Artikel

PENTINGNYA PERAN LITERASI DALAM TUBUH SANTRI

Sebuah keberhasilan dalam dunia pengetahuan adalah jika mampu mengupayakan suguhan pengetahuannya dalam upaya tercapainya misi pengabdi ilmu yaitu Intisyar (menyebarkan). Pencapaian seperti ini bukan wajah baru bahkan sudah barang pasti bagi pelajar dalam pengabdiannya sebagai Tholibil Ilmi sebagai bukti. Tidak cukup itu, banyak sekali cara atau metode asosiasi ketika terjun ke lapangan, bisa dilakukan dengan lisan atau dengan gaya bergengsi yakni dengan cara meluncurkan tulisan. Oleh karenanya, kedua metode tersebut tidak lepas dari dua aspek yang sangat dibutuhkan dalam mencari dan menyebarkan ilmu, yaitu; membaca dan menulis yang lebih dikenal dengan istilah “Literasi”

Mengarah pada definisi literasi, sebetulnya arti literasi dominannya lebih mengarah pada membaca dan menulis. Sebagaimana yang didefinisikan oleh para ahli diantaranya;
National Institute for Literacy mendefinisikan Literasi sebagai Kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.” Definisi ini memaknai Literasi dari perspektif yang lebih kontekstual. Dari definisi ini terkandung makna bahwa definisi Literasi tergantung pada keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu.

Education Development Center (EDC) menyatakan bahwa “Literasi lebih dari sekedar kemampuan baca tulis”. Namun lebih dari itu, Literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan skill yang dimiliki dalam hidupnya. Dengan pemahaman bahwa literasi mencakup kemampuan membaca kata dan membaca dunia.

Definisi tersebut menitikberatkan pada dua aspek yang sudah dijelaskan di atas berlandaskan makna secara tekstual. Keduanya sudah termaktub dalam al-Qur’an.


إقرأ باسم ربك الذي خلق. خلق الإنسان من علق. إقرأ وربك الأكرم.الذي علم بالقلم. علم الإنسان مالم يعلم

Dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu Maha Pemurah; yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S. al ‘Alaq:1-5).
Perspektif itu, seakan menjadi anjuran untuk menekuni kedua aspek tersebut yakni membaca dan menulis.

Lantas, pentingkah seorang santri membekali diri tentang dunia literasi?
Maka jawabannya adalah sangat penting sekali bahkan menjadi keharusan, mengingat santri adalah pemangku podium umat untuk memberi bimbingan kepada mereka supaya selamat.

Literasi merupakan salah satu wadah (media) untuk mengikat pengetahuan kita dan disuguhkan dalam bentuk tulisan supaya bisa dikonsumsi oleh banyak orang.

Kalau bisa diumpakan, literasi adalah madu yang diolah oleh lebah yang sedang ditunggu penikmat untuk dijadikan jamuan. Manfaat madu bagi penikmatnya, supaya menyehatkan dan pelindung dari segala penyakit yang ingin menyerang kebugaran tubuh kita. Maka siapa lagi yang akan menjadi pengolah madu tersebut kalau bukan santri yang menjadi tulang punggung dalam mengatasi tantangan khalayak publik dalam menjawab persoalan yang ganjal bagi masyarakat.

Literasi tak ubahnya pilar yang harus dikejar oleh kalangan santri. Hal ini, melihat pola pikir disekitar semakin meningkat, dan ambisinya beradu persepsi dalam mengkaji hal-hal yang sifatnya kesosialan, keragaman, perbedaan, keagamaan dan lain sebagainya, tentunya banyak pandangan bahkan ada sebagian yang melampaui garis central sesuai kaidah syariat . Ironisnya, desawa ini, sering kita jumpai tulisan-tulisan yang tidak searah dengan akidah yang sebenarnya, utamanya persepsi ekstrim yang keluar dari garis Ahlussunah wal Jamaah, dan sekarang kita sedang menyaksikan bersama di media cetak atau di media massa, mereka dengan mudahnya menyebar-luaskan paham gagalnya dengan media yang ada.

Maka dari itu, untuk mananggulangi masalah semacam itu, perlu kiranya menumbuhkan gairah literasi. Sebagaimana yang dilakukan ulama-ulama terdahulu dalam menghimpun hasil karyanya sehingga bisa disajikan seperti sekarang, pun juga dijadikan refrensi atau rujukan berbagai masalah yang kerap terjadi di kalangan umat.
Semoga bermanfaat.

Oleh: Kang Rijal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *