan berbeda satu sama lain. Tapi pada dasarnya sama. Menyikapi fenomena ini, berikut ini penulis akan menampilkan sebuah keterangan hukum yang belum banyak diketahui masyarakat luas berkaitan dengan kepercayaan, takhayyul atau ritual-ritual aneh yang banyak muncul di tengah masyarakat:

(مسألة) إذا سأل رجل اخر هل ليلة كذا او يوم كذا يصلح للعقد او النقلة فلا يحتاج إلي جواب لان الشارع نهي عن اعتقاد ذلك وزجر عنه زجرا بليغا فلا عبرة بمن يفعله. وذكر ابن الفركاح عن الشافعي انه ان كان المنجم يقول ويعتقد انه لايؤثر الا الله ولكن أجري الله العادة بأنه يقع كذا عند كذا . والمؤثر هو الله عز وجل. فهذه عندي لابأس فيه وحيث جاء الذم يحمل علي من يعتقد تأثير النجوم وغيرها من المخلوقات . وافتي الزملكاني بالتحريم مطلقا. اهـ

“Apabila seseorang bertanya pada orang lain, apakah malam ini baik untuk di gunakan akad nikah atau pindah rumah maka pertanyaan seperti tidak perlu dijawab, karena nabi pembawa syariat melarang meyakini hal semacam itu dan mencegahnya dengan pencegahan yang sempurna maka tidak ada pertimbangan lagi bagi orang yang masih suka mengerjakannya, Imam Ibnu Farkah menuturkan dengan menyadur pendapat Imam syafii : Bila ahli nujum tersebut meyakini bahwa yang menjadikan segala sesuatu hanya Allah hanya saja Allah menjadikan sebab akibat dalam setiap kebiasaan maka keyakinan semacam ini tidak apa-apa yang bermasalah dan tercela adalah bila seseorang berkeyakinan bahwa bintang-bintang dan makhluk lain adalah yang mempengaruhi akan terjadinya sesuatu itu sendiri (bukan Allah)”. [ Ghayat al Talkhis al Murad Hal 206 ].

Aspek lain yang juga bermasalah dalam sebuah kepercayaan itu adalah adanya kemungkaran yang timbul dalam pelaksanaannya. Seperti membawa keranda oleh kaum perempuan yang hukum asalnya makruh, tapi bisa berubah haram ketika menimbulkan fitnah, membuka aurat dan timbulnya mungkarat yang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *