Tasawuf

PENTINGNYA IKHLAS DI JALAN YANG LURUS

Ikhlas adalah menjalankan perintah murni karena Allah SWT tanpa mengharapkan pujian dari manusia. Manusia yang mengamalkan ikhlas murni karena Allah dan tanpa menoleh kepada orang lain akan selamat dari tipu daya duniawi. Manusia yang ikhlas akan tetap konsisten dijalan yang ditempuh meskipun beberapa godaan mengganggunya, sehingga ketika ada orang lain yang mencoba untuk merobohkan niatnya, dia tetap kokoh. Sedikitpun tidak membuatnya pesimis meski cacian bertubi-tubi begitu sadis. Manusia yang tidak ikhlas ketika menjalankan apapun seperti ibadah dan tugas akan cenderung tergoyahkan oleh ocehan orang lain dan mudah merosot dan lama-kelamaan dibiarkan terbengkalai, akhirnya hanya meninggalkan bekas penyesalan dikemudian hari.Terkadang, watak manusia ingin amalnya melimpah ruah dan menganggap dirinya sebagai makhluk yang paling banyak mengerjakan kebaikan, namun dari limpahan amal itu jarang sekali bertahan lama. Kadang kandas ditengah jalan disebabkan niat yang belum murni sepenuhnya karena Allah. Sebaliknya, ada juga watak manusia yang amalnya sedikit namun bertahan sampai ajal menjemputnya dikarenakan beramal murni karena Allah. Intinya, amal yang sedikit jika ikhlas karena Allah lebih baik dari amal yang banyak yang tidak ikhlas karena Allah.Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin karya al-Imam Ghazali dijelaskan:

المخلص من يكتم حسناته كما يكتم سيئاته

Artinya:

“Orang yang ikhlas merahasiakan kebaikannya sebagaimana dia merahasiakan kejelekannya”(Ihya’Ulumuddin. Hl 366 Juz 4)

Nyatanya, dizaman yang sangat canggih seperti sekarang, manusia cenderung menampakkan kebaikan dan ketaatannya di Sosial Media dan tak sekalipun menampakkan kejelekannya. Kita sering membaca ungkapan : “Alhamdulillah tahun ini bisa umrah”, “Alhamdulillah sudah melaksanakan Shalat tahajjud”, “Alhamdulillah hari ini bisa menyantuni anak yatim-piatu” dll.

Begitulah kiranya yang sering kita jumpai di Sosial Media saat ini. Jika dipandang dari sisi positifnya memang baik karena bisa memotivasi orang lain untuk juga melakukan amal yang sama. Namun pertanyaannya, apakah dengan cara tersebut kebaikan yang kita perlihatkan akan murni karena Allah? Dan apakah kebaikan yang kita umbar di Sosial Media tidak membutuhkan like, komen dan share dari orang lain? Jawabannya ada dalam diri kita masing-masing. Sejenak kita renungi Ayat Al-Quran di bawah:

قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا ﴿١١٠﴾

“Katakanlah. Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.”(Q.S. Al-Kahfi. Ayat 110).

Betapa malunya manusia yang setiap harinya beramal tanpa didasari ketulusan hati kepada Allah namun berharap bisa berjumpa dengan Allah di Surganya. Tidak mungkin manusia kotor seperti itu bisa bersatu dan berjumpa dengan dzat yang maha baik. Sebagaimana penjelasan Hadits Nabi:

إن الله طيب لايقبل إلا طيبا. الحديث

Artinya:

“Allah itu baik tidak akan menerima kecuali yang baik”.(Jawahir al-Lu’luiyyah Sarh Al-Arbain An-Nawawi. Hl: 103)

Dari berbagai sumber di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa semua amal baik akan sia-sia jika tidak didasari ikhlas karena Allah ta’ala dan jangan berharap bisa berjumpa dengan Allah SWT.Semoga kita digolongkan orang yang ikhlas dan beramal tanpa batas demi meraih pertolongan dari Allah yang maha luas. Aamiin ya rabbal alamin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *