Artikel

PENGARUH MEMBACA DALAM MENGUBAH PETA SEJARAH

Membaca memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap jiwa dan pikiran kita. Pengaruh tersebut bisa berlangsung secara berangsur-angsur atau spontan. Membaca memang bisa mengubah cara berfikir seseorang yang semula gelap menjadi terang atau sebaliknya. Dalam skala yang lebih besar membaca juga bisa mengubah suatu komunitas yang semula ramah menjadi agresif. Membaca mendorong orang-orang untuk bergerak menciptakan revolusi besar. Bahkan revolusi dunia saat ini dipengaruhi oleh manusia yang gemar membaca dan mengembangkan berbagai keilmuan yang ditulis oleh generasi sebelumnya.

Pada era kejayaan Islam di masa Abbasiyah, Al-Makmun (salah satu raja bani Abbasiyah yang berpengaruh) pernah melakukan penyiksaan besar-besaran terhadap semua ulama, hal itu (sekali lagi) karena pengaruh membaca. Semarak membaca buku filsafah waktu itu telah mengubah ideologi sebagian tokoh umat Islam menjadi sangat rasional, (kalau era sekarang barangkali disebut liberal). Buku-buku Yunani yang sudah lusuh tak pernah disentuh di era Romawi menjadi bersinar kembali ditengah-tengah umat Islam. Sains berkembang luas. Penemuan besar dirancang. Buku-buku filsafah sangat digemari sehingga melahirkan banyak tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Sina, Alkindi, Alfarabi, dan Alkhawarizmi. Membaca telah mengubah dunia Islam menjadi cemerlang dan jaya (dari sisi pengetahuan sains). Islam tidak hanya kaya dengan ilmu keagamaan, tapi subur dengan beragam disiplin ilmu pengetahuan. Tokoh ilmuwan Islam dunia seperti Ibnu Sina memiliki kontribusi besar dalam menuangkan gagasan ilmu kedokteran, Jabir Ibnu Hayyan populer sebagai pakar bidang kimia, al-Khawarismi tumbuh melahirkan ilmu matematika al-Jabar. Ibnu Khaldun mahir sebagai sejarawan dan sosiologi, sederet ilmuwan-ilmuwan Islam lainnya turut hadir mewarnai kemajuan besar dalam Islam.

Kekayaan ilmu yang telah dihadirkan sedemikian besar oleh ulama dan pemikir Islam di era itu lambat laun diperhatikan oleh orang-orang barat yang awam. Bangsa Eropa mulai berdatangan untuk belajar dan membaca pemikiran-pemikiran filsafah Ibnu Sina, Alkindi, Alfarabi, dan Ibnu Rusyd sehingga mereka bangkit perlahan. Ketika Islam jatuh, semarak membaca umat Islam kian merosot. Eropa justru mengambil alih. Eropa tekun dan ulet membaca berbagai disiplin keilmuan yang telah diwariskan umat Islam. Pengaruhnya kemudian adalah munculnya revolusi demi revolusi yang dikumandangkan di era renaisance. Buku bacaan di telaah secara besar-besaran. Rasionalitas berkembang pesat. Gereja di sudutkan. Ilmu pengetahuan di dewakan. Minat pada pengembangan sains dan teknologi terus digelorakan.

Tapi Islam tidak mati. Ulama tetap merawat budaya membaca yang telah diwasiatkan oleh generasi sebelumnya. Kendati tidak semua ilmu dikembangkan dan dibaca, para ulama tetap membaca warisan ilmu keislaman yang telah mengakar kuat sebelumnya. Sehingga pengaruhnya kemudian Islam terus terpelihara ajarannya dari distorsi perubahan sejarah. Buku-buku filsafah yang sempat digandrungi ilmuwan Islam di masa sebelumnya, kemudian dikritisi oleh ulama yang tekun menelaah Islam Ahlussunnah, sehingga yang Jaya kemudian adalah tradisi pemikiran Ahlussunnah bukan tradisi pemikiran muktazilah. Hal ini tentu berbeda dengan kaum kristen Eropa yang kehilangan orisinilitas ajaran agama kristennya, karena lebih menonjolkan revolusi sains dan pengetahuan alam. Bangsa Eropa terlalu gemar membaca filsafah dan sains, sehingga menyudutkan agamanya. Akhirnya ketika ilmu pengetahuan sudah tumbuh di Eropa, agama kristen (karena sadis dalam menerapkan hukum kekristenan) akhirnya digugat lalu diliberalkan. Saat ini gereja mungkin hanya ramai dihadiri pada perayaan natal.

Pada abad 20, ideologi komunis digagas oleh Karl Marx. Bukunya yang berjudul Das Kapital laris dijual. Orang-orang yang gemar membaca filsafah berhasil dipengaruhi oleh buku Das Kapital yang yang ditulisnya. Kebencian terhadap agama tumbuh di tengah-tengah masyarakat komunis, karena buku yang ditulis Karl Marx tersebut menginspirasi pembacanya untuk anti pada agama. Karl mark menawarkan ideologi materialime yang mengembirakan orang yang lapar, tapi mengharuskan ideologi ketuhanan diruntuhkan. Sebagian masyarakat yang akses bacaan agamanya minim akhirnya terbuai ideologi komunisme, dampaknya di Indonesia para ulama dan santri banyak dibunuh dan dibantai. Komunisme tumbuh subur, buku-buku kiri yang mempersoalkan agama mulai diminati.

Kini di abad millenium, akses membaca beragam keilmuan sudah melimpah ruah. Internet menyediakan beragam akses keilmuan yang bisa dicari sesuai selera. Buku-buku dan kitab-kitab dalam format pdf dan aplikasi bacaan lain bebas diakses dan dibaca kapan saja. Naifnya, kegemaran membaca masyarakat tidak juga tumbuh semarak. Khasanah keilmuan yang kini mudah diakses tidak menumbuhkan minat untuk dijelajahi. Minat membaca mungkin hanya ada dikalangan warganet ketika ada berita viral di sosial media. Naif sekali.

Oleh: Moh. Jufriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *