Artikel

PENGARUH KITAB KUNING PADA KEMAJUAN BARAT

Kitab kuning selama ini hanya identik dengan ilmu pengetahuan agama yang dipelajari di bangku-bangku pesantren. Pelajar kitab kuning sendiri dianggap sebagai golongan konservatif yang tidak memiliki sumbangsih besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern. Bahkan pemikiran yang berkembang di lingkungan pesantren dianggap sudah basi dan tidak relevan untuk kehidupan sosial-kultural saat ini. Anggapan ini tentu sangat keliru dan terburu-buru.

Munculnya cara pandang yang sempit terhadap pemikiran pesantren – yang sebenarnya kaya dan luas – barangkali karena pelajar kitab kuning yang tampak dimuka umum hanya menekuni bidang keagamaan seperti ilmu kalam, fiqh, dan tasawuf, sehingga pelajar kitab kuning tampaknya tidak memberikan sumbangsih keilmuan apapun terhadap kemajuan ilmu saat ini kecuali Islam itu sendiri. Padahal jika ditelaah secara serius, kitab kuning yang diajarkan di pesantren adalah karya besar para ulama yang banyak memberi inspirasi dan pengaruh sangat besar bukan hanya pada Islam tapi juga terhadap corak pemikiran filsafah yang berkembang di barat dari era renaisance sampai sekarang. Tokoh-tokoh besar filsafah Barat seperti rene descartes, David Hume, immanuel kant, hingga blaise Pascal pada dasarnya berguru pada ulama besar umat Islam seperti Imam al-Ghazali, Ibnu Rusyd, al-Khawarismi, al-kindi dan lain-lain.

Rene descartes, tokoh filsafah terbesar yang dianggap paling berpengaruh terhadap perkembangan filsafah modern mungkin tidak akan pernah dikenang sejarah seandainya tidak pernah menelaah kitab al-munqid min al-dhalal, karya al-Ghazali. Hal ini karena gagasan Rene Descartes tentang skeptisisme sangat mungkin dipengaruhi imam Al-Ghazali, bahkan boleh jadi Rene Descartes sengaja mengadopsi pemikiran imam Al-Ghazali lalu mengakuinya sebagai buah pemikirannya sendiri.

Prof. Dr. Mahmoud Hamdi Zakzouk dalam disertasinya yang kemudian ringkasannya diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul ‘Manhaj al-Syak bayna Al-Ghazali wa Decart’ (Metodologi Skepktis antara Al-Ghazali dan Descartes) menunjukkan bahwa Rene Descartes dipengaruhi oleh pemikiran yang dikembangkan oleh Imam Ghazali tentang teori skeptisisme (al-Syak) yang ditulisnya dalam bukunya al-Munqiz min al-Dhalal’ (Penyelamatan dari Kesesatan). Prof. Dr. Zakzouk menceritakan bahwa beliau melakukan penelitian ke perpustakaan pribadi Rene Descartes dan menemukan karya al-Ghazali yang berjudul “al-Munqid Min al-Dhalal” yang sudah ada catatan pinggir. Maka tidak berlebihan kalau kita menyebutkan bahwa Rene Descartes menjadi filsuf tenar di era modern karena “ngaji kitab al-Munqid Min al-Dhalal”.

Di pesantren sendiri, karya Imam al-Ghazali sudah pasti banyak kita temukan, bahkan sudah barang tentu menghiasi rak perpustakaan pesantren dan lemari santri. Termasuk karya Imam al-Ghazali al-munqid min al-dhalal. Kitab ini merupakan karya Imam Al-Ghazali yang menjelaskan tentang karir intelektual beliau dalam menekuni berbagai bidang ilmu sampai perjalanan uzlah beliau menuju tasawuf. Dalam kitab al-munqid min al-dhalal ini beliau menceritakan bagaimana beliau memulai perjalanan uzlahnya dengan meragukan berbagai disiplin ilmu yang sudah beliau selami. Beliau menyebutkan bahwa kebenaran yang bersumber dari rasio dan inderawi tidak semuanya bisa dipercaya. Otentisitas keduanya masih perlu diragukan. Beliau kemudian menjelaskan kelemahan dua perangkat ini; akal dan inderawi.

Tampaknya penjelasan imam Al-Ghazali ini sangat berpengaruh terhadap tumbuhnya pemikiran filsafah modern di barat. Terutama pada tokoh besar filsafah Perancis, Rene Descartes yang penulis urai disini. Tokoh besar dalam filsafat ini di tengarai banyak memberi pengaruh besar bagi para pemikir dan para filsuf di era modern hingga kini. Secara tidak langsung gagasan besar para pemikir Barat saat ini dipengaruhi oleh karya Imam al-Ghazali dalam kitabnya Al-Munqid Min al-Dhalal. Selain kitab itu, karya imam Al-Ghazali yang lain dibidang filsafah dan tasawuf juga banyak memberi pengaruh pada banyak tokoh kelas dunia serta kemajuan yang dibangun saat ini.

Banyak tidak menyadari bahwa pengaruh kitab kuning turut memberi sumbangsih keilmuan dan pemikiran bagi dunia secara luas. Hanya saja tokoh dan pemikir Barat cenderung menyembunyikan dan menutup rapat keilmuan yang telah dipelajarinya dari kitab kuning.

Oleh: Moh. Jufriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *