Artikel

REFLEKSI JIHAD SANTRI: MENUMBUHKAN KEMBALI SPIRIT JIHAD YANG HILANG

Kita tidak bisa membayangkan seandainya kita hidup di era kolonial, apakah kita benar-benar berani menggempur penjajah dengan aksi heroik yang menggetarkan?

Kalau tidak karena resolusi jihad yang dikeluarkan ulama barangkali kita hanya diam menyaksikan penjajah itu merebut kembali tanah Indonesia yang kita cintai. Tanpa resolusi jihad itu santri tidak akan pernah muncul dalam catatan sejarah bahwa mereka pernah tampil heroik melawan penjajah. Tapi siapa yang menduga, ternyata Tuhan menghendaki lahirnya resolusi jihad untuk mengungkapkan jati diri santri yang tersembunyi, bahwa santri bukan hanya mereka yang duduk lugu diatas bangku. Santri sebagai generasi ulama justru memiliki mental kesatria yang siap terjun ke medan laga. Santri bisa menjadi pejuang yang layak di kenang dalam sejarah perang.

Resolusi jihad memiliki makna penting dalam membangun jiwa perjuangan. Resolusi jihad menumbuhkan kesadaran bagi santri bahwa jihad itu bukan hanya ada dalam sejarah kejayaan Islam. Jihad itu selalu ada dalam setiap pergantian zaman. Kiai Hasyim Asyari dan para ulama sangat menyadari bahwa gerakan jihad ditengah ancaman penjajah merupakan sebuah keharusan, sebab kalau tidak penjajah bukan hanya akan menindas santri dan masyarakat, tapi juga akan mengganggu stabilitas agama, ekonomi, sosial dan pendidikan, terutama pendidikan pesantren yang merupakan akar keilmuan dan spiritual Islam di Indonesia.

Saat resolusi jihad disebarkan santri menyambut keputusan itu dengan semangat perjuangan yang besar. Mereka tahu harus mengorbankan jiwa dan raga secara total. Tak ada waktu lagi selain perang. Mereka segera bergerak tanpa sedikitpun rasa takut pada todongan senjata. Senjata lawan yang telah banyak memakan korban bangsa itu tidak membuat mereka goyah untuk melawan, sebab prinsip hidup di depan mata mereka bukan hanya tentang Indonesia, tapi juga tentang Resolusi atau mati.

Setelah puluhan tahun sejak resolusi itu dicanangkan, saat ini kita perlu merenungkan kembali spirit jihad yang pernah bergelora di tengah-tengah santri dalam menumpas gerakan penjajah itu. Spirit Jihad untuk konteks kehidupan sekarang tentu sudah bukan lagi dengan mengangkat senjata ke medan laga. Jihad versi millenial bisa di implementasikan dalam konteks makna yang berbeda. Jihad sangat urgen saat ini paling tidak ada dalam tiga ranah penting :

Pertama: Jihad an-Nafs (Jihad melawan hawa nafsu. Jihad dalam arti melawan gejolak nafsu adalah jihad paling berat. Sebab pada kasus ini kita bukan melawan musuh yang tampak di depan mata. Jiwa melawan nafsu adalah jihad melawan diri, jihad melawan keangkuhan, kepongahan, serta ego yang bersarang dalam hati. Dalam hadits yang sangat masyhur disebutkan bahwa sepulang perang, nabi pernah dawuh; kita telah pulang dari jihad kecil menuju jihad besar. Sahabat terheran-heran adakah jihad yang lebih besar daripada perang berdarah-darah itu. Ditengah keheranan itu Nabi menuturkan bahwa jihad yang lebih besar daripada perang adalah jihad melawan nafsu. Pada jihad melawan hawa nafsu ini, kita tentu bukan hanya dituntut melawan kesenangan syahwat, tapi dalam arti yang lebih luas, kita dituntut untuk melawan ego keserakahan dan kebencian yang dengan ego itu kita senantiasa terjebak dalam kedengkian, sehingga kita mudah meluapkan emosi dan caci maki pada orang lain. Kasus seperti ini banyak kita jumpai di sosial media saat ini.

Kedua, Jihad al-Siyasiyah (Jihad melawan penyimpangan politik). Penyimpangan yang harus dilawan tentu bukan sekedar penyimpangan sosial, tapi penyimpangan ekonomi dan ketidak adilan yang marak terjadi saat ini. Tindakan korup dan penyelewengan kekuasaan yang dilakukan oknum pemerintah dan pejabat negara adalah salah satu bentuk penyimpangan yang harus dilawan oleh santri. Dalam mewujudkan jihad melawan penyimpangan ini, santri tentu tidak harus melakukan aksi unjuk rasa dan kekerasan, sebab hal itu justru menyimpang dari spirit jihad yang benar. Santri bisa melakukan aksi penolakan terhadap penyimpangan pemerintah dengan menulis dan menebarkan semangat kejujuran sesuai ajaran Islam yang ideal.

Ketiga, Jihad al-Bida’ (Jihad melawan kesesatan) Merebaknya aliran menyimpang yang meresahkan stabilitas ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah saat ini tentu membutuhkan aksi jihad dari santri untuk melawannya. Santri sebagai pelajar agama tentu memiliki bekal yang memadai untuk melawan penyimpangan aqidah yang dilakukan aliran-aliran sesat yang sangat mengganggu stabilitas keagamaan umat Islam, terutama di Indonesia. Sebab aliran sesat yang sering memperkosa dalil tidak mungkin bisa dilawan oleh pejabat politik, teknorat, atau pengusaha. Penyimpangan dalil hanya bisa dilawan oleh pemerhati dalil yang consern. Dan kemampuan dibidang ini hanya santri yang menekuninya. Santri harus berjihad melawan penyimpangan aqidah dan pemikiran sebagaimana KH. Hasyim Asy’ari dulu melakukannya. KH. Hasyim Asy’ari seperti yang kita tahu bukan hanya berjihad melawan aksi penjajah, KH. Hasyim Asy’ari juga paling terdepan dalam berjihad melawan aliran-aliran menyimpang yang mulai marak saat itu.

So, jihad tidak berhenti karena penjajah telah angkat kaki dari tanah pertiwi, jihad akan terus ada sebagaimana penyimpangan dan kesesatan terus ada dalam setiap pergantian masa.

Oleh: Moh. Jufriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *