Artikel

PERLUKAH KEDUDUKAN HABAIB DIPERTANYAKAN?

Menghormati habaib merupakan akhlak leluhur umat Islam Ahlussunnah wal Jama’ah yang harus selalu dirawat, terutama oleh generasi akhir seperti sekarang. Hal ini karena mulai ramai isu habaib di sosial media yang mulai dipertanyakan kedudukannya, bahkan direndahkan statusnya. Habaib kata mereka ini bukan manusia spesial yang harus didewakan juga habaib bukan nabi yang terpelihara dari dosa dan kesalahan, bahkan ada yang mencoba mengkaburkan kedudukan habaib di dalam hadits dengan menampilkan argumentasi yang berlapis-lapis bahwa keturunan nabi yang ada sekarang bukanlah ahlul bait yang mendapatkan posisi khusus dari Rasulullah.

Pada dasarnya upaya untuk merendahkan habaib, terutama HRS yang ramai diperbincangkan kalangan elit hingga akar rumput akhir-akhir ini, berawal dari rasa tidak suka sebagian kalangan terhadap model dakwah atau ideologi habaib tersebut, sehingga kalangan ini selalu merasa risih. Cara-cara tak wajar kadang digunakan oleh kalangan ini untuk mengelabui habaib yang tidak disukainya. Ketika habib ini suatu kali mengungkapkan satu kesalahan, kalangan yang kontra ini tampaknya menemukan alasan yang shorih untuk memperburuk citranya dimedia. Fenomena ganjil ini sudah biasa. Kesalahan kecil seorang tokoh yang dibenci cenderung dibesar-besarkan. Sementara kesalahan besar yang dilakukan tokoh yang dikagumi justru kerap ditutup-tutupi. Disini kita melihat ada ketimpangan pemberitaan yang sangat tidak adil.

Memang HRS atau habib yang lain bukanlah nabi, bukan pula malaikat. Secara fisik sama seperti manusia pada umumnya. Habaib memang tidak Maksum. Kata-katanya boleh jadi ada kesalahan dan jika memang salah dalam perspektif Islam sudah jelas tidak boleh diikuti. Tapi satu hal penting yang tidak boleh diabaikan oleh siapapun bahwa pada diri habaib ada darah Rasulullah saw. Inilah yang membuat para habaib memiliki keunggulan dibanding manusia pada umumnya. Sebagai umat nabi Muhammad – jika memang masih ingin diakui sebagai umatnya – bagaimanapun tetap wajib menghormati dan memuliakan dzurriyahnya, kendati ada sebagian dzurriyah nabi yang status sosialnya berbeda dengan yang lain. Tinggi atau tidaknya status sosial bukanlah ukuran untuk merendahkan kehidupan habaib.

Para habaib seperti apapun sudah termaktub dalam firman Allah dan sabda Rasulullah berikut:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا [الأحزاب : 33
“Sungguh Allah menghendaki untuk menghilangkan kotoran dari kalian Ahlul Bait dan dan membersihkan kalian dengan benar-benar bersih.” (QS. Al-Ahzab: 33).

Juga firman Allah Ta’ala:
قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى [الشورى : 23]
“Katakanlah (Muhammad): Aku tidak memintakan pahala bagi kalian kepada Allah kecuali dari mencintai keluarga.” (QS. Al-Syura: 23)

Sabda Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam:
أَحِبُّوا اللَّهَ لِمَا يَغْذُوكُمْ مِنْ نِعَمِهِ وَأَحِبُّونِي بِحُبِّ اللَّهِ وَأَحِبُّوا أَهْلَ بَيْتِي بِحُبِّي (رواه الترمذي
“Cintailah Allah karena nikmat yang diberikan kepada kalian cintailah aku karena kecintaan (kalian) kepada Allah, dan cintailah Ahlul Baitku karena kecintaan (kalian) kepadaku.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Segala sesuatu ada asasnya, dan asas islam adalah mencintai Rasulullah dan ahli baitnya.” (HR. al-Tirmidzi)

Juga sabda Rasulullah saw:

وَإِنِّى تَارِكٌ فِيكُمُ الثَّقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ ، فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ ، فَتَمَسَّكُوا بِكِتَابِ اللَّهِ وَخُذُوا بِهِ وَأَهْلَ بَيْتِى أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى (رواه الدارمي)
“Sungguh aku meninggalkan kepada kalian dua muatan. Yang pertama Kitabullah, didalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka berpeganganlah kalian dengan Kitabullah dan kukuhlah dengannya; serta Ahlul Bait-ku. Aku membuat kalian mengingat Allah dalam Ahlul Bait-ku.” (HR. al-Tirmidzi)

Penulis tak perlu mengurai panjang lebar ayat al-Quran dan hadits diatas. Ada banyak penulis lain yang sudah mengembangkannya melalui analisa tafsir dan syarah hadits berdasarkan uraian ulama Ahlussunnah. Disini penulis hanya ingin menegaskan bahwa al-Quran dan hadits sudah menuntun kita untuk menaruh hormat, bahkan cinta kepada kepada Nabi, keluarganya serta keturunannya. Keturunan nabi ini oleh sejumlah ulama sudah tercakup dalam ayat al-Qur’an dan hadits diatas sebagaimana disebutkan oleh ahli fiqh dan ahli hadits ternama, Imam Muhyidin An-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, juz 3 hlm. 466)

Disini jelas bahwa kemuliyaan habaib sudah tak perlu di persoalkan. Jika hari ini ada yang mempersoalkan kedudukan habaib tentu keislamannya harus dipertanyakan.
Sebab hal ini tidak pernah di sangsikan oleh para ulama dari generasi salaf hingga kontemporer. Bahkan para ulama Ahlussunnah sering mengingatkan umat islam agar memuliakan habaib tanpa harus pandang bulu. Para habaib harus dihormati seperti apapun profesi yang ditekuninya. Habaib adalah manusia yang didalam dirinya ada darah Rasulullah yang mengalir. Tanpa harus mengeluarkan dalil yang berlapis-lapis memang sudah seharusnya umat nabi Muhammad menghormati keturunan nabinya.

Jika ada orang yang merasa risih dengan umat islam yang menghormati keturunan Rasulullah, tentu ini aneh dan akal sehatnya sedang bermasalah, sehingga perlu dibedah. Umat islam yang jiwanya stabil, spiritualitasnya normal, keilmuannya mapan tentu sangat tidak etis jika ditengah suasana yang selalu gelap oleh berita miring masih saja terprovokasi oleh segelintir orang tak berkelas yang merendahkan habaib. Sebab masalah gugatan otentisitas habaib yang dilakukan oleh sementara kalangan tampaknya memang berangkat dari kebencian yang berlebihan. Sebab semenjak lama gugatan semacam itu tak pernah muncul ke permukaan. Baru tumbuh dan panas baru-baru ini pasca kepulangan HRS.

Kita memang miris melihat fenomena kecil yang tiba tiba menggelembung seketika. Isu HRS yang sebenarnya kecil menjadi besar hanya karena disorot media secara berlebihan, sehingga semua sorot mata tertuju pada satu arah dan melupakan arah yang lain. Jika pemerintah dan segenap media misalnya, saat ini hanya mengamati satu sosok ini tentu ada banyak sosok lain yang merugikan negara, bahkan agama yang dibiarkan bebas begitu saja. Sebagai bangsa besar seharusnya kita tidak perlu membuang-buang waktu untuk membidik satu arah dan mengabaikan hal lain yang lebih urgen untuk di selesaikan dengan baik.

Oleh. Moh. Jufriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *