Artikel

PENJAJAHAN BARAT DIBALIK ISU RADIKALISME

Isu radikalisme dan terorisme dalam Islam selalu hangat diperbincangkan sejak runtuhnya gedung kembar WTC (Word trade center) pada 11 September 2001. Terorisme menjadi musuh bersama yang mendapatkan perhatian dunia setelah tragedi itu. Barat sukses mengelabui dunia untuk memusuhi terorisme dalam Islam. Gara gara gedung itu, media Barat gencar memberikan stigma buruk terhadap Islam. Padahal setengah abad sebelumnya aksi pengeboman dua kota besar di Jepang oleh Barat justru tidak pernah diberitakan sebagai aksi terorisme, bahkan dianggap sebagai gejala awal kemajuan teknologi.

Barat Pasca tragedi WTC, memang kerap memotret Islam sebagai agama yang radikal. Hal ini diperkuat dengan aksi teror yang dilancarkan kelompok radikal dalam Islam sendiri beberapa tahun terakhir. Wajah Islam yang toleran seolah hilang, tertutup oleh aksi terorisme yang selalu membawa simbol-simbol Islam. Barat memang tengah bermain menggiring opini publik agar benci dan anti terhadap Islam. Potret Barat tentang Islam itu kini telah berhasil mempengaruhi banyak kalangan di pemerintahan. Sehingga tidak mengherankan jika ada tokoh pemerintah yang anti terhadap Arab, anti jilbab bahkan anti al-Qur’an, karena Arab, jilbab dan al-Qur’an seolah cermin paham terorisme.

Kesalahan berfikir tentang islam ditubuh umat islam sendiri merupakan musibah yang diakibatkan oleh pengaruh media Barat yang memandang Islam sebagai agama yang membawa gerakan teror dan kekerasan. Padahal di barat sendiri tidak semua non-muslim memahami Islam secara subjektif dan merugikan. John L. Esposito, seorang profesor agama dan hubungan internasional justru menunjukkan pada Barat bahwa Islam tidak berwajah tunggal. Islam menurut Esposito adalah many faces(multi tafsir). Radikalisme dalam Islam menurutnya adalah mitos. John L. Esposito sendiri bahkan melakukan kritik pada Barat, karena dinilai mendanai dan menyediakan penasehat CIA untuk menyokong para mujahidin di Afganistan.

Citra Islam sebagai terorisme dan radikalisme adalah buatan Barat yang sengaja ingin menghancurkan wajah islam yang toleran dan penebar rahmat bagi semesta alam. Wajah Islam yang rahmatan lil-alamiin ingin disembunyikan dan dikaburkan agar yang berkuasa dan mengendalikan bumi bukan peradaban Islam tapi wajah Barat yang angkuh, sombong dan penjajah. Umat islam tidak boleh buta dari sejarah bahwa penjajahan global yang berlangsung selama berabad-abad telah dimulai sejak Columbus menjarah tanah Amerika dari suku Indian hingga berlanjut pada penjajahan Belanda menginjak-nginjak bangsa Indonesia. Saat ini penjajahan serupa dilakukan oleh Barat dengan menampilkan wajah terorisme pada Islam untuk menciderainya secara diam-diam.

Penting pula diingat bahwa gerakan radikal yang tumbuh di sebagian komunitas Islam saat ini bukan bersumber dari ajaran Islam, tapi karena banyak faktor. Faktor terpenting dari merebaknya terorisme itu sendiri adalah keangkuhan dan keserakahan Barat dalam mengeksploitasi umat Islam. Sehingga memunculkan perlawanan dan aksi kekerasan. Dan kendatipun lahir terorisme di tubuh umat Islam, spirit juangnya tentu terinspiraai dari dunia barat. Tokoh terpenting yang ikut terlibat menyuarakan radikalisme ini misalnya adalah Sayid Qutb yang dikenal sebagai ideolog organisasi ikhwanul muslimin. Buku-bukunya menurut Yusuf Qaradawi turut bertanggung jawab atas pesatnya gelombang Islam garis keras belakangan ini. John L. Esposito menulis bahwa sayid qutb semula kagum dengan barat, tapi kemudian berubah menjadi radikal dan membenci Barat, karena melihat wajah Barat yang subur dengan penyimpangan, rasisme dan kebebasan seksual. Sekali lagi, radikalisme dalam Islam tidak pernah ada. Sebab radikalisme muncul karena hegemoni Barat. Sekian.

Oleh: Moh. Jufriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *