Artikel

PESONA KIAI DIMATA SANTRI

Santri memiliki tradisi tersendiri yang tidak ditemukan di dunia pendidkan lain. Santri adalah aroma wangi yang memancarkan sinar keindahan di tengah-tengah masyarakat. Santri adalah idola milenial yang eksis terhadap tantangan dunia digital yang semakin hari semakin sengit. Santri adalah sub kultur masyarakat yang memiliki jati diri tersendiri, tanpa imitasi dari pihak lain. Santri adalah sosok yang pola hidupanya sederhana, tanpa atribut dan simbol-simbol apapun yang dibuat-buat. Santri memiliki cita rasa tersendiri dibanding anak didik di dunia lain yang tidak dididk di pesantren. Santri dan pesantren adalah dua entitas kultural yang telah lama mewarnai dinamika kehidupan bangsa dan negara.

Jauh sebelum Republik Indonesia lahir, pesantren telah memberikan kontribusi positif pada masyarakat Indonesia yang terkenal heterogen dan majmuk yang terdiri dari multiras, multibahasa, multientik dan multiagama. Tidak banyak negara-negara lain di dunia yang memiliki pesantren sebagai aset bangsanya seperti Indonesia.
Sekitar enam ratus tahun silam, pesantren telah memainkan langkah strategis, tidak hanya dalam aspek pendidikan, tapi juga perlawanan pada kaum penjajah kolonial. Jika kita melacak data sejarah, maka sungguh peran santri dan pesantren atas lahirnya Republik ini begitu besar. Bahkan Kiai Wahid Hasyim, santri salaf asal Jawa Timur adalah bagian dari tim sembilan yang mencetuskan Republik. Tidak sedikit tokoh-tokoh pesantren yang dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Dibalik auranya yang sederhana, santri menyimpan mutiara berharga sebagai anak bangsa. Antara kiai, pesantren dan santri adalah setali tiga uang yang tidak dapat dipisahkan antar satu dengan lainnya. Pesona kiai, pesantren dan santri tak pernah tuntas diteliti oleh para ilmuwan dari berbagai belahan dunia. Selalu ada kejutan dan kisah-kisah heroik dalam diri kiai dan santri.

Gus Dur mengatakan bahwa pesantren adalah lembaga swadaya masyarakat yang sesungguhnya. Sebuah lembaga yang lahir dari masyarakat dan untuk masyarakat. Pesantren memiliki kemandiran kuat dalam hal finansial dan managemen. Pesantren tidak tergantung pada uluran tangan pemerintah dan bantuan lembaga lain yang memiliki motif tertentu. Masyarakat dan pesantren memiliki keunggulan khusus dalam managemen keuangan hingga pesantren tersebut mampu berdiri tegak guna memenuhi operasional kegiatannya. Santri sebagaimana uraian di atas, memiliki selera unik yang tidak ada di lembaga lain. Santri memiliki bentuk solidaritas sosial tinggi, akrab antara sesama, gotong royong, rukun, harmonis dan tidak elitis dalam kehidupan sehari-hari. Tempat tinggal mereka sederhana, bahkan ketika tidurpun tanpa bantal. Asrama tempat tinggal santri adalah rumah mereka ketika di pesantren. biliknya yang sempit dihuni belasan orang hingga ruangan penuh sesak. Uniknya santri tidak mengeluh bahkan menikmatinya sebagai sebuah sejarah hidup. Kehidupan santri yang tak mengenal latar belakang maupun status sosial. Siapapun mereka, ketika sudah masuk pesantren, tanpa atribut apapun dia adalah sama dengan santri lain. Tidak pandang dia putra kiai atau putra tokoh, atau orang kaya. Di pesantren, santri berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Mungkin hal ini tampak asing bari mereka yang bukan santri.

Santri juga mengeja kitab kuning sebagai basis penguatan nalar intelektualnya. Kitab kuning bagi santri tak ubahnya bagaikan sambal ketika menikmati hidangan. Kitab kuning adalah ciri khas tertinggi dalam seluruh rangkaian pendidikan yang digelar di pondok pesantren. Walaupun saat ini, pesantren telah menyediakan kajian-kajian akademis seputar wawasan kontemporer, tapi kitab kuning tetap menempati etalase tertinggi. Hampir seluruh pesantren di Indonesia, menekankan kajian kuning sebagai kajian utama dalam kegiatan belajar mengajar santri. Selain itu, santri tak jarang juga piawai dalam tradisi keilmuan lain, antara lain bahasa Inggris, matematika, biologi, fisika, astronomi dan sejenisnya. Hal ini menggambarkan bahwa santri adalah pribadi yang multifungsi dan multitalenta. Tanpa menyepelekan pendidikan lain diluar pesantren, multitalenta seperti itu jarang ditemukan bagi pelajar lain di luar pesantren.

Saat ini ditengah gencarnya teknologi informasi, status santri mulai bergerser. Santri yang mula-mula dikenal sebagai pribadi intelektual, cerdas dan teladan, diam-diam hal itu mulai terdegradasi. Tentu saja fenomina seperti itu merupakan sebuah persoalan tersendiri dan tantangan besar yang harus dijawab oleh santri sendiri. Memang, sebagai anak manusia, santri harus mampu beradaptasi dengan gelombang teknologi yang lahir dari rahim kapitalistik dewasa ini. Santri yang tidak berperan positif di tengah pandemik teknologi, maka dia akan tersisih dari rotasi global. Santri harus jeli membaca peluang untuk berbenah dan mencari strategi berlian guna mengarahkan teknologi itu ke dunia yang positif dan berguna untuk agama dan bangsa.


Salah satu kehebatan tertinggi yang ada dalam diri seorang santri adalah hubungannya yang kuat pada sosok kiai sebagai pengasuh. Kiai bagi santri adalah tokoh sentral, panutan, tuan guru, pemimpin dan pemangku tertinggi dalam struktur pondok pesantren. Kiai adalah segala-galanya. Kepada kiai santri itu mengaji, kepada kiai pula dia belajar. Pada kiai, santri menyambung hati mereka melalui dzkir dan surat al-Fatihah yang bergetar dalam sanubarinya. Kiai adalah simpul dan titahnya tidak dapat ditolak. Sam’an wata’athan.

Kiai tidak dapat disamakan dengan posisi rektor dalam sebuah kampus; atau disamakan dengan dekan dalam sebuah fakultas perguruan tinggi. Bukan berarti profesi rektor dan fekan itu tidak luhur, tapi memang hubungan emosional seorang santri dengan kiai begitu kuat. Siang malam santri tidak absen membaca surat al-Fatihah pada kiai untuk mengais barokah serta mengharap dirinya kelak berguna untuk umat. Ketika kiai itu sedang lewat dihadapan santri, maka santri tersebut tanpa terkecuali akan berdiri memberi hormat. Santri tidak mungkin berani duduk dimimbar yang menjadi tempat kiai saat menjadi imam sholat. Hal itu demi menjaga rasa hormat dan takdzimnya pada seorang kiai. Pada keluarga atau acak cucu kiai, santri mencium tangannya sebagai rasa khidamat yang tinggi. Keluarga kiai sama saja kedudukannya dengan kiai itu sebagai pimpinan tertinggi.
Ketika santri hendak berkeluh kesah pada kiai, maka santri itu menunjukkan kepalanya sebagai tanda hormat. Tidak berani menatap wajahnya. Bagi santri, kiai adalah orang yang paling hebat, tanpa ada duanya.

Kiai adalah figur kharismatik yang patut dijunjung martabatnya sebagai mata air yang menyejukkan sanubari santri dari jurang gelapnya kebodohan. Maka, dalam beberapa kisah disebutkan ada seorang santri yang tidak belajar justru hanya menjadi sopir pribadi kiai. Ada santri yang setiap hari hanya mengurus ternak kiai. Ada santri yang rebutan menata sandal (bakiak) kiai. Padahal tidak ada riset ilmiah apa kegunaan menata sandal kiai itu. Tapi santri itu dengan dengan penuh kemantapan hati dan keteguhan jiwa menyerahkan sepenuhnya untuk kiai. Mungkin berkat itu, ada seorang santri yang menjadi sopir pribadi kiai kelak setelah pulang menjadi orang alim dan disegani masyarakat. Ataukah seperti Kiai As’ad Samsul Arifin Situbondo yang lisannya diludahi Kiai Mohammad Hasyim karena sudah mengucapkan huruf ejaan “R” atau huruf ra’ dalam ejaan bahasa Arab dan ternyata ludah itu mujarab. Sembuh. Maka tidak heran ada pesantren yang pudar karena ditinggal kiainya atau mengalami kemunduran. Tidak ada santri tanpa kiai dan tidak tentu sebaliknya.

Kiai adalah gelar sosiologis yang disematkan masyarakat karena faktor keilmuannya yang mampuni ataukah karena dia dianggap berjasa dalam membangun peradaban masyarakat. lokal. Gelar kiai tidak pernah dicapai di dunia kampus atau lembaga pendidikan lainnya. Kiai adalah spirit sosial yang melahirkan masyarakat yang berakhlak, tenang, terdidik, berjiwa luhur, gotong royong dan humanis. Kiai selain dihormati santri juga dihormati masyarakat. Gelar kiai tampaknya lebih prestisius dibanding jabatan politis apapun yang disandang orang lain. Tapi meskipun demikian, para kiai-kiai pesantren tetap rendah hati dalam sikap dan jejaknya. Kiai-kiai pesantren setiap saat mendoakan santrinya. Semalam suntuk, bermunajat, bertafakkur kepada Allah demi masa depan santri-santrinya. Maka saat ini, santri harus gigih berupaya mengais berkah dari pesona kiai yang begitu berharga seperti intan permata, atau bahkan jauh lebih tinggi harganya dibanding mutiara dan emas permata sekalipun? Jangan lupa, para santri semua! Kembali ke pesantren tepat waktu, disini kiai menunggu kalian semua! Rindu!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *